indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Ateisme Jadi Mata Pelajaran di Sekolah Irlandia

Ateisme Jadi Mata Pelajaran di Sekolah Irlandia

Sejumlah orang melewati bangunan kosong yang telah ditutupi oleh karya seni agar terlihat lebih menarik, di Bushmills, Causeway Coast, Irlandia, Senin (19/8). REUTERS/Cathal McNaughton

TEMPO.CO, Dublin - Irlandia, negara yang 84 persen penduduknya menganut Katolik, akan menjadi negara pertama di dunia yang mengajarkan prinsip dasar ateisme di sekolah. Guardian melaporkan, semua siswa di sekolah multidenominasional--saat ini jumlahnya sekitar 16 ribu murid--akan menerima pelajaran sistem kepercayaan sekuler itu mulai September tahun depan.

Kurikulum baru, yang juga termasuk humanisme, dan agnostisisme, sedang dirancang bersama Educate Together--sebuah organisasi non-pemerintah yang bertanggung jawab atas 68 sekolah multidenominasional--dan Atheist Ireland, organisasi yang didirikan untuk mempromosikan ateisme, etis, dan paham sekuler.

Dalam situsnya, Atheist Ireland menjelaskan bahwa mereka belum memutuskan kelompok umur mana yang akan menjadi yang pertama untuk menerima pelajaran ateisme. Namun mereka menyatakan siap, bahkan untuk kelompok usia paling muda, 4-13 tahun. Mereka telah memproduksi 10 bahan ajar, masing-masing untuk 30 dan 40 menit, dan akan mengunggah seluruhnya di situs web mereka dan melalui aplikasi smartphone.

Meski masuk dalam kurikulum, siswa yang mendapat pengajaran itu hanya sebagian kecil, atau sekitar 7 persen saja. Pasalnya, saat ini sebanyak 93 persen anak-anak Irlandia menuntut ilmu di sekolah yang dikelola oleh gereja Katolik.

Salah satu pendiri Atheist Ireland, Michael Nugent, menyatakan monopoli agama pada pendidikan membuat rencana pembelajaran barunya begitu penting. "Hal tui diperlukan karena sistem pendidikan Irlandia telah terlalu lama bias dan mendukung indoktrinasi agama," katanya.

GUARDIAN | TRIP B

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X