25 Buruh Panci Disekap, 3 Bulan Tidak Mandi

25 Buruh Panci Disekap, 3 Bulan Tidak Mandi

Para buruh pabrik pembuatan alat dapur yang berhasil dibebaskan polisi di Tangerang, Banten, (3/5). Mereka disekap selama 3 bulan dan disuruh bekerja oleh pemilik pabrik. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO.CO, Tangerang - Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitongan mengatakan penggerebekan pabrik panci alumunium di Desa Lebak Wangi, Kecamatana Sepatan, Kabupaten Tangerang, dilakukan setelah dua buruh yang berhasil kabur dan melapor ke Polres Lampung Utara dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Dua buruh asal Lampung itu sudah bekerja selama empat bulan di pabrik itu. “Mereka kabur karena merasa mengalami siksaan, perlakukan kasar, penyekapan dan hak mereka sebagai pekerja tidak didapatkan,” kata Shinto, Sabtu 4 Mei 2013.

Kedua buruh laki-laki tersebut, kata Shinto, bercerita kepada keluarganya. Dan dengan difasilitasi lurah setempat, mereka membuat laporan resmi di Polres Lampung Utara pada 28 April 2013. Bos pabrik panci tersebut, YK alias Yuki Irawan, 41 tahun, dilaporkan telah merampas kemerdekaan orang dan penganiayaan yang melangar Pasal 333 dan Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Selain melaporkan ke polisi, keluarga korban juga melaporkan ke Komnas HAM. Hasil koordinasi Polda Metro Jaya, Polda Lampung, dan Polres Kota Tangerang akhirnya pabrik tersebut digerebak pada Jumat 3 Mei 2013 sekitar pukul 14.00. (Baca: Pabrik Kuali di Sepatan Digerebek)

Di lokasi pabrik polisi menemukan 25 orang buruh dan 5 mandor yang sedang bekerja. Yuki dan istrinya digiring ke Polres Kota Tangerang untuk dimintai keterangan. Polisi juga menemukan 6 buruh di antara mereka yang disekap kondisinya memprihatinkan. Pakaian yang dikenakan kumal dan compang camping karena berbulan bulan tidak ganti. ”Kondisi tubuh buruh juga tidak terawat, rambut cokelat, kelopak mata gelap, dan berpenyakit kulit,” kata Shinto. Mereka rata-rata tiga bulan tidak mandi dan tidak ganti baju, karena uang, telepon genggam dan pakaian dari kampung yang dibawa disita pemilik pabrik.

JONIANSYAH

Komentar (25)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
3
20
jangan langsung di hukum gantung mas bro anggoro, sayang karena langsung mati, lebih baik di siksa dulu, di cabut kukunya satu persatu setiap hari, jadi selama 20hari di siksa, setelah itu di hukum rajam lagi, terakhir di siksa sampai MATI,,,,, itu yang baik untuk yuki irawan setannnn dan semua anggotanya, juga termasuk brimob yg juga iblisssss,,,
0
3
HUKUM GANTUNG untuk pelaku dan bekingnya,....
1
8
kok sama seperti masa penjajahan jepang yah ... atau mungkin lebih parah dari pada penjajahan jepang .. cuma perbedaan nya antara Romusha di jaman jepang , dan romusha di pabrik panci : 1. Romusha di jaman jepang =)) diberlakukan untuk memenuhi kebutuhan secara umum rakyat Jepang . sedangan Romusha di pabrik panci =)) di perlakukan untuk memenuhi kebutuhan / Keuntungan secara pribadi untuk si pemilik perusahaan . semoga tuhan memberikan hukuman yang pantas , untuk orang yang telah mengambil hak orang lain ...
0
3
Indonesia sudah merdeka hampir 68 tahun. Tapi ternyata "kemerdekaan" itu belum bisa dirasakan oleh semua orang Indonesia. Penjajahan (perbudakan) masih ada sampai sekarang?? Sebenarya Indonesia sudah merdeka dalam hal apa? Semoga penegak hukum betul-betul menengakkan HUKUM secara adil terhadap tersangka sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini. Dan selebihnya, biar Tuhan yang mengadilinya di akhirat nanti.
1
8
astagfirullohalazimmm,,sungguh mengenaskan kisah para buruh ini,,HUKUM MATI saja pemilik pabrik NERAKA itu dan sekelompok pengikutnya yg mengecap manis diatas penderitaan para buruh.LAKNATULLOH!!!semoga qt tidak termasuk kedlm kelompok org2 dzalim .amin
Selanjutnya
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X