Profesor Ariel Heryanto Masuki Usia Pensiun, Tapi Masih Akan Terus Berkarya

Logo BBC
Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Profesor Ariel Heryanto Masuki Usia Pensiun, Tapi Masih Akan Terus Berkarya

    Salah satu akademisi asal Indonesia yang bekerja di luar negeri adalah Profesor Ariel Heryanto. Dalam beberapa tahun terakhir, ia memimpin lembaga bernama 'Herb Feith Indonesian Engagement Center', bagian dari Monash University di Melbourne.

    Ariel memulai karir akademiknya di Universitas Satya Wacana di Salatiga, Jawa Tengah, hingga akhirnya bekerja di beberapa negara, termasuk Singapura dan Australia.

    Awal Maret lalu, Ariel mengakhiri tugasnya di 'Herb Feith Indonesian Engagement Center', sekaligus memasuki usia pensiun.

    'Herb Feith Indonesian Engagement Center' adalah lembaga yang dibuat untuk meningkatkan keterlibatan Australia dengan Indonesia dalam berbagai bidang.

    Pada awalnya, kami ingin bertatap muka dengan beliau, namun di tengah merebaknya wabah virus corona maka perjumpaan tersebut dibatalkan.

    Berikut wawancara wartawan ABC Sastra Wijaya dengan Profesor Ariel Heryanto yang dilakukan lewat email.

    Sekarang setelah pensiun dari Herb Feith, apa yang akan anda lakukan dalam hubungan dengan Monash?

    Saya pensiun dari kepegawaian lembaga, artinya tidak lagi menerima gaji sepeser pun.

    Tapi saya tidak pensiun dalam pengertian "retired" dalam bahasa Inggris, yakni tidak bekerja apa-apa.

    Saya sangat berbahagia mendapat kehormatan dari Monash University sebagai Emeritus Professor.

    Dengan status ini saya masih menjadi bagian dari kegiatan universitas, walau banyak yang bersifat sukarela dan informal. Saya sudah menerima undangan untuk menjadi dosen tamu.

    Juga ikut dalam panel membimbing tesis mahasiswa, walau bukan sebagai pembimbing utama. Saya siap membantu, jika dibutuhkan universitas dalam berbagai kegiatan mereka yang lain.

    Selama memimpin Herb Feith, pencapaian apa yang paling berkesan buat anda?

    Ada dua hal yang paling membahagiakan saya. Pertama, membangun kembali komunitas akademik di Monash University dan sekitarnya yang berfokus ke Indonesia.

    Dulu komunitas di sini pernah berjaya. Lalu sempat lesu atau tercerai-berai beberapa tahun.

    Kedua, menjadi bagian dari upaya universitas dan fakultas [Arts] untuk membina dan memperluas persahabatan dan kerjasama dengan berbagai mitra baru di Indonesia.

    Mungkin dalam hal ini, Monash berada di garis terdepan dalam pergaulan dengan Indonesia, jika dibandingkan universitas lain di Australia.

    Yang dulu pernah ada adalah kedekatan terbatas satu unit di Monash, yakni 'Centre of Southeast Asian Studies' dengan Indonesia. Sekarang universitas secara menyeluruh.

    Bagaimana anda melihat apa yang anda sudah lakukan selama ini?

    Di dunia akademik, saya belum ada apa-apanya. Seperti sebutir debu.

    Tetapi bila anda memahami latar belakang keluarga kami dari kelas sosial yang sangat sederhana, dan latar belakang orangtua saya yang melahirkan dan mengasuh saya, maka Anda bisa memahami betapa bersyukur dan mujur karir saya selama ini.

    Menjadi moderator dalam diskusi dengan penulis Dewi Lestari di Melbourne
    Menjadi moderator dalam diskusi dengan penulis Dewi Lestari di Melbourne sebagai bagian dari kegiatan Herb Feith Indonesian Engagement Center.

    Foto: koleksi pribadi


    Dulu akademisi banyak menulis untuk menyampaikan gagasan-gagasan mereka, apakah ini masih jadi cara yang efektif?

    Ya, jelas. Secara kelembagaan, setiap akademikus dituntut berkarya-tulis. Proses kerja menulis itu dipantau, dilaporkan dan dinilai secara berkala. Biasanya setiap tahun.

    Yang bekerja baik diberi penghargaan, atau kenaikan pangkat. Yang kurang dibina, ditegur, atau dihukum, jika bukan dikeluarkan.

    Tentu saja, kerja akademikus tidak hanya meneliti dan menuliskan laporan penelitian.

    Dalam jangka panjang, tidak ada masyarakat yang bisa bertahan dan maju tanpa sumbangan para sarjana dan akademikusnya.

    Tidak ada karya akademik yang bagus tanpa pengorbanan dan modal yang besari dari negara dan masyarakat yang bersangkutan.

    Maka layaklah jika investasi besar-besaran itu diharapkan menghasilkan sumbangan sebesar atau lebih besar daripada investasi yang sudah dikeluarkan.

    Ataukah keterlibatan di media sosial merupakan cara  yang harus diikuti untuk bisa tetap relevan?

    Kalau dibilang "harus" ya tidaklah. Atau mungkin "belum".

    Masalahnya media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi sebagian besar penduduk dunia.

    Artinya dunia tanpa media sosial menyusut semakin sempit. Siapa yang ingin terkucil di dunia yang menyempit itu?

    Tetapi tidak semua gagasan akademis layak atau mampu tertampung di media sosial, karena sosok dan watak mendasar media sosial itu serba singkat, sederhana, cepat.

    Ariel Heryanto bersama dengan mahasiswi PhD di Monash University Pratiwi Utami.
    Ariel Heryanto bersama dengan mahasiswi PhD di Monash University Pratiwi Utami.

    Foto: Koleksi pribadi

    Bagaimana pendekatan yang ideal menurut anda bagi akademisi untuk berbagi pemikirannya di media sosial?

    Saya tidak tahu bagi rekan-rekan akademikus yang lain, tapi bagi saya pribadi, media sosial itu melatih saya dua hal.

    Pertama, ia melatih saya menyampaikan gagasan secara singkat dan hemat kata.

    Kedua, ia melatih saya bertutur secara gamblang.

    Kedua hal itu mungkin kedengaran sepele. Tetapi sesungguhnya sangat penting, bahkan di dalam lingkungan akademik sendiri.

    Namun sejak awal, saya juga menyadari keterbatasan media sosial.

    Tidak semua gagasan dan tidak semua topik pas untuk dibahas apalagi diperdebatkan di media sosial.

    Misalnya, masalah-masalah yang sangat rumit, kompleks atau penuh nuansa.

    External Link: Facebook Ariel Heryanto

    Anda banyak memberikan komentar atau gugatan di media sosial, apakah maksudnya untuk memancing percakapan dan diskusi atau menyebarkan pikiran anda?

    Saya cepat bosan dengan apa yang saya kerjakan sehari-hari.

    Kalau ada 'apps' atau 'software' minta di-'update', saya tunggu, prosesnya lama.

    Saya buka media sosial sambil menunggu. Kalau saya mengalihkan atau meng-'copy' file yang besar dari satu folder ke folder lain, prosesnya lama, saya buka media sosial.

    Kalau saya nonton tv, lalu keluar iklan, saya buka media sosial.

    Tetapi, kalau sudah buka media sosial, bakat iseng dan usil saya kadang-kadang keluar secara tidak direncanakan.

    Buku Ariel Heryanto.jpg
    Salah satu buku yang ditulis Profesor Ariel Heryanto, berjudul Identitas dan Kenikmatan, pertama kali dirilis tahun 2015 dan sudah dicetak kelima kalinya di 2019.

    Supplied

    Bagaimana pendapat anda secara umum mengenai dunia akademisi di Indonesia sekarang? Dalam berbagai bidang produktivitas, gagasan yang bisa mengubah dunia, keterlibatan dalam politik praktis sehari-hari?

    Indonesia kaya akan orang yang cerdas.

    Tapi sayang, lembaga dan manajemen pendidikan di Indonesia tidak bertumbuh sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan para mahasiswa dan sarjana yang serba cerdas di sana.

    Tentu saja ada beberapa perkecualian. Tapi kita bicara secara umum pada tingkat nasional. Bukan hanya di kota-kota terbesar di sana.

    Terjadi ketimpangan serius antara orang-orang yang cerdas di satu pihak, dan kerja kelembagaan yang kurang cerdas.

    Akibatnya, sebagian besar mereka yang cerdas giat dan menyalurkan gagasan cemerlang serta waktu kerja mereka di luar lembaga pendidikan.

    Ada yang lari ke industri media. Ada yang ke LSM. Ada yang ke partai politik. Atau ke perusahaan swasta multi-nasional. Atau merantau ke luar Indonesia.

    Karena tenaga yang bagus-bagus itu terpental ke luar lembaga pendidikan, maka usaha membenahi di dalam lembaga jadi sulit, jadi seperti lingkaran setan.

    Simak berita-berita lainnya dari ABC Indonesia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.