Frans Magnis: Dipo Alam Wajib Bela SBY

Frans Magnis: Dipo Alam Wajib Bela SBY

Frans Magnis-Suseno, 77, Guru Besar Filsafat di STF Driyarkara Jakarta. ANTARA/Dodo Karundeng

TEMPO.CO, Jakarta - Profesor bidang filsafat, Frans Magnis Suseno, menganggap sudah menjadi kewajiban bagi Dipo Alam selaku sekretaris kabinet untuk membela Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Adalah hak Pak Dipo Alam untuk memberikan pendapat, apalagi beliau wajib membela presiden," kata Frans Magnis melalui pesan singkatnya kepada Tempo, Selasa, 21 Mei 2013.

Sekretaris Negara Dipo Alam mengomentari protes yang disampaikan Franz Magnis atas penghargaan World Statesman Award yang bakal diterima SBY dari Appeal of Conscience Foundation (ACF). "Jadi, kata-kata Pak Magniz itu, maaf ya, dia matanya dangkal," kata Dipo di kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2013. "Melihat Indonesia seolah-olah yang hanya ada di TV dengan adanya konflik-konflik begitu."

Frans Magnis melalui surat keberatannya memprotes pemberian penghargaan dari lembaga yang berasal dari New York, Amerika Serikat, itu dengan dua pertimbangan. Pertama, menurut Franz Magnis, SBY selama 8,5 tahun kepemimpinannya tidak pernah menyatakan kepada rakyat Indonesia untuk menghormati minoritas. Kedua, SBY tidak pernah melindungi kelompok yang menjadi korban kekerasan seperti dalam kasus Ahmadiyah dan Syiah yang dicap sesat oleh kelompok aliran keras.

Menurut Frans Magnis, yang terpenting bagi Indonesia adalah mengakui terhadap identitas dan keutuhan kelompok minoritas. BIla penghargaan tetap diberikan kepada SBY, Franz Magnis menganggap hal tersebut mendiskreditkan klaim lembaga ACF yang menyebut diri, organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan.

ISMI DAMAYANTI

Topik Terhangat
Kisruh KJS
| Menkeu Baru | PKS Vs KPK | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah

DUNIA
Terpopuler

Tornado Susulan, Pemerintah Segera Evakuasi Warga

10 WNI Selamat dari Amukan Tornado di Oklahoma

Rekaman Paus Berdoa Usir Setan Dibantah Vatikan

Komentar (7)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
1
0
pak Dipo tidak semata2 membela namun beliau juga melihat fakta yang ada karna kalu ukuran minoritas yang hanya dilihat sedangkan mayoritas tidak diindahkan maka siapapun presidennya dan bahkan pak romo memimpin pun tidak akan ada namanya toleransi beragama.. ukurannya apa? presiden toh juga mewakili Indonesia
0
1
Shame on you Dipo and the government... Shame on us as citizen. Malu gw.
0
1
Pejah gesang nderek SBY ya bung. Lumayanlah imbalannya : kursi menteri bro.
8
16
Setuju dengan Mr. Frans, apa yang dilakukan DIpo Alam itu sudah seharusnya. Presiden mendapatkan penghargaan tentunya bukan tanpa pertimbangan, harusnya hal ini dibanggakan bukan malah dicela.
18
8
Setuju Romo, memang Dipo dibayar untuk menjilat Bosnya, yang penuh pencitraan, peragu, dan hanya main aman. Romo, saya berdosa memilih dia. Saya kira di periode kedua, dia akan berubah, eh ternyata sami mawon. Selamat untuk Dipo: dulu aktivis (punya otak) sekarang otaknya digadaikan dan lidahnya saja yang bekerja: SEBAGAI PENJILAT!
Selanjutnya
Wajib Baca!
X