Lulung: Saya Meludah Saja Jadi Duit

Lulung: Saya Meludah Saja Jadi Duit

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana atau biasa dikenal dengan panggilan Haji Lulung. TEMPO/Seto Wardhana

TEMPO.CO, Jakarta - Abraham Lunggana pada usia sekolah dasar mengais sampah di Pasar Tanah Abang. Kini dia memiliki sejumlah perusahaan yang mengelola keamanan dan parkir di pusat perdagangan tekstil itu. Dengan bendera PT Putraja Perkasa, PT Tujuh Fajar Gemilang, PT Tirta Jaya Perkasa, Sakom, juga koperasi Kobita, ia mengklaim mempekerjakan 7.000 orang.

Populer dengan panggilan Haji Lulung, ia kini kaya-raya. Mobilnya 30-an. "Yang paling bagus Rubicon," katanya kepada Tempo, Kamis pekan lalu. Ia mengaku punya banyak properti, seperti rumah, tujuh vila, juga toko. Lewat Partai Persatuan Pembangunan, Lulung menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta pada 2009, kemudian terpilih sebagai wakil ketua. "Saya pembayar pajak terbesar nomor tiga di Jakarta Pusat," ujarnya.

Lulung menolak julukan preman untuk orang yang memungut uang dari pedagang kaki lima di Tanah Abang. Ia menyebut mereka "anak wilayah". Majalah Tempo edisi Senin 19 Agustus 2013 mewawancarai Lulung.

Kepolisian daerah menyebut ada preman di Tanah Abang memeras pedagang….
Saya kebingungan. Yang dibilang preman itu yang mana? Buktikan. Saya prihatin ada isu preman. Seolah-olah ada perbuatan melanggar hukum secara massal oleh sekelompok orang, memeras dan segala macam. Di Tanah Abang itu tidak ada orang lain. Yang ada asli anak Tanah Abang. Jangan yang mengelola pedagang kaki lima disebut preman.

Bukankah pungutan-pungutan kepada pedagang itu pemerasan?
Saya bilang itu mau sama mau. Para pedagang tidak merasa diperas. Pedagang datang dari luar. Emang bisa ente cari tempat sendiri? Nah, pasti ente cari orang di situ. Ketemulah. Lalu, misalnya, sepakat tiga bulan sewa: satu juta, dua juta, lima ratus ribu. Lalu ada keamanan, kebersihan.

Untuk apa pungutan-pungutan itu?
Judulnya begini, tetap mereka dibina supaya jangan bikin masalah besar. Kenapa? Karena Tanah Abang ini sentra ekonomi. Kalau kalian ribut, orang enggak datang berbelanja. Kalau saya enggak jadi apa-apa lagi, nongkrong saja di Tanah Abang. Meludah saja jadi duit. Tapi saya enggak mau monopoli. Nanti saya panggil rukun remaja untuk dikasih kerjaan.

Anda seperti godfather di Tanah Abang….
Iya, saya godfather yang tidak jahat, ha-ha-ha….. Wawancara selengkapnya baca Majalah Tempo.

ANTON SEPTIAN, MARIA HASUGIAN, LINDA TRIANITA, WIDIARSI AGUSTINA

Terhangat:
Ahok vs Lulung | Suap SKK Migas | Penembakan Polisi | Sisca Yofie

Berita Terkait:
Haji Lulung Tak Mau Lagi Diadu dengan Ahok

Ahok: Saya Enggak Pernah Musuhan dengan Lulung
Berselisih dengan Lulung, Ini Ideologi Ahok

Komentar (31)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
kaya babi ngepet .. meludah jd duwit ... org kayak gini kok bisa ada yg milih jd anggota dewan yaa...
0
1
sehebat appaun ludah anda bahkan bisa mengeluakan api ..saya hood abdillah assegaf tetap mengangumi ahok yg ludah nya hanya ludah manusia biasa...mari kawan2 dukung ahok di GERAH gerakn relawan ahok https://www.facebook.com/gerakanrelawanahok
0
4
Membina PKL? Mengijinkan masyarakat untuk melanggar hukum disebut membina? Emang lahan parkir, lahan lapak para PKL itu punya nenek moyang mu pribadi ato gimana sehingga anda merasa yang paling berhak menjualnya?
0
0
macam dewa saja gaya kau bung....cuiihhhh.....bicara macam malaikat.....
0
0
macam dewa saja gaya kau bung....cuiihhhh.....bicara macam malaikat.....
Selanjutnya
Wajib Baca!
X