indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Kain Gendongan Anak di Konferensi Asia Afrika

Kain Gendongan Anak di Konferensi Asia Afrika

Sejumlah mahasiswi asing mengenakan pakaian nasional negara mereka di ruang utama Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, dalam rangka memperingati Konferensi Asia Afrika ke 57 (21/4). TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Bandung -Masyarakat di benua Asia dan Afrika punya kesamaan soal mengasuh bayi. Terutama dari pemakaian kain untuk menggendong anak. Keragaman dan keunikan kain gendong itu menjadi salah satu acara peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-58 yang sedang dipamerkan di Gedung Merdeka, Bandung, 19-24 April 2013.

Di ruangan atas Gedung Merdeka, dipamerkan sekitar 100 kain tenun dan batik dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah suku dari negara lain. Selain berbahan kain, alat menggendong anak itu ada yang terbuat dari kayu keras, seperti dipakai masyarakat Dayak Kalimantan Barat.

Kain gendongan hasil tenunan dari Jawa tergolong klasik, yaitu bercorak lurik dengan warna dominan kecoklatan. Motif garis-garis sepanjang kain, dipercaya sebagai perlambang hujan dan kesuburan. Harapannya jika digendong dengan kain itu, hidup anak kelak akan sejahtera.

Dari daerah Tuban, Jawa Timur, ada jenis kain gendongan batik Sayut Irengan yang bermotif seperti papan catur berwarna hitam atau biru gelap dengan putih alias poleng. Motif itu dianggap bisa menolak bala dan melindungi anak yang digendong.

Ada juga kain Sayut Bangrod yang ujung kainnya sama-sama dipilin dan dianyam menjadi hiasan. Adapun kain gendongan Pekalongan, Jawa Tengah, motifnya banyak dipengaruhi budaya Cina.

Kolektor kain Elsie Sunarya mengatakan, ciri khas kain gendongan Jawa biasanya bergaris pagar di kedua ujung kain. Motif itu dibuat bukan tanpa tujuan. "Ada pengharapan agar anak-anaknya bisa hidup baik," ujarnya, Jumat, 19 April 2013.

Kain gendongan yang terpengaruh budaya Cina, misalnya lokcan dan kilin, memakai motif binatang seperti naga atau burung, serta bunga. Harapannya, anak-anak kelak mewarisi sifat-sifat baik, seperti cakap dan kuat.

Di luar Jawa, masyarakat Papua lebih mengenal noken buat menggendong bayi. Noken bentuknya seperti tas jaring yang pegangan tasnya dilingkarkan ke kening dan seputar kepala.

Di masyarakat Dayak Kalimantan Barat menyebut alat penggendong dengan Ba'Beringaban atau ambinan, lebih keras lagi bahannya. "Kalau tak ada kayu, rotan pun jadi dengan dibentuk hingga berwujud setengah silinder," kata Elsie yang memamerkan kain-kainnya di acara tersebut.

Gendongan itu berlapis manik-manik dan gantungan cangkang keong berisi sisa tali pusar bayi, lonceng, koin, kerang, dan daun, fungsinya untuk menghalau roh jahat yang berniat mengganggu si anak.

Kain gendongan di Nusa Tenggara Timur berupa tenun ikat.Begitu pula masyarakat di Serawak, Malaysia,dan erta suku Akha yang tersebar di pegunungan Thailand.

Adapun kain gendongan anak suku Miao dan Bai di Cina lebih kaya ornamen dan motif. Salah satu tekniknya dikerjakan dengan cara seperti batik. Namun alat utamanya bukan canting, melainkan pisau yang ditorehkan ke atas kain berlilin. "Pisau itu jadi seperti pensil gambar, pembuatannya lebih repot dibanding batik," kata Elsie.

Kain gendong jenis Shuka buatan suku Maasai di Kenya yang berwarna merah terang bergaris hitam membentuk persegi empat, lebih sederhana dibanding kain gendong Kanga. Kain yang juga asal Kenya itu seperti kain-kain pakaian turis pantai dengan beragam warna dan motif seperti orang atau kembang.

Kekhasan kainnya ada di bagian tengah kain sepanjang 1-1,5 meter itu, yaitu rangkaian kalimat pepatah bijak dalam bahasa Swahili. Bunyinya seperti, serakahitu tak berguna, semuanya akan beres kalau saling cinta ke sesama, atau kita semua adalah penumpang dan Tuhan sopirnya.

Cara pakai kain gendong itu umumnya diikat melingkar silang ke tubuh, diikat ke depan atau ke belakang. Sedangkan posisi anak ada yang digendong di depan atau dibelakang. Ibu yang menggendong anaknya di belakang, biasanya para wanita pekerja di luar rumah.

Sebaliknya, para ibu rumah tangga di Indonesia, cara menggendong anak di depan. "Itu membangun keintiman kuat antara ibu dan anaknya lewat degup jantung, bukan dengan pengasuh seperti zaman sekarang," kata Elsie.


ANWAR SISWADI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X