indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Indonesia Vs Cina Hanya Ditonton 5.000 Orang

Indonesia Vs Cina Hanya Ditonton 5.000 Orang

Pemain Indonesia Elie Aiboy berebut bola dengan pemain Australia Scott Jamieson dalam pertandingan Pra-Piala Asia di Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (28/1). Skor imbang 0-0. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Pertandingan sepak bola Pra-Piala Asia 2015, Indonesia melawan Cina, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 15 Oktober mendatang, hanya boleh disaksikan 5.000 penonton. Pelarangan kehadiran penonton pada pertandingan itu akibat ketidaktertiban penonton Indonesia dalam beberapa penyelenggaraan pertandingan internasional di Indonesia.

Namun Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memberikan kelonggaran kepada Indonesia dengan mengizinkan pertandingan Indonesia melawan Cina disaksikan 5.000 penonton. “Kami tidak memberlakukan tiket masuk dalam laga Indonesia melawan Cina,” kata Direktur Marketing PSSI Edhi Prasetyo pada konferensi pers di Jakarta, Rabu, 2 Oktober 2013. “Kami akan memberikan kaus timnas (tim nasional) asli kepada partner PSSI yang akan menonton.”

Meski begitu, partner PSSI itu tidak bisa menonton secara gratis. Menurut Edhi, mereka yang diundang atau berminat menonton wajib mengganti kaus timnas yang diberikan kepada mereka. Penonton yang duduk di kursi VVIP diwajibkan membayar Rp 3,5 juta per orang. Sedangkan yang duduk di kursi VIP harus membayar Rp 2,5 juta per orang.

“Kami akan menyervis mereka,” ujar Edhi. Servis itu, kata dia, berupa makan-minum gratis di kedai yang disediakan di sepanjang lorong Pintu XI.

Indonesia dikenai sanksi AFC akibat ulah penonton yang tidak tertib sejak menyaksikan pertandingan babak kualifikasi Piala Asia U-22 di Riau pada 2012 hingga pertandingan melawan Arab Saudi pada Pra-Piala Asia di Stadion Gelora Bung Karno, 23 Maret 2013. Karena ini, PSSI dihukum AFC dengan bermain tanpa penonton dan denda US$ 15 ribu.

GADI MAKITAN

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X