Pengakuan Warga Lenteng Agung Soal Lurah Susan

Pengakuan Warga Lenteng Agung Soal Lurah Susan

Sejumlah Calon Lurah mengikuti test online di SMA Negeri 1 Budiutomo, Jakarta (27/04). Ujian ini dilaksanakan secara serempak di SMA-SMA Jakarta. Tempo/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO, Jakarta - Penolakan warga Lenteng Agung terhadap Lurah Susan Jamine Zulkifli yang beragama Nasrani diduga berasal dari provokasi pihak luar. Dugaan itu muncul setelah seorang warga mengaku bahwa penolakan itu bermula dari ceramah tarawih di Masjid Abu Bakar Siddiq pada Ramadan lalu. "Penceramahnya 'orang-orang panggilan'," kata Edi, 52 tahun, seorang warga, pada Sabtu, 24 Agustus 2013.

Menurut warga RT 014 RW 03, Kelurahan Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu, yang dia maksud "orang-orang panggilan" adalah penceramah dari luar Lenteng Agung. Sang penceramah, tutur Edi, menyampaikan, dalam Islam, umat muslim tidak boleh dipimpin oleh orang nonmuslim. Apalagi kalau muslim di suatu wilayah itu jadi mayoritas.

Selain itu, kata Edi, penceramah juga menyampaikan ajakan menolak pemimpin nonmuslim. Kebetulan, Susan Jasmine Zulkifli baru saja ditunjuk jadi Lurah Lenteng Agung per Juli 2013. Edi mengaku, secara pribadi, dirinya tidak sepakat dengan isi ceramah. Dia juga menolak ketika diajak untuk meminta Lurah Susan digeser dari Lenteng Agung.

"Selama dia (Lurah Susan) enggak melanggar aturan, tidak masalah. Persoalan agama yang dianut Lurah berbeda dengan warganya sudah wajar di negara yang tidak berdasarkan agama. "Yang penting administrasi lancar," kata Edi.

Edi yakin banyak warga Lenteng Agung bersikap sama dengannya. Paling-paling, kata Edi, kalaupun ada masalah dengan Lurah Susan yang Nasrani, hanya pada saat acara-acara keagamaan. "Biasanya kalau ada acara keagamaan memang kagok. Seperti Isra Miraj dan Maulid Nabi. Masak yang ngasih sambutan orang Nasrani, gitu doang," katanya.

KHAIRUL ANAM

Topik Terhangat:

Suap SKK Migas
| Penembakan Polis| Sisca Yofie |Konvensi Partai Demokrat| Rusuh Mesir

Berita Terkait
Rizieq Syihab Calon Presiden 2014

Puan: Jokowi Hanya Maju Lewat PDIP

Bursa Capres, PDIP Jateng Tak Usulkan Jokowi

Komentar (14)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
yang ceramah mungkin otak dan hatinya dh tumpul.... makanya lain kali jangan asal ambil penceramah,,, cari penceramah yg berbudi pekerti luhur,,, tidak RASIS dan yang tidak suka meng KAFIR kan orang lain....
0
0
kasian yah karena lurahnya non muslim jadi nga ada setoran lagi deh ke FPI
2
0
ya sudah tinggal diganti, gitu saja kok repot
1
13
Bu Susan hanyalah seseorang yg kebetulan terpilih menjadi lurah, mengemban tugas untuk melayani warga nya. Menegakkan konstitusi atau peraturan/Perda, jk warga nya yg beragama apapun, berbuat kebaikan, maka lingkungan dgn sendirinya akan tentram, aman. Jk ada yg berbuat jahat/tdk baik, dgn sendirinya akan berbenturan dgn hukum/perda, dan berbenturan dgn hak warga lain yg ingin tentram. Yang pasti, semua agama, baik itu Islam, Nasrani, Buddha, Hindu maupun Konghucu, semua mengajarkan berbuat baik. Apa yg ceramah ini tdk sadar ya? mereka lahir dari rahim seorang ibu, dan tdk bisa memilih ibumu beragama apa. Indonesia harus bersatu, supaya bisa maju. Musuh kita adalah koruptor beragama apapun, teroris, dan orang2 yg mau memecah belah persatuan bangsa ini. Sejak jaman dahulu, Indonesia terdiri berbagai suku, kepercayaan dan agama. Pertentangan hanya melahirkan perpecahan, kesengsaraan. Sdh saatnya Presiden RI, TNI , POLRI TEGAS menegakkan kembali PANCASILA dan UUD. Sdh saatnya pemuka agama menyuarakan dukungan untuk damai dan bersatu.
3
15
Pemuka agama koq RASIS, Kapan Indonesia bisa maju?? Lurah yang bisa kerja/melayani masyarakat dengan baik atau Muslim tapi malas n korupsinya yang baik??!
Selanjutnya
Wajib Baca!
X