Pejabat Bank BJB Depok Diperiksa Terkait T-Tower

Pejabat Bank BJB Depok Diperiksa Terkait T-Tower

Bank BJB. TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Setelah memeriksa dua anggota panitia lelang proyek gedung T-Tower, Kejaksaan Agung kini memanggil pejabat Bank BJB. Mereka adalah Manajer Operasional Bank BJB Cabang Kota Depok, Sulaeman, dan koleganya di bank itu, Jaja Jarkasi. "Diperiksa sebagai saksi," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Setia Untung Arimuladi, Selasa, 28 Mei 2013.

Kasus ini bermula saat BJB
merencanakan pembelian gedung untuk kantor cabang khusus di Jakarta pada 2006. Anggaran yang disetujui Bank Indonesia awalnya Rp 200 miliar. Belakangan, BJB setuju membeli 14 dari 27 lantai di gedung T-Tower, yang rencananya dibangun di Jalan Gatot Subroto, Kaveling 93, Jakarta Selatan.

Laporan majalah Tempo menyebutkan, tim pembebasan lahan yang dibentuk bank ini lantas bernegosiasi dengan PT Comradindo Lintasnusa Perkasa, perusahaan informasi dan teknologi yang membuka penawaran pembelian gedung tersebut. BJB pun bertransaksi dengan PT Comradindo senilai Rp 543,4 miliar.

Uang muka pun dikucurkan Rp 217,36 miliar. Sisanya, Rp 27,17 miliar, dicicil selama setahun. Namun, pembelian lantai gedung ini tak jelas. Tanah yang hendak dipakai diduga milik perusahaan lain. Kejaksaan lantas menetapkan Wawan Indrawan, Kepala Divisi Umum BJB serta Direktur PT Comradindo, Triwiyasa, sebagai tersangka.

TRI SUHARMAN

Topik Terhangat:
Kisruh Kartu Jakarta Sehat |
Menkeu Baru | PKS Vs KPK | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah

Berita Terpopuler:
KPK Telisik 45 Perempuan Penerima Duit Fathanah

Begini Cara Blokir Nomor Mama Minta Pulsa

Luthfi Panggil Darin Mumtazah `Mamah`

Komentar (2)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
1
0
MUSLIMBERTAQWA(USA) Dari pengamatan kami, sulit bagi petinggi2 PKS untuk mengelak bahwa PKS secara institusi tidak terlibat dgn SCANDAL uang haram ini.Sebab yg melakukan perbuatan terhina dan keji ini bukan kader bawahan, tapi PRESIDENT PKS sendiri.Tdk mungkin petinggi2 PKS tidak mengetahui kakayaan yg dipamerkan oleh LHI di kantor PKS dengan beberapa mobil mewah. Sebaiknya kalau masih ada petinggi PKS atau usztad2 yg TIDAK MENERIMA uang haram SEBAIKNYA PKS DIBUBARKAN PKS agar semua kuman2 / VIRUS MUNAFIK habis, kmdn dirikan Partai Baru dengan spirit yang baru. Saya pribad dulunya sangat simpati dgn PKS,karena satu satunya petinggi Partai yang dakwah Islam, anti korupsi, menegakan pemerintahan yg bersih, menegakan keadilan dan kesejahteran untuk Rakyat, ternyata semua itu diselewengkan oleh President PKS sendiri dengan teman2ya. Nama PKS sudah rusak, dan menyakit hati umat Islam kususnya bangsa Indonesia umumnya karena merasa tertipu Saya setuju sekali bagi petinggi2 PKS yg terbuki pencuri uang rakyat, dihukum POTONG TANGAN,krn mereka umunya belajar hukum dari negeri Arab. Pemuda2 Islam yg belajar dari Timur Tengah tdk menjamin kejujuran,anti korupsi, akhlaq mulia, dan keadilan, TAPI sebaliknya memperlihatkan image Islam yg buruk, korupsi, kekerasan, penindasan dan diskriminasi kpd umat non Islam seperti negeri2 Arab yang korupsi dan diskriminasi .... LEBIH BAIK BELAJAR DARI JAPAN YG SUKSES MEMPERKECIL KORUPSI, SEJAHTERA - DAMAI RAKYATNYA, JUJUR DAN BERSIH NEGERINYA. YAITU DGN SISTEM BONUS.http://muslimbertaqwa.blogspot.com/p/japaness-bonus.html
0
0
Lagi2 melibatkan kader PKS, Aher dan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail
Wajib Baca!
X