Penertiban Pasar Minggu Ricuh, 1 Orang Tewas

Penertiban Pasar Minggu Ricuh, 1 Orang Tewas

Ratusan pedagang berdemonstrasi menutup rel kereta api di Stasiun Pondok Cina, Depok, Jawa Barat, Senin (14/1). Mereka menolak dilakukannya penggusuran kios termpat mereka berdagang yang berlokasi di stasiun. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

TEMPO.CO, Jakarta - Satu pedagang meninggal saat pelaksanaan penertiban di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis, 18 April 2013. Pedagang itu bernama Mina, 42 tahun. Diduga dia terkena serangan jantung. "Mungkin dia syok," ujar Sumhari, 40 tahun, adik korban.

Sumhari mengatakan saat petugas penertiban datang, kakaknya berusaha mempertahankan kios. Begitu juga dengan Sumhari. Bahkan, Sumhari sempat berhadap-hadapan langsung dengan petugas sehingga kena pukul dan jatuh pingsan. Mina yang menyaksikan kejadian itu menjadi syok. "Dia meninggal di tempat," kata Sumhari.

Hari ini jenazah Mina akan di bawa ke kampung halaman di Madura, Jawa Timur. Selain Mina, ada juga pedagang yang menjadi korban saat mempertahankan kiosnya. "Saya dipukul hingga jatuh ke rel," kata korban yang bernama Ucok, 37 tahun, itu. "Tangan saya patah."

Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasi Satu Jakarta, Agus Sutijono, mengatakan sudah memberi tahu rencana penertiban itu kepada pemilik lapak di Stasiun Pasar Minggu sejak Desember tahun lalu. "Bahasanya bukan digusur, tapi ditertibkan," ujar Agus.

Menurut dia, para pedagang itu hanya menyewa tempat dan saat ini masa sewanya sudah habis. Karena itu, PT Kereta berhak menggunakannya lagi. Agus menambahkan, tujuan dari penertiban ini yaitu agar para penumpang merasa nyaman ketika menggunakan kereta api. Dia memprediksi akan ada 1,2 juta pengguna kereta api pada 2016.

RENLY JAMES YOSUA

Topik Terhangat:
Ujian Nasional | Bom Boston | Lion Air Jatuh | Kasus Cebongan

Baca juga:

EDISI KHUSUS Tipu-Tipu Jagad Maya

Sunah Rasul Hakim Setyabudi dan Gratifikasi Seks

Sopir Hakim Setyabudi Tak Tahu Suap Seks Bosnya

@SBYudhoyono Follow Artis-artis Ini

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X