Bangun Smelter Alumina, Cina Investasi US$ 1 M

Bangun Smelter Alumina, Cina Investasi US$ 1 M

Tambang bauksit. ANTARA/Henky Mohari

TEMPO.CO, Jakarta - Chief Excecutive Officer Harita Group, Lim Gunawan Haryanto, menyatakan akan bekerja sama dengan PT Hongqiao, sebuah perusahaan alumina dari Cina untuk membangun pabrik smelter alumina di Ketapang, Kalimantan Barat. Diperkirakan, saham dari pihak Cina akan mencapai sebesar 70 persen dan pihak Indonesia 30 persen.

"Pabrik ini akan dikelola di bawah perusahaan PT Well Harvest Winning Alumina," ujar Lim setelah bertemu dengan pihak pemerintah di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, hari ini, Kamis, 4 Juli 2013.

Dia menyatakan, nilai investasi pembangunan pabrik ini sebesar US$ 1 miliar untuk output 2 juta ton alumina. Realisasi nilai investasi tersebut akan dibagi dalam dua tahap, yakni dari 2013 hingga pabrik berdiri dan berjalan pada 2015 sebesar US$ 500 ribu dengan ouput 1 juta ton alumina. “Setengahnya lagi pada 2016, ketika pabrik sudah berjalan 1 tahun,” kata Lim.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Ansari Bukhari, Indonesia belum memiliki pabrik yang bisa mengolah bauksit menjadi alumina seperti itu. Biasanya Indonesia mengimpor alumina langsung dari luar negeri. "Jadi, ini yang pertama," kata Ansari.

Pembangunan pabrik ini, dia menambahkan, guna menanggapi Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu-bara dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 7 Tahun 2012. Kedua beleid tersebut menyatakan untuk segera melakukan program peningkatan nilai tambah produk pertambangan, serta kewajiban mengolah dan memurnikan mineral di dalam negeri. "Jadi pada 2014 mendatang produk minerba tidak lagi impor," ujar Ansari.

Dia mengatakan, kebutuhan alumina dalam negeri saat ini sebesar 500 ribu ton. Namun, saat ini dari dalam negeri hanya bisa menghasilkan alumina sebanyak 250 ribu ton, dan sisanya ekspor. "Produk alumina yang dihasilkan pabrik ini untuk disuplai ke INALUM," ucapnya.

AMRI MAHBUB

Topik terhangat:

Tarif Progresif KRL
| Bursa Capres 2014 | Ribut Kabut Asap | PKS Didepak?

Berita lainnya:

Peneliti Jepang Temukan Cara Atasi Gigi Berlubang
Empat Alasan Presiden Mesir Digulingkan

BlackBerry Selidiki Penyebab Gangguan BBM

BNN: Novi Amilia Positif Gunakan Sabu

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X