3 Kesalahan Orang Tua Bercerai

3 Kesalahan Orang Tua Bercerai

Ilustrasi perceraian. Guardian.co.uk

TEMPO.CO, New York - Bercerai adalah masalah yang sulit bagi keluarga, khususnya anak-anak. Anak dari keluarga bercerai dapat merasakan sakitnya hubungan orang tuanya yang gagal. Beberapa bercerai secara damai, tapi tak sedikit juga yang bercerai tiba-tiba. Bagaimanapun cara bercerainya, anak pasti akan menerima dampaknya. Komunikasi dan hubungan anggota keluarga akan jadi sulit.

Banyak anak yang membawa luka dari pertengkaran orang tuanya. Ahli perceraian, M. Gary Neuman, LMHC, memberikan tiga pantangan yang harus orang tua hindari ketika bercerai.

1. Jangan Jadikan Anak ‘Pembawa Pesan’
Banyak orang tua yang berpisah menjadikan anak sebagai pembawa pesan keduanya. Hal tersebut menjadikan anak stres karena dijadikan alat negoisasi bagi kedua orang tuanya. "Email adalah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan pasangan Anda," kata Neuman.

2.Temui terapis.
Remaja merasa bisa mengendalikan situasi, dan perceraian menjadikan dunianya terbalik. "Jangan jadikan anak sulung sebagai tempat curhat atas permasalahan perceraian secara detil. Temui terapis, dan bersikaplah sebagai orang tua," ujar Neuman.

3. Cobalah untuk ‘Dapatkan’ Anak Anda
"Anak ingin diketahui kalau dia mengerti atas situasi yang sedang Anda hadapi.," kata Neuman. Menurutnya, setelah perceraian, perasaan anak menjadi kacau. Dengarkan mereka, jangan atur mereka, jangan jelekkan mantan Anda, itu sama saja dengan menjelekkan anak Anda. "Jika Anda mau, tuliskan perasaanya di sebuah kertas dan Anda bisa membaginya dengan mantan Anda. Penyembuhan datang melalui rasa dicintai dan perasaan dipahami," kata Neuman.

Di Amerika, angka perceraian selalu meningkat sejak abad ke-20, terutama sejak 1970-an. Pada 1971 usia pernikahan di Amerika rata-rata 23 hingga 25 tahun. Sedangkan pada 2004, usia pernikahan yang berakhir dengan perceraian antara 11 dan 12 tahun.

WEBMD | RINDU P HESTYA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X