indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Lurah Susan : Saya Hanya Menjalankan SK Gubernur

Lurah Susan : Saya Hanya Menjalankan  SK Gubernur

Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli saat menjawab pertanyaan wartawan di ruangannya, Jakarta (26/8). Lurah tersebut di tolak warga Lenteng Agung karena menganut agama yang berbeda dengan mayoritas warganya. Tempo/Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Lurah Lenteng Agung Susan Jasmine Zulkifli masih irit berkomentar soal penolakan sejumlah warga terhadap dirinya. "Saya masih no comment soal itu," ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin, 26 Agustus 2013.

Ia mengatakan masalah yang terjadi di wilayahnya sudah selesai dan tak perlu lagi dibesar-besarkan. "Saya tak punya salah. Saya menjalankan instruksi sesuai surat keputusan dari gubernur soal penempatan di sini," ujarnya.

Sejumlah warga lewat Forum Penolakan Warga terhadap Penempatan Lurah Lenteng Agung memprotes kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Warga menganggap Lurah Susan yang beragama non-muslim seharusnya tak memimpin di daerah yang mayoritas penduduknya muslim.

Susan tak mau berkomentar soal itu. Camat Jagakarsa Asril Rizal juga menginstruksikan demikian. "Jangan dulu memberi komentar soal itu," ujarnya.

Asril menyatakan ini merupakan masalah yang bisa segera diselesaikan. "Harus ada upaya pendekatan ke masyarakat. Dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengadakan pembinaan," ujarnya.

Sekretaris Kelurahan Lenteng Adhi Suryo juga mengatakan telah mengadakan pertemuan dengan sejumlah warga membahas hal ini. "Dari pertemuan sudah dibahas dan permasalahan sudah selesai," ujarnya.

Pertemuan dilakukan bulan lalu seminggu setelah Lurah Susan Zulkifli dilantik sebagai Lurah Lenteng Agung.

M.ANDI PERDANA

Berita Terpopuler


Konvoi FPI Tak Lewati Tempat Konser Metallica
Polisi Beri Himbauan Jenaka ke Penonton Metallica

Lurah Dilelang, Kini Warga Puas Kinerja Kelurahan

Baca Juga

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X