Begini Cara Komunitas Museum Menunggu Waktu Berbuka Puasa

Editor

Raihul Fadjri

Pengungjung melihat sejumlah koleksi topeng milik Andono dan Tripurwanto pada gelarang pameran topeng bertajuk The Power of TOPENG di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, 20 November 2015. TEMPO/Pius Erlangga
Pengungjung melihat sejumlah koleksi topeng milik Andono dan Tripurwanto pada gelarang pameran topeng bertajuk The Power of TOPENG di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, 20 November 2015. TEMPO/Pius Erlangga

TEMPO.CO, Yogyakarta - Komunitas Yogyakarta Night at The Museum menggelar acara Ramadan di sejumlah museum di Yogyakarta. Biasanya, kegiatan berkunjung ke museum dilakukan pagi hari atau malam hari pukul 18.30-22.00. “Kini kami gelar sore hari menjelang berbuka hingga setelah berbuka puasa,” ujar Ketua Komunitas Yogyakarta Night at The Museum Erwin Djunaedi, Kamis, 30 Juni 2016.

Kegiatan ini pertama kali digelar pada 2015 di Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta. Sembari menunggu azan magrib, mereka berlatih gamelan. Saat Ramadan 2016, sudah ada sembilan kali kegiatan yang digelar di sembilan museum di Yogyakarta. Empat kali kegiatan di Museum Sonobudoyo pada 15-18 Juni 2016, sisanya di Museum Monumen Jogja Kembali, Museum Affandi, dan Museum Benteng Vredeburg. “Di Sonobudoyo dilakukan empat kali karena museum itu sangat kompleks,” tutur Erwin.

Informasi tentang kunjungan museum dalam program Ramadan di Museum itu disampaikannya melalui media sosial. Ternyata, antusiasme masyarakat tinggi. Jumlah pendaftar selalu melebihi kuota 50 orang yang ditentukan. Ddua kunjungan awal diikuti 50 peserta, sedangkan dua kunjungan setelahnya diikuti 60 orang. Acara dilaksanakan pukul 15.30-18.30, dengan rangkaian registrasi, touring atau jelajah museum selama 1 jam, dan diskusi serta buka puasa bersama.

Kunjungan yang dilakukan pada 15 Juni 2016 diawali dengan touring di halaman museum yang menjadi lokasi penempatan arca kuno. Ada arca Ganesha, lingga, dan sejumlah meriam bertarikh 1871 dan 1846 Masehi. Arca itu  hanya menjadi pajangan dan hiasan taman. Karena itu, pengunjung hanya melewati benda purbakala itu tanpa tahu sejarahnya. “Selama ini, keberadaan arca-arca itu tak pernah ada yang menjelaskan,” ucap Erwin.

Kunjungan kedua dilakukan pada16 Juni 2016 di storage koleksi sejarah peradaban Islam di Jawa. Sejumlah koleksi yang disimpan dan dipelajari, seperti Alquran yang ditulis tangan, babad tokoh yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa, porselen Cina yang dibawa Laksamana Cheng Ho, dan sajadah dari anyaman daun kelapa yang ditemukan pada abad 15-16 yang menjadi penanda awal masuknya Islam ke Nusantara.

Kunjungan ketiga dilakukan pada 17 Juni 2016 di storage koleksi wayang dan topeng. Ada aneka wayang bergaya Surakarta, Yogyakarta, dan Cina. Ada pula topeng bergaya Yogyakarta, Cirebon, Surakarta, dan Bali. Kemudian, kunjungan terakhir dilakukan pada 18 Juni 2016 di storage kebudayaan Bali. “Setelah diskusi, digelar buka bersama dan salat magrib di museum,” kata Erwin, yang juga salah satu pendiri komunitas museum itu. Nama komunitas itu terinspirasi dari judul film Night at The Museum sekuel kedua.

Kunjungan ke Sonobudoyo gratis bagi peserta. Sebab, tiket masuk dan makan ditanggung museum. Komunitas Yogyakarta Night at The Museum dibentuk pada 2013 oleh lima mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dari jurusan sejarah dan pariwisata.

PITO AGUSTIN RUDIANA