indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Kisah Pekerja Tong Setan di Pasar Malam

Kisah Pekerja Tong Setan di Pasar Malam

Suasana Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) di Alun-Alun Kraton Yogyakarta, Selasa (22/1). PMPS merupakan pesta rakyat dalam rangkaian Upacara Sekaten atau peringatan Ulang Tahun Nabi Muhammad saw yang diadakan tiap tanggal 5 bulan Jawa yang jatuh 24 Januari 2013. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Krek..krek..krek. Helikopter itu berputar pelan, semakin cepat, lalu berhenti lagi. Dan asap hitam mengepul keluar dari mesin diesel. Buuuuzzz... Khairil Anwar menghela napas. "Ini dia masalahnya," kata pemuda 29 tahun itu ketika dihadapkan pada mesin diesel yang sekarat. Mesin itu merupakan penggerak permainan Helikopter Terbang.

Bob, panggilan Khairil Anwar, kemudian membuka kotak peralatan. Dikeluarkannya kunci Inggris. Ia memereteli mesin hingga ke "jantungnya", yang terbuat dari logam. Tepat seperti yang dibayangkannya. Silinder-silinder di dalam mesin tersumbat dan harus dibor ulang. "Ringnya berlubang dan haus," ujarnya, Senin, 22 April 2013.

Bob, yang memakai topi baseball terbalik, adalah salah seorang pekerja di Karya Putra Mandiri, usaha milik Mair Effendi, 56 tahun. Mair merupakan pengelola pasar malam dengan tujuh permainan. Termasuk permainan legendaris Tong Setan.

Tapi, saat Tempo menyambangi pasar itu Senin malam lalu di sebuah lapangan Rawa Lele, Jombang, Banten, tong itu sedang tidak ada. Sebab, alat dan juga pemainnya dipinjam mitra kerja Mair di Pandeglang.

Sebagai anggota rombongan selama dua tahun, Bob memiliki banyak keterampilan. Mulai dari mengoperasikan mesin diesel hingga peran akrobatik mendorong Ombak Banyu--wahana permainan seperti komidi putar--dia bisa.

Bob bergabung agak telat. Teman-temannya seperti Heru, 25 tahun, dan Supri, 30 tahun, sudah lebih dulu bekerja dengan Mair. Keduanya asli Serang dan Cilacap. "Kalau saya asli Jakarta," kata Bob, yang tinggal di bilangan Joglo, Jakarta Barat.

Sebelum menjadi bagian dari rombongan Mair, Bob adalah petugas kebersihan di sebuah perkantoran. Ia sebenarnya memimpikan profesi akademik, seperti akuntan atau bankir. Tapi, apa daya, ia hanya lulusan sekolah menengah atas.

Bagi dia dan teman-temannya, pasar malam adalah Dunia Fantasi versi kecil. Di tempat itu, Bob tidak benar-benar mengharapkan istirahat karena menikmati setiap harinya. Metode di sini, kata ayah beranak satu ini, sederhana. Yaitu latihan, latihan, dan praktek. "Seru," ujarnya.

Pekerjaan ini memaksa Bob dan pekerja lainnya bertahun‑tahun hampir tak pernah tidur di rumah. Kalaupun tidur, tempatnya tidak seempuk kasur. Hanya sebuah loket karcis dari besi tempat untuk berbaring. Kadang Bob juga tidur seadanya di bak truk, atau bahkan di atas wahana bermain. Kalau kangen istri dan anak, ia cukup komunikasi lewat pesan pendek atau telepon.

Hampir setiap bulan mereka berpindah "rumah". Di lapangan bola Rawa Lele itu, mereka akan tinggal sampai 7 Juni. Setelah itu berlanjut ke sebuah lapangan terbuka di Puri Beta, Ciledug. Pasar malam milik Mair beroperasi di wilayah Banten dan Jakarta.

Bulan ini, tidak terasa sudah 14 tahun Mair menjalani roda bisnis pasar malamnya. Selama itu ia bersedia berjam-jam berada di tempat terbuka, pada malam hari dan sedikit remang-remang. Pandangannya terkadang kabur pada siang hari karena kebiasaan itu.

Kegiatannya dimulai pada siang hari ketika anak buahnya mulai mempersiapkan wahana bermain. Ia mendatangkan anak buahnya dari berbagai kota. Awalnya, ia banyak merekrut dari wilayah Sumatera. Tapi kini, 15 pekerjanya kebanyakan dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Mair tertarik bisnis ini karena sewaktu menjadi sopir lintas Sumatera, Jawa, dan Bali selama 20 tahun, selalu melihat kemeriahan pasar malam di sepanjang jalur yang ia lewati, khususnya Pantai Utara. Semenjak itu ia berniat membangun bisnis ini sendiri. Modal awalnya Rp 150 juta. "Minjam bank, sisanya cari sana-sini," kata pria beruban ini.

Beberapa peralatan wahana bermain ia beli di Bandung dan Cikarang. Satu wahana bermain, semisal Ombak Banyu, harganya bisa mencapai Rp 40 juta. Sedangkan mesin diesel untuk menggerakkan kincir raksasa ia beli di daerah Jakarta. Untuk mengangkut peralatan superbanyak itu ia butuh 15 truk sewaan. "Untuk membangunnya lagi butuh waktu dua hari," katanya tertawa.

Bisnis ini ia jalani bersama istrinya, Hayati, 46 tahun, yang tampak bling-bling saat Tempo menemuinya. Tubuhnya penuh dengan perhiasan gelang dan kalung emas. Hayati bertugas mengatur gaji, uang makan, dan bonus bagi para pekerja.

Menurut Mair, sesuai kesepakatan dengan pekerjanya, keuntungan yang dihitung setiap hari, 25 persen, akan diberikan kepada pekerja. "Misalnya untungnya Rp 1 juta, maka pekerja mendapat Rp 250 ribu," kata Mair, yang berencana naik haji dua tahun lagi.

Bagi anak buahnya, Mair adalah pahlawan. Selain memberi pekerjaan, ia pernah memimpin suatu perkelahian dengan puluhan preman yang memalak anak buahnya di daerah Banten. Penyebabnya, kata Mair, meskipun sudah membayar uang keamanan, para preman itu selalu mengancam dan malah mengutil telepon seluler anak buahnya.

Kala itu, pentolan preman langsung diajaknya "gelut" di tengah lapangan. Tapi, karena keburu ciut, preman itu menyerah duluan dan berjanji mengembalikan barang curian yang dikutil anak buahnya. "Gue enggak takut, mbahnya preman selama makan nasi gue jabanin," kata pria beristri dua ini.

Preman memang menjadi kendala tersendiri bagi usahanya. Ia selalu menyiapkan puluhan juta untuk "jatah" mereka. Satu bulan penuh ia harus menyewa jasa keamanan dari organisasi masyarakat tertentu sebanyak 25 orang, agar aman. Itu belum uang "poles" buat polisi.

Hadangan lain usahanya adalah hujan dan banjir. Jika itu terjadi, wahananya akan sepi, dan ia harus merugi karena membayar uang makan pekerjanya, yang per hari Rp 30 ribu.

Ia mengatakan, kehidupan pasar malam tidak mengganggu kehidupan keluarganya. Kalau sempat, ia mengunjungi empat anaknya di daerah Ciledug. Pengalamannya memiliki pasar malam menjadi pelajaran amat bernilai. Ia tidak merasa sebagai bos karena juga turut memunguti sampah dari kolong-kolong tenda seusai pertunjukan. "Ini adalah rumah terbuka bagi pemuda yang mau bekerja keras," kata Mair.

Malam itu, pasar malamnya sepi sekali karena turun hujan. Beberapa hari sebelumnya, pertunjukan Mair bahkan enggak ada pengunjung sama sekali karena air menggenangi lapangan.

HERU TRIYONO

Topik terhangat:

Gaya Sosialita
| Susno Duadji | Ustad Jefry | Caleg | Ujian Nasional

Baca juga
Inilah Dinasti Politik Partai Demokrat

Susno Duadji Buron

Jika Susno Ditetapkan Buron, Kedaluwarsa 18 Tahun

Casillas ke Arsenal Jika Mourinho Masih di Madrid

Kejagung Buru Buronan Susno Duadji

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X