indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Harga Cabe Rawit di Bandung Tembus Rp 60 Ribu

Harga Cabe Rawit di Bandung Tembus Rp 60 Ribu

ANTARA/Muhamad Nasrun

TEMPO.CO, Bandung- Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandung mencatat kenaikan harga bahan makanan di lima pasar tradisonal di Kota Bandung. Kenaikan tertinggi terjadi pada harga cabe rawit merah, yang rata-rata naik dari Rp Rp 24.400 menjadi Rp 59.400 per kilogram.

Harga cabe rawit merah terendah di Kota Bandung terpantau di Pasar Andir sebesar Rp 57 ribu per kilogram. Sementara di empat pasar tradisional lainnya yakni Pasar Kosambi, Pasar Sederhana, Pasar Kiaracondong, dan Pasar Baru, harga cabe tembus Rp 60 ribu per kilogram.

Harga bawang merah juga naik tajam hanya dalam sehari. Harga bawang merah loncat Rp 10 ribu menjadi Rp 39.600 per kilogram. Harganya di tiap pasar tradisional bervariasi antara Rp 38 ribu sampai Rp 40 ribu per kilogram.

Lonjakan harga juga terjadi di komoditas bahan makanan lainnnya. Cabe merah biasa naik Rp 12.400 atau 26,38 persen menjadi Rp 59.400 per kilogram, daging ayam broiler naik Rp 4.200 atau 13,91 persen, menjadi Rp 34.400 per kilogram, serta cabe rawit hijau naik Rp 4 ribu atau 13,79 persen menjadi Rp 33 ribu per kilogram.

Kendati demikian, harga sejumlah bahan makanan juga ada yang turun. Harga bawang putih turun Rp 2 ribu atau 11,24 persen menjadi Rp 15.800 per kilogram, serta cabe merah keriting turun Rp 5.400 atau 13,5 persen menjadi Rp 34.600 per kilogram. Sisanya, harganya masih bertahan.

Kepala Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Ferry Sofwan Arief mengatakan, harga cabai yang terpantau itu terhitung sudah sangat tinggi. “Ini sudah termasuk sangat tinggi, dibandingkan harganya di bulan Mei,” kata dia saat dihubungi Tempo, Senin, 1 Juli 2013.

Khusus bumbu cabai itu, kata Ferry, memang terjadi ketimpangan antara permintaan dan produksinya di Jawa Barat. Mengutip data Bahan Ketahanan Pangan Jawa Barat, kebutuhan cabai setahun 283.545 ton, sementara produksi cabai hanya 188.763 ton.

Dia khawatir pemicunya adalah anjloknya panen di tingkat petani. Mengantisipasi itu, sejumlah daerah yang jadi sentra produksi cabai diminta untuk memprioritaskan pemasarannya di daerah terdekatnya dulu. Sentra cabai di Jawa Barat itu di antanray di Tasimalaya, Majlaengka, serta Ciamis.

Sementara lonjakan harga daging ayam, dia menduga penyebabnya dipicu oleh kenaikan harga BBM. Ferry mengatakan, harga penjualan daging ayam di peternak hanya 17.500 per kilogram. “Saya menduga karena kenaikan BBM, memicu setiap rantai penjualan menaikkan harga,” kata dia.

Menurut Ferry, pemerintah Bandung mempunyai mekanisme operasi pasar untuk menurunkan harga. Hanya saja, produk bahan makanan yang disasar terbatas yakni beras, minyak goreng, tepung terigu, dan telur. Sejumlah daerah sudah menyiapkan menggelar operasi pasar untuk menekan gejolak harga.

AHMAD FIKRI

Berita Terpopuler:
Begini "Nakal"-nya Briptu Rani

Jawaban Menteri Roy Soal Marah di Hotel

Cuma Jokowi yang Dipandang Mampu Bendung Prabowo

Gerindra Pegang Teguh Janji Jokowi

Cara Kepolisian Tutupi Kasus Upaya Suap Anggotanya

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X