Pengakuan Kepala Polri
Jum''at, 03 Februari 2012 | 05:09 WIB
Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo terkesan masih menutup-nutupi kasus meninggalnya Budri dan Faisal di tahanan. Ia mengakui polisi menganiaya mereka, tapi tidak menyebabkan kematian. Sikap yang kurang terbuka seperti ini akan membuat khalayak semakin kecewa.
Tahanan kakak-adik, Budri M. Zen dan Faisal Akbar, itu tewas pada 28 Desember tahun lalu. Menurut polisi, keduanya ditemukan mati gantung diri di kamar mandi ruang tahanan Kepolisian Sektor Sijunjung, Sumatera Barat. Kematian janggal ini terbongkar setelah orang tua mereka mengadu ke sejumlah lembaga di Jakarta.
Setelah dipersoalkan banyak pihak, Jenderal Timur akhirnya memang mengakui bahwa polisi Sijunjung menganiaya kedua tahanan itu. Tapi ia mengatakan kekerasan yang dilakukan saat meminta keterangan kasus pencurian mobil itu bukan penyebab kematian mereka. Timur berkukuh bahwa Budri dan Faisal meninggal karena gantung diri.
Publik tentu sulit mempercayai penjelasan tersebut selama misteri kematian dua remaja itu tidak diungkap tuntas. Kasus bunuh diri selalu memiliki tanda-tanda khusus, bukan hanya ciri-ciri fisik pada mayat, tapi juga gejala sebelum mereka mengakhiri hidup. Semua ini tak pernah dijelaskan oleh kepolisian.
Sekalipun sembilan polisi Sijunjung akan diseret ke pengadilan dalam kasus penganiayaan Budri-Faisal, orang bisa memperkirakan mereka tak akan dihukum berat. Sebab, sejak awal Kepala Polri seolah sudah membentengi bahwa anak buahnya tidak membunuh tahanan. Kemungkinan kasus bunuh diri itu direkayasa oleh polisi juga tak bakal terungkap.
Bukannya membuat citra kepolisian membaik, cara menangani kasus Budri-Faisal justru semakin merusak kredibilitas polisi. Apalagi publik juga tidak puas terhadap kinerja polisi secara umum, mulai urusan pengaturan lalu lintas hingga penanganan kasus korupsi.
Citra buruk itu, misalnya, tergambar dari survei yang dilakukan Imparsial. Lembaga swadaya masyarakat ini Juli lalu melakukan jajak pendapat terhadap sejumlah warga Jakarta. Mereka ditanyai soal kinerja polisi, dan sebagian besar menyatakan tidak puas. Ketidakpuasan terbesar adalah soal penanganan korupsi (78 persen), dilanjutkan penanganan lalu lintas (76,6 persen). Memang perlu dilakukan studi lebih luas dan mendetail untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang kinerja polisi. Namun survei kecil itu tampaknya sudah mewakili pendapat kita kebanyakan.
Kepolisian selama ini juga kurang transparan mengenai penanganan suatu kasus. Tak ada penjelasan yang terang-benderang, misalnya sejauh mana pengusutan kasus proyek Nazaruddin, bekas Bendahara Partai Demokrat. Soalnya, sebagian proyek Nazar diusut oleh polisi, selain Komisi Pemberantasan Korupsi. Begitu pula kasus kerusuhan Mesuji, bentrokan di Bima, dan seterusnya. Selalu tersisa misteri dalam hampir setiap kasus yang diusut oleh kepolisian.
Tragedi Budri-Faisal akan menambah panjang deretan itu. Sulit mengharapkan polisi yang menelanjangi dirinya sendiri, kecuali jaksa dan hakim mampu membongkar misteri bunuh diri itu di pengadilan.