Imparsial: Kopassus Penyerang Cebongan Berbohong

Imparsial: Kopassus Penyerang Cebongan Berbohong

Serda Ucok Tigor Simbolon (kanan), eksekutor penyerbuan Lapas Kelas IIB Sleman saat mengikuti sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta (20/6). TEMPO/Suryo Wibowo.

TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga penegak Hak Asasi Manusia, Imparsial,  menuding kesaksian Sersan Dua Ucok Tigor Simbolon sebagai sebuah kebohongan besar. Dalam persidangan Kamis 4 Juli 2013, prajurit Kopassus ini mengaku diserang lebih dahulu oleh empat tersangka di LP Cebongan. Sebagai tindakan membela diri, Serda Ucok membalas dengan menembak mati mereka.  

"Anak kecil saja tahu dia itu bohong. Tidak masuk akal orang dalam posisi yang lemah bisa menyerang, di mana logikanya?" ujar Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti, Kamis, 4 Juli 2013.

Poengky menuturkan kronologi kasus maupun fakta yang terungkap menunjukkan ketakutan korban terhadap para pelaku. Salahsatu bentuk ketakutan korban adalah saat mereka mempertanyakan keamanan Lapas Cebongan di Sleman itu. Mereka juga tidak akan mungkin melawan karena tak bersenjata seperti para pelaku.

"Kalau memang korban memukul dengan menggunakan kruk atau alat bantu berjalan, tunjukkan alat itu di pengadilan," kata Poengky.

Menurut Poengky, majelis hakim harus benar-benar independen dalam menelaah setiap pernyataan para terdakwa. Dia meminta hakim mengesampingkan jiwa korsa, karena persidangan ini mempertaruhkan nama baik tentara sendiri. "Jangan sampai konflik kepentingan membuat setiap pernyataan terdakwa seolah masuk akal," ujar dia.

Poengky juga berpesan kepada pelaku untuk menyampaikan kronologi peristiwa secara utuh dan mengedepankan kejujuran. Jangan membuat pernyataan yang justru tidak masuk akal dan memperburuk citra prajurit TNI sendiri."Tentara itu mestinya jujur, masak berbohong. Jangan bikin malu korpslah," ujar dia.

TRI SUHARMAN


Berita Terpopuler:
Empat Alasan Presiden Mesir Digulingkan

Ini Kisah Tukang Ojek Novi Amilia

Presiden Mesir Digulingkan, Rakyat Berpesta

Teman Wartawati Korban Perkosaan Sesalkan Polisi

Inilah Kamera SLR untuk Anak-anak

Komentar (3)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
2
3
Keberadaan Preman dikota2 kota besar memang sangat meresahkan, bahkan cenderung dilindungi atas nama HAM, Keberadaan Preman sudah menjadi tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Lanjutkan Pemberantasan Preman...
2
2
Apapun ulahnya, preman tetap bahaya bagi masyarakat. Harus diberantas dengan segala cara, sebab sudah matak dan menjamur.
2
6
Sadis..... jelas lebih preman dari premannya sendiri.... inilah ulah orang paling bodoh sedunia yg tidak pikir panjang apa akibatnya... balas dendam buta atau apa namanya saya ngga tahu dan sekarang rasakan akibatnya...seperti ini diurusin oleh para Kopassus ini.... Tugas Kopassus adalah bela Negara dan tinggal di barak , lagi pula Kopassus yg jadi korban preman tersebut ngapain ada di Cafe rebutan lahan dengan preman?
Wajib Baca!
X