Toleransi | Kerukunan Beragama

Ridwan Kamil: Bandung Majemuk, Berbeda Agama Hal Biasa  

Ridwan Kamil: Bandung Majemuk, Berbeda Agama Hal Biasa  

Di masa kepemimpinannya, Ridwan Kamil berjanji akan selalu menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama.

  • Masalah di Tolikara

    Penyerangan yang dilakukan sekelompok orang terhadap umat Islam ketika melakukan salat Idul Fitri di Tolikara, Papua, membawa babak baru dalam penanganan masalah Papua. Seusai penyelesaian masalah Aceh lewatmemorandum of understandingdi Helsinki, Finlandia, saya sudah beberapa kali menulis tentang pentingnya penyelesaian masalah Papua secara komprehensif. Untuk pendekatan kalangan separatis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah memberikan surat tugas kepada dr Farid Husain, tokoh di belakang layar dalam penyelesaian masalah Aceh. Dalam sebuah diskusi di The Indonesian Institute, dr Farid menunjukkan sejumlah foto kegiatannya di hutan-hutan Papua.

  • Lonceng Peringatan Intoleransi

    Praktek intoleransi di Indonesia memasuki situasi siaga satu. Bunyi peringatan tentang buruknya bangunan toleransi umat beragama tersebut disampaikan Komnas HAM. Menurut data yang dihimpun, sepanjang triwulan pertama 2015 terdapat lima pelanggaran kebebasan beragama. Secara garis besar, bentuk pelanggaran paling menonjol berkaitan dengan rumah ibadah, dari pelarangan pembangunan, penggunaan, penyegelan, hingga penyerangan.

  • Konflik dan Harmoni

    Keberagamaan di Indonesia sedang darurat harmoni. Munculnya berbagai spanduk anti-Syiah di berbagai daerah menambah panjang rentetan kriminalisasi kelompok agama minoritas. Ada agenda terselubung yang dikait-kaitkan dengan sokongan dana berlimpah dari luar negeri, untuk menimbulkan konflik agama di Indonesia. Tak ayal, terjadinya baku hantam di Masjid Az-Zikra Sentul pimpinan Ustad Arifin Ilham, beberapa pekan lalu, adalah percikan awal.

  • Visi Keberagamaan Presiden

    Saat pertama kali terpilih menjadi Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) langsung menerima kunjungan Perdana Menteri Inggris Tony Blair di kediamannya. Di sana, Blair sempat bertanya kepada Jokowi ihwal langkah pemerintahannya ke depan dalam menghadapi gerakan ekstremis yang mengatasnamakan agama.

  • Belajar Perbedaan

    Saya akhirnya punya teman Kristen," ujar saudara sepupu saya. Ternyata memiliki kawan dari kalangan berbeda jadi kebanggaan tersendiri untuk beberapa orang, terlebih bagi orang yang tidak pernah keluar dari lingkaran yang dia miliki selama ini. Mungkin kegirangan yang sama juga ada pada mahasiswa Dr Rosida Sari dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry setelah ikut ceramah di gereja Protestan di Indonesia bagian barat di Banda Aceh.

  • Harmoni Keberagamaan

    Harmoni keberagamaan terbangun atas rasa ikhlas dan tulus. Tanpanya, kehidupan beragama terasa hambar.

  • Ahok dan Multikulturalisme

    Memang Ahok berbeda agama dengan pengikut FPI atau mayoritas penduduk DKI yang muslim. Tapi Ahok adalah gubernur yang punya legitimasi, apalagi acuan Ahok adalah UUD 1945 dan Pancasila.

  • Memprovokasi Perdamaian

    Pendeta Jacky Manuputty, penggerak "Provokator Perdamaian", melakukan apa yang ia sebut sebagai art for peace (seni untuk perdamaian) di Maluku sejak 2007.

  • Masjid Cheng Hoo

    Masjid Muhammad Cheng Hoo memberikan keteladanan penting tentang inklusivisme beragama. Masjid yang terletak di Kota Surabaya ini bisa dijadikan referensi bagi masjid dan tempat ibadah lain dalam mengatur pola interaksi dengan umat agama lain. Ketika mengumandangkan azan subuh, misalnya, muazin tidak menggunakan pengeras suara, sehingga warga sekitar yang mayoritas non-muslim tidak terganggu. Eksplanasi tersebut untuk menghindari pola-pola konflik yang berbasis perebutan aset massa. Apalagi, ketika pergumulan penyiaran agama telah melampaui batas-batas demarkasi teologi masing-masing agama, masjid menjadi momentum terbaik untuk menyebarkan ajaran agama yang moderat, toleran, dan menjunjung tinggi kepelbagaian.

  • Kerukunan Semu

    Mungkinkah kerukunan sejati antarumat beragama pada masa mendatang sekonyong-konyong bisa tercipta melalui peranti regulasi formal? Saya katakan, tidak! Sebab, muatan regulasi, entah berbentuk undang-undang maupun perda, berpotensi menciptakan sekat yang menghambat ruang interaksi kultural umat beragama. Alih-alih melahirkan suasana kerukunan yang berbasis kejujuran dan kesadaran sejati, kerangka filosofis dari istilah kerukunan justru semakin sumir karena masyarakat terfragmentasi oleh formalitas yang stagnan. Pola hubungan antarumat beragama hanya akan bersumbu pada pasal-pasal mati, bukan pada etika, ajaran, dan kearifan lokal.