Mun'im Blakblakan Soal Kematian Munir dan Sukarno

Mun'im Blakblakan Soal Kematian Munir dan Sukarno

Munim Idris. TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Ahli forensik dari Universitas Indonesia, Mun'im Idris, menjelaskan panjang-lebar ilmu kedokteran forensik dalam bukunya yang berjudul X-Files: Mengungkap Fakta Kematian Bung Karno Sampai Munir. Dalam bukunya, ia menceritakan rumitnya ilmu forensik dengan bahasa yang bisa dimengerti orang awam.

Dalam kasus Munir yang tewas dibunuh 7 September 2004, Mun'im mengungkapkan bagaimana peran ilmu forensik. Mun'im, yang saat itu menjadi anggota tim pencari fakta kematian aktivis hak asasi manusia itu, menceritakan bagaimana mereka bisa menemukan pelaku pembunuhan keji tersebut.

"Semula semua orang terpaku, yakin pembunuhan dilakukan di atas pesawat Garuda. Akibatnya, tersangka pelaku pembunuhan Munir, Pollycarpus Budihari Priyanto, divonis bebas oleh Mahkamah Agung pada Oktober 2006," kata Mun'im kepada Tempo, Jumat, 28 Juni 2013.

Dalam kerangka kasus Munir ketika itu, diyakini bahwa Munir diracun di atas pesawat Garuda, dari Jakarta ke Den Haag, Belanda. Polisi dan jaksa yakin racun arsenik dimasukkan ke dalam mi goreng yang disajikan untuk Munir. Belakangan, hakim di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta malah meyakini racun dimasukkan dalam jus jeruk. Masalahnya, tak ada fakta yang bisa mengaitkan tersangka utama kasus ini, Pollycarpus, dengan insiden di atas pesawat.

Pada saat genting itu, Jenderal (Purn) Bambang Hendarso Danuri--yang ketika itu menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri--meminta Mun'im Idris kembali mempelajari kasus itu.

Mun'im dan tim pencari fakta akhirnya menelusuri perjalanan Munir ke Singapura untuk mengetahui di mana racun pembunuh Munir tersebut diberikan. Setelah dilakukan tes, diketahui bahwa racun arsenik baru bereaksi sekitar 30 menit setelah diberikan. Sementara perjalanan dari Jakarta ke Singapura selama 90 menit. Berbekal fakta itu, Mun'im merasa ada yang tidak beres.

Menurut Mun'im, dia dan timnya sempat membahas kemungkinan tempat kejadian perkara (TKP) ada di Jakarta. Tapi kesimpulan itu dikesampingkan karena kurang bukti. Akhirnya, berdasarkan sejumlah fakta, diambillah kesimpulan bahwa Munir tidak dibunuh di atas pesawat, melainkan pada saat Pollycarpus mengajaknya minum di Coffee Bean yang ada di Bandar Udara Changi, Singapura.

Menurut Mun'im, hanya di tempat itulah kemungkinan peracunan Munir bisa terjadi. Setelah minum di Coffee Bean, Munir mengeluh sakit perut dan meminta obat maag. Di atas pesawat, Munir sempat muntah dan kejang-kejang sebelum dinyatakan meninggal.

Berkat temuan baru tim Mun'im, Mabes Polri dan Kejaksaan Agung bisa mengajukan peninjauan kembali atas vonis MA yang membebaskan Pollycarpus. Pada 2007, dengan bukti itu, Polly divonis 20 tahun penjara.

Cerita Mun'im menelisik kasus Munir ini diungkapkan secara gamblang di buku X-Files. Ada juga analisis Mun'im soal kematian presiden pertama Indonesia, Ir Sukarno.

Menurut Mun'im, penyebab utama kematian Sukarno adalah pembiaran negara terhadapnya. Seorang Sukarno yang sangat aktif tiba-tiba dikerangkeng di paviliun Istana Bogor. Kemudian dipindahkan ke Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala) atas persetujuan presiden waktu itu, Soeharto.

"Pembunuh mematikan bukan hanya racun, tetapi pembiaran juga bisa sangat mematikan untuk manusia seaktif Bung Karno," katanya.

Karena tidak pernah melakukan pemeriksaan forensik atas jasad Sukarno, Mun'im mendasarkan analisisnya pada berbagai berita di media massa. Akhirnya, sebagai seorang ahli forensik, ia pun mengambil kesimpulan bahwa kematian Sukarno lebih disebabkan oleh penelantaran. "Bung Karno memang sakit-sakitan waktu itu. Tetapi itu hanya penyebab kecil. Penyebab utamanya karena dia diisolir dari bangsanya sendiri," ia menjelaskan.

SUTJI DECILYA

Topik Terhangat
Ribut Kabut Asap
|PKS Didepak?| Persija vs Persib |Penyaluran BLSM |Eksekutor Cebongan

Berita Lainnya:
Erick Thohir Segera Akuisisi 40 Persen Saham Inter
Ogbonna Selangkah Lagi ke Juventus
City Incar Top Skor Ketiga Liga Portugal
Blanc Antusias Melatih PSG

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul = ; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X