indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Menlu Marty: Hubungan Indonesia-Singapura Aman  

Menlu Marty: Hubungan Indonesia-Singapura Aman  

Marty Natalegawa. TEMPO/Natalia Santi

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan hubungan bilateral dengan Singapura tak terganggu ketegangan terkait dengan penamaan KRI Usman Harun. Menurut dia, hubungan ekonomi kedua negara terus berjalan baik dan saling membutuhkan.
"Menteri Koordinator Ekonomi Hatta Rajasa di Singapura telah menguatkan hubungan itu di bidang ekonomi," kata Marty, saat ditemui di Jakarta Convention Centre, Selasa, 11 Februari 2014.

Ia menyatakan kedua negara harus mengelola hubungan dan ketegangan yang saat ini terjadi dengan baik. Kedua negara adalah tetangga yang memiliki kepentingan bersama. Soal penamaan kapal perang KRP Usman Harun, yang diprotes Singapura, tanpa maksud untuk tidak bersahabat.

Pada tahap perencanaan, Indonesia sama sekali tak bermaksud menyinggung. Nama Usman Harun adalah bentuk penghargaan terhadap dua anggota Marinir yang tewas dalam tugas negara.


"Saya kira sudah dikelola dengan baik. Saya yakin Singapura akan memahami pendekatan seperti itu."

Menteri Luar Negeri Singapura K. Shanmugam telah menyampaikan protes kepada Menlu Marty Natalegawa perihal KRI Usman Harun. Singapura menganggap penamaan tersebut akan menyakiti hati keluarga korban pengeboman 1965.

TNI Angkatan Laut memberi nama kapal jenis frigat buatan Inggris dengan gabungan nama dua anggota Komando Korps Operasi atau Marinir, yaitu Usman Haji Mohamed Ali dan Harun Said. Keduanya meninggal dalam eksekusi hukuman gantung di Singapura pada Oktober 1968 karena tertangkap sebagai pelaku pengeboman di Macdonald House.

Namun demikian, keduanya disambut sebagai pahlawan oleh masyarakat Indonesia saat jenazahnya dibawa pulang. Keduanya bahkan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Keduanya dinilai sebagai prajurit yang tewas dalam tugas negara meski menyebabkan tiga orang tewas dan 33 orang mengalami luka.

Ketegangan dua negara atas peristiwa bom 1965 ini sendiri dipahami telah selesai saat Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew menabur bunga di makam Usman dan Harun pada 1973.

FRANSISCO ROSARIANS

Berita lain:
Reaksi Anggito Saat Dilapori Korupsi Dana Haji
Jokowi Diminta Audit Busway 'Baru tapi Bekas'
Keluarga Masih Bungkam Soal Foto Asmirandah
Kantor Importir Bus Transjakarta tanpa Aktivitas
Kasus Sisca Yofie, Ini Kesaksian Istri Terdakwa

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X