Tiga Sosok Preman Yogyakarta

Tiga Sosok Preman Yogyakarta

Ilustrasi preman. Photo-dictionary.com

TEMPO.CO, Jakarta - Ulil Amri, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengungkapkan ada tiga sosok preman yang pada era dulu dikenal sebagai pentolan preman di Yogyakarta. Ketiga sosok yang diungkap Ulil dalam penelitiannya itu didasarkan pada adanya hierarki, egalitarianisme, dan patron. Ketiga sosok ini mewakili ketiganya.

Yang pertama, kata dia adalah sosok bernama samaran Joko. ”Saya tak mau menyebut nama sebenarnya, silakan terka sendiri,” kata dia kepada Tempo, Jumat, 19 April lalu. Ulil mengatakan sosok Joko yang berasal dari salah satu kampung di Yogyakarta terkenal di seantero kota.

Sebagai preman dia memiliki aset kapital yang tidak sedikit, dari angkutan umum hingga mobil pribadi. Tapi, kata dia, orang ini sudah meninggal. Ulil mengatakan kekuasaan Joko berada di sekitar Jalan Malioboro, kemudian tempat perjudian dan prostitusi di Pasar Kembang.

Pada masa Orde Baru, Joko menjadi pentolan salah satu satuan tugas partai. Kedekatannya dengan partai inilah yang kemudian melejitkan namanya. Penampilan Joko, kata Ulil, sebenarnya biasa saja seperti orang Jawa kebanyakan. Namun sorot matanya tajam.

Kisah kehidupan hitam Joko dimulai pada 1980-an. Pria bertinggi 175 cm itu menikah di usia 17 tahun pada 1979. Anak pertamanya, seorang perempuan, lahir setahun kemudian. Dalam penelitian itu, Ulil menyebut entah sial atau tidak, Joko pernah terlibat baku hantam dengan seorang perwira tinggi militer di Yogyakarta. Dalam perkelahian itu, sang perwira tewas di tangan Joko.

Joko menjadi orang paling diburu oleh petugas keamanan di Yogyakarta setelah itu. Pria ini kemudian melarikan diri dan bersembunyi di Jombang. Dia menimba ilmu agama di sana. Namun tak sampai setahun, Joko kembali ke Yogyakarta. Keberadaannya langsung terpantau dan kemudian dia ditangkap.

Dalam penelitian Ulil, Joko tak berubah setelah menjalani masa hukuman. Bahkan boleh dibilang, sikapnya semakin menjadi. Bahkan, kata Ulil, Joko pernah membacok orang dengan celurit hanya lantaran cekcok mulut. Akibatnya, Joko kembali masuk bui selama tiga tahun lebih.

Bukannya tenggelam, nama Joko malah moncer di jagat dunia hitam Yogyakarta. Aksinya membunuh seorang perwira militer justru punya tempat tersendiri di kalangan preman di Yogyakarta. Malah hubungannya kian dekat dengan militer kala itu. Bahkan dia diangkat menjadi semacam kaki tangan tentara seperti agen rahasia yang dilengkapi pistol revolver.

Intelektualitas Joko malah kemudian terasah. Dia melanjutkan kuliah hukum di salah satu universitas di Yogyakarta. Seiring kemampuan finansialnya yang membaik, Ulil dalam penelitiannya mengungkap Joko kerap berpelesiran ke luar negeri.

Joko kemudian dikenal juga dekat dengan tokoh-tokoh agama di Yogyakarta. Dalam penelitiannya, Ulil menyebut Joko banyak berderma dan berperan besar dalam pendirian masjid di Yogyakarta.


 


Selanjutnya: Mas Kris


 


 


 


Berawal dari Judi Totor


 


 


 


Sosok preman ini menurut Ulil mewakili level tengah di kalangan preman di Yogyakarta. Dia merupakan anak dari seorang veteran pejuang kemerdekaan. Ayahnya menganut kepercayaan Protestan yang kemudian membawa pengaruh pribadi dalam perjalanan hidupnya.

Sang ibu, yang mula-mula adalah seorang muslim, telah berpindah keyakinan sejak dipersunting oleh ayahnya. Padahal, kakek Mas Kris atau ayah sang ibu adalah aktivis Muhammadiyah garis depan di Yogyakarta.

Mas Kris bersinggungan dengan dunia hitam ketika dia mulai membuka usaha judi kupon. Padahal, saat itu secara ekonomi dia sudah lumayan karena telah punya bisnis mobil omprengan dengan trayek Yogya-Prambanan. Mas Kris membuka bisnis usaha kupon berhadiah atau yang terkenal dengan judi totor dengan bertindak sebagai bandar.

Dia punya alasan kuat kenapa membuka bisnis itu. Menurut Ulil, Mas Kris beralasan, dia ingin membantu kehidupan ekonomi orang lain yang berada di bawahnya. Mas Kris, kata Ulil, juga merasa dirinya punya keahlian yang tidak dimiliki orang lain, yaitu menekuni usaha perjudian.

Berkubang cukup lama di dunia perjudian, Mas Kris akhirnya menutup usahanya itu. Bukan karena digerebek aparat atau masyarakat, usaha itu ditutup karena masalah ekonomi terkait dengan banyaknya uang yang harus dia setor ke aparat keamanan. Menurut Ulil, saat itu banyak aparat yang berjanji akan mengamankan bisnis haram itu asalkan mereka diberi uang.

Meskipun demikian, dari hasil bisnisnya itu dia juga telah mengembangkan bisnis legal seperti usaha bengkel. Mas Kris rupanya tak lama-lama berpisah dari bisnis judi. Hanya rehat beberapa saat, Mas Kris kembali ke bisnis judi. Bersama rekan-rekannya yang lain dia membuka tiga buah meja judi di salah satu pasar di Yogyakarta.

Usahanya itu berkembang seiring banyaknya pelanggan judi yang datang ke tempat itu. Seiring berkembangnya bisnis itu, Mas Kris yang bersahaja dan rendah hati makin disukai dan dihormati oleh siapa pun yang pernah bertemu dengannya.

Semenjak itu, Mas Kris pun sibuk juga bertemu dengan berbagai kalangan, dari pejabat pemerintah, aparat keamanan, hingga orang-orang partai politik dan wartawan. Mereka biasanya datang dengan satu tujuan: minta bantuan atau uang dari Mas Kris.


 


Selanjutnya: Mas Yono


 


 


 


Preman Bermodal Otot


Pentolan preman yang ketiga, menurut Ulil, adalah seorang pria yang disebutnya sebagai Mas Yono. Ulil mengatakan Yono mewakili sosok paling bawah di ranah premanisme, yaitu orang yang hanya mengandalkan kekuatan ototnya.


Wajahnya khas sebagai orang Jawa. Kulitnya sawo matang dan sudah tampak sedikit keriput, tapi tidak mengurangi penampakannya yang sangar. Suaranya besar dan serak. Meski posturnya tak ideal, dia memiliki otot yang kuat.

Sehari-hari dia bercelana pendek dengan kemeja ketat saat berjaga di salah satu pasar di Yogyakarta. Salah satu ciri lainnya adalah tato berlambang satu perguruan bela diri yang pernah diikutinya di tangan kanannya.

Mas Yono lahir di salah satu kampung di Yogyakarta. Dia berasal dari orang tua dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Keluarganya berjumlah delapan orang. Awal kehidupan kerasnya berawal ketika dia dikeluarkan dari sekolah setelah memukul seorang gurunya.

Sejak itulah dunia preman dijalaninya. Mencopet, mencuri, dan memalak orang-orang kerap dia lakukan. Bahkan dia pernah memimpin penyerbuan ke sebuah kompleks permukiman anggota militer di Yogyakarta karena tak terima temannya dipukuli oleh seorang anak tentara di sana.

Dia pun kemudian akrab dengan penjara. Saat bebas, dia dipekerjakan sebagai tenaga keamanan di Pasar Beringharjo. Dia pun mensyukuri itu karena sebelumnya dia hanya kuli di pasar tersebut.

Perjalanannya dalam dunia hitam dilakoninya kembali setelah dia membunuh seorang tentara. Untuk itu dia harus mendekam lama di penjara Wirogunan. Setelah bebas dia kemudian merantau ke Semarang dan Jakarta. Dia juga sempat ikut dalam aksi penjarahan pada masa peristiwa Malari 1974.

Yono kepada Ulil mengaku pergi ke Pacitan dan di sana dia menerima berbagai macam susuk yang membuatnya kebal. “Ada susuk berupa besi dan batu yang membuatnya kebal,” kata Ulil. Namun ancaman penembakan misterius preman pada era 1980-an membuatnya jiper. Dia kemudian bertobat.

Setelah malang melintang di dunia hitam, Yono kemudian bersinggungan dengan partai politik pada era 1990-an. Di sini bahkan dia sempat menduduki tempat terhormat ketika diminta menjadi komandan Cakra, yaitu satu pasukan elite Golkar yang berisikan preman dan mahasiswa.

Mas Yono, menurut Ulil, kini sudah melepaskan atribut premannya. Dia kemudian hanya menjadi penjaga keamanan di salah satu pasar di Yogyakarta. Yono kemudian menjadi orang kepercayaan Mas Kris.

JULI HANTORO

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X