Pangan

Bank Dunia: Harga Komoditas Pangan Turun 14%  

Bank Dunia: Harga Komoditas Pangan Turun 14%  

Bank Dunia mengeluarkan kajian yang menyatakan bahwa harga pangan global sejumlah komoditas rata-rata menurun sekitar 14 persen.

  • Kedaulatan Pangan

    Kedaulatan pangan masuk sembilan agenda prioritas Presiden Joko Widodo (Nawa Cita). Ia berjanji akan membangun kedaulatan pangan Indonesia berbasiskan pertanian rakyat. Tampaknya implementasi kedaulatan pangan Presiden Jokowi masih jauh dari harapan. Bahkan, bisa jadi kedaulatan pangan berubah menjadi kedaulatan industri pangan. Bagaimana tidak, pada April lalu, badan usaha milik negara (BUMN) PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjalin kerja sama dengan Cargill dan Monsanto dalam bidang pertanian Indonesia.

  • Keamanan Pangan

    Banyak praktek tidak terpuji menyangkut produksi dan peredaran pangan yang dibongkar polisi belum lama ini. Diawali dari praktek pengolahan kikil dan kulit yang menggunakan pengawet formalin, kemudian praktek pembuatan bakso dari daging celeng (babi hutan), pabrik es batu yang menggunakan bahan kimia dan bahan baku air yang mengandung bakteri berbahaya, serta terbongkarnya praktek produksi jajanan anak dengan menggunakan bahan kedaluwarsa di sebuah tempat di Jawa Timur.

  • Pragmatisme Swasembada Pangan

    Kinerja tiga komoditas pangan pokok dan strategis itu tidak mengalami perbaikan lantaran basis produksi tidak membaik, baik dalam hal lahan maupun inovasi teknologi produksi.

  • Jokowi-JK dan Go Organic

    Jika dibedah, tidak banyak hal yang dilakukan pemerintah dalam komitmen Go Organic.

  • Ketahanan yang Berbasis Tepung

    Selama ini ada kebijakan yang kurang tepat yang dilaksanakan pemerintah kita. Kebijakan pilihan tunggal atas pangan, yaitu beras, sebenarnya telah mengorbankan biodiversitas alamiah pangan kita. Stigma underdog atas jenis-jenis pangan lain seperti jagung, sagu, dan singkong tanpa terasa telah membebani orientasi pangan tunggal yang menjadi sangat mahal dan relatif sulit dikendalikan.

  • Teknologi dan Keamanan Pangan

    Pada 2050, populasi dunia diperkirakan akan mencapai lebih dari 9 miliar jiwa, di mana 60 persen dari total tersebut, atau sekitar 5 miliar jiwa, berada di Asia. Ini berarti, Asia-sebagai benua dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia-akan menghadapi tantangan terbesar dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. Sayangnya, komoditas makanan pokok masyarakat, seperti beras, gandum, dan jagung, jumlah produksinya masih berada jauh di bawah yang seharusnya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, negara-negara di Asia harus mampu meningkatkan produksi pertanian secara signifikan.

  • Orkestra Pangan tanpa Dirigen  

    Tak seperti biasanya, 29 Oktober lalu, Presiden SBY lewat akun @SBYudhoyono mengunggah tujuh tweet ihwal pertanian-pangan. Intinya, tweet itu berisi kesepakatan antara Presiden SBY, menteri terkait, gubernur, dan dunia usaha untuk meningkatkan produksi lima bahan pangan pokok: beras, jagung, gula, kedelai, dan daging sapi. Pada 2014, ditargetkan produksi beras mencapai 41 juta ton (agar bisa surplus 10 juta ton), kedelai lebih dari 1 juta ton, gula 3,1 juta ton, jagung 20 juta ton, dan daging sapi 462 ribu ton. Keterpaduan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia usaha diyakini bisa mewujudkan hal itu.

  • Makna Meningkatnya Harga Pangan

    Bagi negara-negara yang mengalami penjajahan, fenomena land grabbing bukanlah hal yang baru. Namun sekarang ia dikemas dalam nama zaman globalisasi, zaman yang mengesahkan globalisme lebih tinggi daripada nasionalisme, ketika ekonomi dan perdagangan bergerak tidak mengenal batas-batas wilayah suatu negara.

  • Kedaulatan Pangan Lokal Nusa Tenggara

    Warga yang tinggal di daerah kering rata-rata memakan jagung atau umbi-umbian sebagai makanan pokok.