Mengenang Tragedi Adam Air dan Air France  

Mengenang Tragedi  Adam Air dan Air France     

Seniman India Sudarshan Patnaik menyelesaikan patung pasir yang dibuat untuk mendoakan keselamatan penumpang pesawat Malaysian Airlines penerbangan MH370, di pantai Puri, India (9/3). Pesawat ini membawa 227 penumpang dan 12 awak menghilang di Laut Cina Selatan pada Sabtu Lalu saat terbang dari Kuala Lumpur ke Beijing. REUTERS/Stringer

TEMPO.CO, Jakarta - Tragedi yang dialami Malaysia Airlines MH370 mengingatkan dunia penerbangan Indonesia pada tragedi pesawat Adam Air pada 1 Januari 2007. Dunia penerbangan Perancis juga pernah mengalami tragedi yang mirip dengan Adam Air dan Malaysia Airlines. Pesawat Air France hilang kontak pada Juni 2009 lalu. Bagaimana peristiwa tragis itu terjadi? (Baca: Masih Misteri, Musabab Insiden Malaysia Airlines)


Pesawat Boeing 737-400 Adam Air pada 1 Januari 2007 pukul 12.59 WIB bertolak dari Bandara Juanda, Surabaya. Sesuai jadwal, penerbangan pesawat dengan nomor DHI 574 seharusnya mendarat di di Bandara Hasanuddin, Makassar, pukul 14.25 WIB, sebelum melanjutkan ke penerbangan ke Manado.

Pada pukul 14.06 WIB, pilot Adam Air menghubungi ATC Bandara Hasanuddin, Makassar. Ia mengabarkan pesawat terkena crosswind. Namun, pada pukul 14.07 WIB, Adam Air hilang dari pantauan radar sekitar 157,4 kilometer arah barat laut Makassar. Waktu itu pesawat berada dalam ketinggian 10,668 meter. Sampai batas akhir bahan bakar pesawat Adam Air pukul 17.00, keberadaan pesawat belum juga diketahui.

Keberadaan pesawat Adam Air baru menemukan titik terang setelah seminggu lebih dilakukan pencarian. Nelayan di pesisir Desa Bojo, Kabupaten Barru, pada 9 Januari 2007 menemukan puing-puin pesawat. Kotak hitam Adam Air baru ditemukan 28 Agustus 2007 di kedalaman 2000 meter di perairan Majene, Sulawesi Barat.

Dari rekaman kotak Hitam, KNKT menyimpulkan kecelakaan yang menewaskan 102 penumpang itu disebabkan oleh cuaca buruk dan kerusakan alat navigasi.

Rentetan kejadian saat itu menggambarkan pesawat Adam Air terbang dalam kondisi cuaca buruk. Pukul 13.29 WIB menara pengawas mendapati Adam Air berbelok di luar rute. Kemudian pukul 13.37, menara pengawas Ujung Pandang meminta Adam Air kembali arah semula. Waktu itu pilot dan kopilot berdiskusi tentang rusaknya alat navigasi.

Pukul 13.56 pesawat mulai menukik. Pilot waktu itu berusaha memperbaiki posisi pesawat. Pukul 14.09, pesawat tak bisa dikontak lagi. Dari rekaman kotak hitam tercatat berhenti merekam pada ketinggian 2.743 meter, atau 20 detik sebelum terdengar suara pukulan keras dua kali.

Kerasnya benturan pesawat dengan air tidak dapat dibayangkan. Kotak hitam mencatat ketika menghujam laut pesawat sedang melaju dengan kecepatan 1.105 kilometer per jam.


Pesawat Air France, Juni 2009, mengalami musibah. Pesawat Airbus A330-200 termasuk pesawat canggih yang mampu tebang dengan kecepatan 880 kilometer per jam dengan ketinggian jelajah 10.700 meter di atas permukaan laut. Sejatinya Air France dengan nomor penerbangan 447 melakukan terbang malam pada 31 Mei 2009 dari Rio de Janeiro menuju Kota Paris.

Namun, Air France hilang sekitar 300 kilometer dekat Kepulauan Fernando de Noronha, Brasil. Korban yang tercatat 216 orang penumpang dan 12 orang kru.

Pada 2 Juni 2009, pesawat pencari dari Angkatan Udara Brasil melihat puing Air France di atas Samudera Atlantik. Ditemukan juga kursi, jaket pelampung, dan ceceran kerosin di lautan. Lokasi penemuan itu sekitar 650 kilometer utara Kepulauan Fernando de Noronha, Brasil.

Pencarian hingga 17 Juni baru menemukan 50 jenazah, meskipun belum menemukan badan pesawat. Awal Mei 2011 dua buah kotak hitam berhasil ditemukan dan diangkat dari reruntuhan pesawat.

Lamanya penemuan kotak hitam Air France disebkan kotak hitam terkubur di kedalaman 3.900 meter di dasar Samudra Atlantik. Kemudian pada Juni 2012 sebagian hasil rekaman kotak hitam dirilis dan terungkap kapten pilot Marc Dubois waktu kejadian pesawat hilang tidak ada di kursinya. Sang kapten baru kembali setelah dipanggil dua kopilotnya. Waktu itu dari rekaman kotak hitam kedua kopilot kesulitan mengendalikan pesawat dalam kondisi badai.








EVAN | PDAT | Sumber Diolah Tempo

Komentar (6)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
5
1
bangsa yg sakit, sampe2 sebuah bencana pun dijadiin "kebanggaan" dan dibanding-bandingin. Emang kualitas tempo sekarang bener2 separah ini ya? Berita bombastis, provokatif, fakta sering ngaco.. bener2 ga beda ama koran2 ga jelas yg biasa dijual di terminal.
0
0
Misteri pesawat MAS belum jelas terungkap, pencarian masih terus berlangsung. Masih terlalu pagi untuk mengambil kesimpulan apapun.
1
1
turut prihatin dan ikut berduka cita.. tak ada yang pernah menduga sebelumnya kejadian ini.. tak ada yang pernaha tahu bahaya akan datang.. semua tampak biasa saja,sampai ketika bahaya menjadi bencana.. antisipasi bahaya.. itu jauh lebih baik.. pelajari ilmu selamat.. agar selamat dalam segala keadaan.. dalam perjalanan,di mana saja.. dengan izin Allah SWT
0
1
@James: namanya juga perbandingan Pak De. Selalu ada dua sisi...sama halnya dengan Putih-Hitam a.k.a JUVENTUS. Lain dari situ berarti abu-abu ato KW ;p
1
7
Saya berhenti membaca artikel ini sampai di paragraf ke-3. Data yang digunakan tidak valid. Pertama, tumpahan minyak di laut hingga saat ini masih di tes di lab dan belum keluar hasilnya, jadi belum tentu avtur. Kedua, serpihan pesawat sama sekali belum ditemukan. Mengenai laporan adanya objek yang menyerupai pintu dan ekor bagian pesawat, itu tidak benar. Besar kemungkinan laporan tersebut salah atau bahkan palsu. Artikel ini terlalu terburu-buru dalam menyimpulkan dan tidak sabar untuk membandingkan dengan peristiwa serupa. Sumber: http://cnn.it/1hZj9uC
Selanjutnya
Wajib Baca!
X