Taman Waduk Pluit, dari Kumuh Jadi Indah

Taman Waduk Pluit, dari Kumuh Jadi Indah

Kondisi pemukiman penduduk di pinggiran waduk pluit. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Keberadaan Taman Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, yang sebelumnya berupa permukiman kumuh, mendapat apresiasi positif dari warga Penjaringan. Buktinya, beberapa warga mengaku bahagia melihat Waduk Pluit menjadi tak sekumuh dahulu.

Salah satu yang mengaku senang melihat bantaran Waduk Pluit sekarang menjadi taman adalah Fenawati. Warga RT 21 RW 17 Muara Baru, Penjaringan, berusia 36 tahun itu, mengaku senang ada taman Waduk Pluit karena menambah tempat rekreasi dan santai di Penjaringan.

"Taman ini kan untuk umum, jadi seneng banget karena ada tempat rekreasi baru. Bosen kan kalau ajak anak-anak ke mal terus," ujar Fenawati saat tengah menemani anaknya lomba mewarnai di acara Bazaar 17 Agustus-an yang tengah berlangsung di taman Waduk Pluit.

Fenawati juga menilai keberadaan taman ini membuat kawasan Waduk Pluit menjadi lebih indah dibanding tahun lalu dan waduk menjadi terlihat jelas. Dulu, akibat dipenuhi rumah, wujud waduk menjadi susah terlihat dari jalan rata Pluit Timur.

Karena suka dengan keindahannya, Fena berencana akan sering membawa ketiga anaknya bermain ke taman baru ini. Kebetulan, jarak rumah ke taman tak terlalu jauh.

Hal senada diucapkan Syamsudin, 42 tahun, warga RT 19 RW 17 Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Ia berkata, keberadaan taman yang menurutnya indah itu akan mempermudah warga Penjaringan untuk berkumpul bersama seperti hari ini, untuk merayakan hari kemerdekaan.

Jaya, 45 tahun, salah seorang tukang ojek di lokasi pun senang melihat pemandangan waduk yang menjadi jelas sejak ada taman. Ia sudah bisa membayangkan jalan-jalan di taman Waduk Pluit di sore hari sambil menikmati angin sepoi-sepoi. "Kayaknya enak ini buat jalan-jalan."

Berdasarkan pantauan, taman Waduk Pluit ini memiliki desain yang menyerupai taman Ayodya di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ruang kumpul warga dibangun mengeliling perairan yang menjadi pusat taman.

Di sekeliling taman, bisa ditemukan kursi kursi taman berdesain sama dengan kursi-kursi taman di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Selain itu, tak jauh dari kursi-kursi taman, terdapat juga pohon-pohon besar yang disediakan oleh Jakpro.

Pohon-pohon itu belum terlalu rindang untuk saat ini sehingga di siang hari kawasan taman seluas 5 hektar itu akan terasa panas.

Rencananya taman ini akan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada pukul 11.00 nanti.

ISTMAN MP



Berita Terpopuler:

Suap SKK Migas
| Penembakan Polisi | Sisca Yofie | Konvensi Partai Demokrat | Rusuh Mesir


Berita Terpopuler:
Dua Polisi Ditembak Hingga Mati di Tangerang

Taman Waduk Pluit, dari Kumuh Menjadi Indah 

Jero Wacik Diminta Jelaskan Dollar di Ruang Sekjen

Berempat, Kenapa Hanya Maulana yang Tertembak?

Penembak Polisi Diduga Terkena Tembakan

KPK Temukan Dokumen Penting di Kantor Sekjen ESDM 

Komentar (10)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
1
Ooo jadi si Faro Jengo ini muji2 si Wahidin Halim yg ketua DPP Demokrat propinsi Banten,yah wajar aja kalo gitu, brati dia belain tuannya (parte bemokrat) dan mencegah orang2 menyukai Jokowi dan Ahok (yg bukan kader parte bemokarat)
0
1
wah btul kata faro jego... ini program pemimpin yg terdahulu yg blum terealisasi... knp blum terealisasi???? krna uang'a d KORUPSI ama yg di atas..... klo pemimpin sekarangkan enggak... semua untuk rakyat.... sehingga rakyat sepenuh hati memberi kepercayaan kpd pak JOKOWI.... bkn hyna d DKI.. d luar DKI bnyak yg memberi kepercayaan pada JOKOWI.... emang pemimpin loe terdahulu dapat???? kepercayaan dari rakyat???? tukang ojek dan pedagang kaki lima aja percaya jokowi..
0
0
..sudah sewajarnya orang memberi apresiasi atas kerja keras pimpinan DKI yg sekarang. Orang saja bisa mudah meng-idolakan artis, apalagi ini lebih realistis karena kerja yang ada hasil dan wujudnya. Jangan salahkan kalau masyarakat menilainya demikian. Tentu bukan pemujaan membabi buta, karena proses perubahan ini juga masih terus berjalan, masyarakat hanya mengungkapkan apa yg mereka miliki sekarang yakni ketulusan, rasa percaya dan rasa syukur. Inipun tak mudah diberikan, kecuali kepada pemimpin yg bagi mereka benar benar 'nyata' dan tidak hanya nangkring di ketinggian.
0
3
fero jenggo ciri ciri orang yang ga bisa mengapresiasi keberhasilan orang lain. ini anak buahnya si ruhut...kekekek
0
3
sesuatu yg harusnya biasa, menjadi luar biasa, karena dr dulu nggak ada gubernur dki yg kayak bgini...
Selanjutnya
Wajib Baca!
X