Viewed
7461
Senin
03
Des
2012

Masjid Al-Manshur, Saksi Perjuangan Melawan Belanda

TEMPO.CO, Jakarta : Ada salah satu masjid yang dahulu kala fungsinya bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan juga sebagai tempat memberikan pendidikan mental masyarakat untuk melawan penjajah. Masjid ini terletak di jalan Sawah Lio, Jembatan Lima, dan dinamakan Masjid Al-Manshur.

Masjid Kampung Sawah, demikian masyarakat sekitar dahulu menyebutnya, dibangun pada tahun 1717 Masehi oleh Abdul Mihit yang datang dari Mataram.

Adalah kyai haji Mohammad Manshur, keturunan ke empat dari Abdul Mihit yang melanjutkan perjuangan melawan Belanda dan dari dalam masjid Al-Manshur ini pula beliau melakukan perlawanan.

Masjid ini memiliki arsitektur bergaya Arab, serta ruang utamanya berbentuk persegi empat dengan ukuran 12 x 14,4 meter persegi. Seperti bangunan masjid tua lainnya, Al-Manshur berdiri tegak dengan ditopang 16 buah tiang penyangga atau saka guru dan empat diantaranya berada di ruang utama.

Tampak dari luar masjid sebuah menara yang dibangun dengan gaya arsitektur India, dan masih terlihat begitu kokoh. Menara yang dibangun tahun 1950-an ini adalah sebagai pengganti menara yang berada di dalam ruang utama masjid yang dahulu difungsikan sebagai tempat mengumandangkan adzan.

Selain empat saka guru yang masih berdiri tegak, mimbar, jendela, dan pintu adalah salah satu bagian dari masjid yang masih asli sejak pertama kali didirikan. Dan untuk menghormati jasa-jasa Kyai Haji Manshur, ia dan keluarganya dimakamkan di sebelah barat masjid tersebut.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO (PDAT)
Narator : Lily Bertha Kartika

Komentar (0)