Habis Geng Lama, Terbitlah Geng Baru

Habis Geng Lama, Terbitlah Geng Baru

Ilustrasi geng motor. TEMPO/Iqbal Lubis

TEMPO.CO, Yogyakarta - Geng-geng lama seperti Joxzin (JXZ), Trah Buthek (TRB), Q-Zruh (QZR), dan geng lainnya di Yogyakarta mulai meredup sejak tahun 1992. Kini geng-geng di Yogya berevolusi menjadi bentuk lain, yakni geng pelajar dari sekolah masing-masing yang mulai bermunculan.

Geng Oestad, salah satunya, berisi siswa-siswa asal SMA 1 Muhammadiyah Kota Yogyakarta. "Oestad hanya dari sekolah ini saja," kata Fathya Fikri, mantan Ketua I Ikatan Pemuda Muhammadiyah Ranting SMA 1 Muhammadiyah, Kamis, 18 April 2013 siang.

Oestad, kata dia, berdiri sekitar tahun 1997. Mereka kumpulan pelajar yang ingin menunjukan eksistensi diri saja. Di sekolah SMA Muhammadiyah lain, terdapat geng pelajar yang berbeda. "Kalau di Muha (SMA Muhammadiyah 2) namanya Ranger, di Muga (Muhammadiyah 3) namanya Grixer," kata dia.

Meski berasal dari sesama sekolah Muhammadiyah, menurut dia, tak jarang geng itu saling serang dan tawuran. "Suka ngumpul-ngumpul," kata dia. "Satu-dua kejadian menyerang ke sekolah."

Dengan cara menggandeng Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), menurut dia, pihak sekolah sebenarnya telah meredam keberadaan geng-geng pelajar. Siswa yang ketahuan ikut geng, dikeluarkan dari sekolah. Setidaknya sudah 5-6 teman seangkatannya sudah dikeluarkan sekolah gara-gara ikut geng.

Untuk meredam aktivitas tawuran pelajar, kata dia, IPM berupaya melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan. "Kami tak pernah menganggap mereka musuh, mereka teman kami juga," kata dia.

ANANG ZAKARIA

Topik Hangat:
EDSUS: PREMAN JOGJA |
Ujian Nasional | Bom Boston | Lion Air Jatuh | Serangan Penjara Sleman | Harta Djoko Susilo

Berita Terpopuler:
Kena Gusur, Warga Waduk Pluit Marah kepada Jokowi

Begini Tampang Tersangka Bom Boston Sesuai CCTV

Lion Air Jatuh, Boeing Beri Penghargaan Pilot

Jokowi Dilarang 'Nyapres'

Jokowi Tak Suka Ujian Nasional

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X