indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Tabrakan Dul di Jagorawi, Ini Saran KPAI

Tabrakan Dul di Jagorawi, Ini Saran KPAI

Petugas kepolisian melakukan Olah TKP kecelakaan dijalan tol Jagorawi kilometer 8+200, Jakarta, (8/9). Kecelakaan yang melibatkan anak dari Ahmad Dhani ini terjadi pada Minggu dini. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Jakarta -Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyarankan kasus kecelakaan yang melibatkan AQJ atau Dul, 13 tahun, tak dibawa ke meja hijau. Ketua Divisi Komisi Perlindungan Anak Indonesia, M. Ihsan, mengatakan kasus ini bisa diselesaikan dengan mediasi antara korban dan pemicu kecelakaan. “Yang terbaik untuk anak-anak adalah penyelesaian di luar hukum. Bisa menggunkan pendekatan keadilan restoratif, mediasi antara pelaku dan korban,” kata Ihsa, Ahad, 8 September 2013.

Penyelesaian di luar hukum bisa dipilih hanya jika ada kesepakatan antara pelaku dan korban. Jika keluarga korban setuju, polisi bisa mengambil langkah diskresi, mengesampingkan proses hukum pidana terkait kecelakaan.

Komisi Perlindungan Anak menyarankan langkah ini karena penyelesaian hukum dinilai tak membawa kebaikan bagi korban maupun pelaku. Apalagi dalam kasus ini Dul tergolong sebagai anak-anak. “Tidak ada yang diuntungkan dengan penyelesaian di jalur hukum,” ujarnya.

Namun jika keluarga korban tak setuju, kata Ihsan, kepolisian harus tetap menjalankan proses pidana. Anak-anak bisa dijerat hukum pidana dengan sanksi lebih ringan daripada orang dewasa. “Hukumannya setengah orang dewasa,” kata Ihsan.

Tabrakan yang melibatkan Dul terjadi pada Ahad dini hari di tol Jagorawi. Mobil sedan Mitsubishi Lancer B 80 SAL yang dibawa Dul melanggar pembatas jalan dan menghantam Avanza dan Daihatsu Grandmax. Kecelakaan tragis ini merenggut enam korban tewas dan 11 korban luka. Kabarnya, Dul yang mengendarai mobilnya dan kehilangan konsentrasi saat melintasi jalan tol. Dul terluka parah dan kini dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah.

ANANDA BADUDU

Topik Terhangat
Tabrakan Anak Ahmad Dhani | Jokowi Capres? | Miss World | CPNS | Suriah Mencekam

Berita Terkait
3 Jasad Korban Tabrakan Jagorawi Diambil Keluarga
Tabrakan Jagorawi, Ada Catatan Fisika di Mobil Dul
Psikolog Tika Bisono: Dul Seharusnya Tidak Nyetir

Komentar (4)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
2
Kalo diselesaikan scr kekeluargaan...kita sbg masyarakat tidak belajar pak dr kejadian ini. Nanti2 akan terus berulang kejadian serupa krn, yah nanti jg gampang diselesaikan kekeluargaan. Jd bukannya gak mengurangi pelanggaran2 semacam spt ini yg anak2 bawa motor/mobil di jalanan umum, malah nanti2 akan makin banyak terulang. Kalo ada hukuman yg keras, para orgtua akan takut dan mau gak mau akan mengawasi/melarang anak2 di bwh umur utk bawa kendaraan di jalanan umum. Opini spt Kak Seto ini yg melemahkan peran hukum sbg instrumen pengatur masyarakat. Selalu ada opini: demi HAM lah, demi anak2 lah..Lha gimana pak wong si anak nya yg udh melanggar hak2 pengguna jalan lainnya?? Kalo skrg msh umur anak2, ya mungkin hukumannya dieksekusi kalo dia udh usia dewasa. Atau kalo enggak, ya orgtuanya yg hrs bertanggung jawab scr hukum krn dia lalai dlm menjalankan pengasuhan sbg orgtua yg mengakibatkan kematian org lain. Tp intinya, hukuman harus tegas/keras utk beri efek jera pd masyarakat jd akan mengurangi anak2 yg bawa kendaraan di jalanan umum. Kalo hukum gak keras dan tegas, ya makanya spt ini Indonesia, kacau balau krn gak ada aturan, semua org2 pada melanggar aturan!
0
2
Hukum harus tidak pandang bulu, sebab kalau mengikuti logika Komite macam-macam itu, nanti anak membunuh, anak memperkosa, anak mencuri tidak lagi dikenai sanksi hukum. Istilah kenakalan remaja sudah disalahgunakan untuk meloloskan kejahatan. Ahli hukum yang jujur dan berani harus bicara tegas dalam soal begini ini.
0
1
Hukum harus tidak pandang bulu, sebab kalau mengikuti logika Komite macam-macam itu, nanti anak membunuh, anak memperkosa, anak mencuri tidak lagi dikenai sanksi hukum. Istilah kenakalan remaja sudah disalahgunakan untuk meloloskan kejahatan. Ahli hukum yang jujur dan berani harus bicara tegas dalam soal begini ini.
0
3
Hukum harus memberikan jawaban dan arah yang tepat bagi peristiwa ini , agar tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari. Fenomena pengemudi di bawah umur bukanlah hal baru ataupun langka sejak dulu , dan hal ini tidak bisa terus ditolerir sehingga kecenderungannya terus meningkat. Tragedi seperti ini harus mempunyai jawaban atas pertanggungjawaban, dan mengingat pelaku adalah anak di bawah umur maka dengan sendirinya seharusnya pengawas /pengampu/orang tua yang menjadi penanggung jawab karena lalai dalam menjalankan fungsi sebagai pengayom. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab dalam mencukupi kebutuhan materiil anak namun juga pemberian arahan moral dan pendidikan dalam masyarakat, ucapan maaf tidak cukup apalagi kecelakaan ini menelan korban jiwa, ketegasan hukum tanpa memalingkan asas keadilan sosial harus ditegakkan bila tidak.....cepat atau lambat kejadian serupa (semoga tidak) akan terulang.
Wajib Baca!
X