indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Penyelundupan 1.000 Pil Koplo ke Batam Digagalkan

Penyelundupan 1.000 Pil Koplo ke Batam Digagalkan

Kepolisian Resor Kota Kediri mengamankan 100 ribu butir pil koplo jenis double L dari seorang pemasok (10/10) TEMPO/Hari Tri Wasono

TEMPO.CO, Surabaya - Petugas Keamanan Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya, berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 1.000 tablet pil koplo ke Batam, Riau, Rabu siang, 1 Mei 2013. Dua pelaku penyelundupan, yakni Rifai, 29 tahun, dan Nadir, 23 tahun, langsung diamankan petugas bandara.

Kepala Departemen Keamanan Bandara Juanda, Sukirman, mengatakan, Rifai dan Nadir hendak berangkat menggunakan pesawat Lion Air JT 973 pada pukul 11.00 WIB melalui terminal domestik. "Saat barang bawaannya diperiksa x-ray, kami menemukan barang mencurigakan dalam tas pelaku," kata Sukirman, Rabu, 1 Mei 2013.

Kecurigaan petugas timbul karena tampilan layar monitor x-ray menunjukkan indikator ada benda tertentu dalam jumlah banyak. Petugas lalu mengamati dua orang pembawa barang tersebut secara saksama. "Ketika kami tanyai, pelaku yang berasal dari Pasuruan itu terlihat gugup dan tidak tenang," kata dia.

Petugas, kata Sukirman, kemudian membongkar barang bawaan pelaku dan menemukan benda psikotropika kategori daftar G dengan merek Carnophen. Setelah digeledah, di dalam tas pelaku ditemukan 10 bungkus obat-obatan berisi 10 strip. Setiap strip berisi 10 tablet, sehingga totalnya ada 1.000 butir.

General Manager PT Angkasa Pura I, Trikora Harjo, menambahkan, zat atau bahan adiktif yang terkandung dalam Carnophen bekerja pada sistem saraf pusat otak. "Efeknya, pemakainya akan merasakan euforia, kenyamanan semu, penurunan sampai hilangnya rasa nyeri. Selain itu, dapat menimbulkan ketergantungan," ujar Trikora Harjo.

Kepada petugas, Rifai dan Nadir mengatakan bahwa mereka pergi ke Batam untuk bekerja sebagai sales dan penjual kain, serta sales minyak wangi. Keduanya mengaku dititipi pil-pil tersebut oleh seorang lelaki bernama Andi.

"Saya kenal Andi di Pasuruan. Dia berangkat dulu ke Batam dan menitipkan barang ini ke saya," kata Rifai. Sebagai imbalan, kata Rifai, ia dan Nadir diberi tiket pesawat Surabaya-Batam. Tiket itu sudah dipesankan Andi dari Batam sebelum Rifai dan Nadir berangkat.

KUKUH S WIBOWO

Topik Terhangat:

Harga BBM |
Susno Duadji | Gaya Sosialita | Ustad Jefry | Caleg

Berita Terpopuler:

Di Persembunyian, Susno Punya Pengawal

Istri Eyang Subur Mengadu Ke Komnas Perempuan

Kerusuhan Musi Rawas Berlanjut, Dua Polsek Dibakar

Protes Lelang Jabatan, Lurah Warakas `Diserbu`

May Day, Ini 7 Tuntutan Buruh

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X