Jejak Indonesia dalam Perdamaian Filipina Selatan

Jejak Indonesia dalam Perdamaian Filipina Selatan

Hassan Wirajuda. TEMPO/Tri Handiyatno

TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia, sebagai Ketua Komite Perdamaian untuk Filipina Selatan dari Organisasi Konferensi Islam (OKI), sudah cukup lama mempersiapkan pertemuan 16 September 2013. Agenda itu merupakan kelanjutan dari pertemuan antara pemerintah Filipina dan Moro National Liberation Front (MNLF), yang tahun sebelumnya digelar di Bandung, Jawa Barat; dan Solo, Jawa Tengah.

Namun, sebuah surat dari MNLF pada 13 September membuat pertemuan itu tak jadi terlaksana. “Inti suratnya berisi permintaan maaf tidak dapat hadir dalam pertemuan 16 September karena situasi di Zamboanga,” kata Direktur Organisasi Internasional Sosial Budaya dan Negara Berkembang, Direktorat Jenderal Multilateral, Kementerian Luar Negeri RI Arko Hananto Budiadi, Jumat pekan lalu. “Bukan pembatalan, tapi penundaan.”

Insiden Zamboanga adalah penyerbuan sekitar 300 pasukan bersenjata MNLF ke Zamboanga City, Filipina Selatan, 9 September lalu. Mereka menilai Filipina mengingkari perjanjian damai 1996, yang dimediasi oleh Indonesia pada 1996. Penyerbuan itu berujung pada kontak senjata dengan aparat keamanan Filipina yang masih berlangsung hingga kemarin dan telah menewaskan 125 orang, termasuk 99 dari MNLF.

Jejak Indonesia...

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X