Otak yang Berkabut, Tidak Bisa Jalan: Penderita COVID Masih Menunggu Jawaban Misteri Kondisi Mereka

Logo BBC
Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Callum terkena COVID sudah lebih dari setahun lalu namun gejala 'COVID jangka panjang' masih terasa. (Source: Supplied)

    Kasus penderita COVID jangka panjang diperkirakan akan meningkat di Inggris setelah adanya "Hari Kebebasan" di sana, sementara kalangan profesional dan penderita mengingatkan bahwa dampak jangka panjang ini akan membuat sistem kesehatan kewalahan selama beberapa tahun ke depan.

    Callum O'Dwyer yang sekarang berusia 29 tahun terkena COVID di awal lockdown di Inggris pada bulan Maret 2020.

    "Saya berada di flat saya sendiri dan merasa sesak napas hebat sehingga saya cuma bisa duduk di kursi dan berusaha bernapas sebisanya," kata Callum dari Skotlandia kepada ABC.

    "Bahkan mengangkat piring saja tidak kuat karena begitu lemahnya badan saya, dan saya tidak bisa menggunakan HP untuk mengirim pesan kepada yang lain."

    ADVERTISEMENT

    Sekarang sudah 16 bulan berlalu.

    Dia mengatakan vaksinasi yang didapatnya banyak membantu, namun rasa lelah yang dialaminya belum juga hilang dan sejak itu dia belum lagi bekerja.

    "Bahkan kegiatan sehari-hari yang biasanya enteng seperti mandi saja kadang perlu 20 menit, dan kemudian sesudah itu saya harus istirahat satu dua jam."

    Para pakar kesehatan di Inggris sekarang juga menghabiskan waktu untuk mencoba mengerti apa yang terjadi dan bagaimana dampak jangka panjang COVID ini mempengaruhi penderitanya. 

    Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10 persen penderita COVID akan mengalami dampak yang lebih panjang, dan setengah dari 73 ribu orang yang pernah dirawat di rumah sakit di Inggris mengalami satu atau dua komplikasi karenanya.

    Meski Inggris sekarang mencatat belasan ribu kasus baru setiap hari dan Kepala Medis Inggris mengatakan bahwa penderita COVID jangka panjang akan memburuk, Inggris sekarang sudah mencabut hampir semua pembatasan, termasuk aturan mengenakan masker.

    Seorang epidemiolog memperingatkan pencabutan pembatasan ini akan bisa menyebabkan kenaikan kasus sampai setengah juta.

    Pakar memperingatkan dampak COVID bagi warga muda

    Saat ini di Inggris ada 962 ribu orang yang menyatakan diri sendiri sebagai penyintas COVID, dan lebih dari 850 ribu diantara mereka mengatakan mendapatkan COVID dalam 12 minggu terakhir, menurut survei yang dilakukan Kantor Statistik Nasional Inggris.

    Mantan Direktur Kesehatan Publik Regional Inggris Dr Gabriel Scally khususnya mengkhawatirkan dampak COVID terhadap perkembangan otak anak-anak.

    "Itulah mengapa saya begitu tidak ingin infeksi virus ini bisa merebak di kalangan anak-anak karena otak mereka sangat rentan sekali," kata Dr Scally kepada ABC.

    "Otak mereka masih berkembang dan kita tidak tahu bagaimana virus ini akan meninggalkan jejak bagi kita di masa depan."

    Sebuah penelitian yang dilakukan dua universitas di Inggris,  University of Oxford dan Imperial College London melihat hasil pemindaian otak yang dilakukan sebelum dan sesudah seorang terkena COVID, dan menemukan adanya 'dampak nyata COVID-19 di otak".

    Ini meliputi adanya bagian kelabu yang hilang di berbagai bagian otak, yang diperkirakan berdampak bagaimana kita memproses informasi.

    Ini adalah gejala yang dirasakan oleh Callum, dimana dia mengalami kadang 'otaknya terasa beku'.

    "Saya seperti memiliki otak yang dimiliki lansia."

    Proses penyembuhan panjang dari berbagai gejala COVID

    Rebecca Logan bekerja sebagai perawat yang melakukan tes PCR terhadap pasien di Irlandia Utara ketika dia terkena COVID bulan April tahun lalu.

    Gejala yang dialaminya mulai dari halusinasi, kehilangan penciuman dan rasa, susah bernapas, sakit kepala sampai linu tulang.

    "Seiring berjalannya waktu, saya berusaha untuk kembali melakukan kegiatan normal, saya menyadari tubuh saya tidak mau melakukannya," kata Rebecca kepada ABC.

    "Pernapasan saya sesak lagi, detak jantung juga lebih cepat, bibir saya membiru, dan berjalan sedikit saja capeknya minta ampun."

    Survei yang dilakukan University College London menggunakan data dari 3700 penderita COVID jangka panjang yang berasal dari 56 negara menemukan adanya 200 gejala berbeda yang mempengaruhi 10 sistem organ dalam tubuh.

    Dari mayoritas yang disurvei diperlukan waktu 35 minggu bagi mereka untuk sembuh.

    Sebelum COVID, Rebecca juga adalah instruktur fitness dan sekarang dia hampir tidak bisa berjalan.

    Menggunakan tongkat untuk membantunya jalan membuat tangannya sakit, sehingga dia sekarang menggunakan kursi roda untuk keluar bersama anak-anaknya.

    "Kapan saja saya melakukan kegiatan agak berat, saya langsung sesak napas, detak jantung meningkat, dan rasa sakit di pinggang."

    Inggris sudah menghabiskan dana miliaranr rupiah untuk meneliti mengenai dampak jangka panjang COVID, dan sudah menghabiksan dana tambahan Rp2 triliun untuk membuat klinik khusus, namun untuk saat ini belum ada pengobatan untuk penderita jangka panjang COVID.

    Professor Gail Matthews dari Kirby Institute di University of New South Wales (UNSW) di Australia mengatakan mereka yang pernah dirawat di rumah sakit kemungkinan besar akan mendapatkan proses penyembuhan tradisional di sana.

    Namun secara internasional tidak jelas apa yang bisa dilakukan terhadap mereka yang masih memiliki gejala karena penyebabnya masih belum diketahui.

    Professor Matthews adalah peneliti utama di Australia untuk studi yang lebih kecil mengenai dampak COVID, dan menemukan bahwa 20 persen pasien di Australia masih belum sembuh seperti sedia kala seperti sebelum COVID.

    "Kami menemukan dampak jangka panjang COVID dirasakan semua kelompok usia," katanya.

    "Satu-satunya hal yang sudah jelas adalah seberapa parah penyakit awal. Mereka cenderung berusia sudah lanjut, pria, dan memiliki penyakit lain dan faktor lain yang bisa diduga seseorang terkena dampak panjang COVID adalah kalau dia perempuan."

    Informasi yang mereka dapatkan, khususnya terkait dengan sistem kekebalan tubuh, sudah dipergunakan secara internasional guna menjawab pertanyaan apa penyebab dampak jangka panjang COVID.

    "Penting sekali bagi kita semua untuk mengerti bahwa kita bisa terkena dampak jangka panjang COVID, dan juga dampak pendek (kematian), sehingga vaksinasi adalah pencegahan pertama untuk melindungi dari jangka panjang COVID," kata Professor Matthews.

    Hal tersebut disetujui oleh pakar penyakit menular Associate Professor di UNSW Holly Seale.

    Dia mengatakan kepada ABC bahwa menghubungkan isu-isu mengenai COVID jangka panjang yang sedang berlangsung adalah sesuatu yang perlu dilakukan di Australia.

    "Bagaimana pendapat komunitas mengenai COVID jangka panjang? Apa yang mereka ketahui soal COVID jangka panjang? Apakah ini akan membuat mereka lebih termotivasi untuk mendapat vaksinasi?"

    Proses penyembuhan yang panjang dan tidak menentu

    Bagi mereka yang masih sulit bernapas, susah berjalan, dan terus mengalami kelelahan yang luar biasa, ketidakpastian akan kesembuhan juga memperburuk situasi.

    "Saya tahu COVID adalah baru dan COVID jangka panjang juga baru namun tidak seorang pun bisa memberitahu saya apakah saya akan bertambah baik atau tidak," kata Rebecca Logan.

    Callum O'Dwyer setuju bahwa penderita COVID jangka panjang ini akan memberikan dampak besar bagi sistem layanan kesehatan.

    "Dampak jangka panjang dari virus ini belum diketahui, dan virus itu dalam banyak hal merusak berbagai aspek kehidupan saya, pada masa paling produktif dalam kehidupan saya," kata Callum.

    "Saya berharap dalam jangka panjang, semuanya akan membaik namun ini proses yang lambat dan tidak linear, karena kadang naik kadang turun."

    Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.