Logo ABC

Peran Pekerja Sektor Pertanian di Australia Ternyata Lebih Besar dari yang Diperkirakan

Reporter

Editor

ABC


Penelitian UNE menyimpulkan pekerja di bidang pertanian di Australia rata-rata berusia antara 40-44 tahun. (ABC Open contributor Brigid Price)

Sebuah penelitian terbaru di menyimpulkan, peran pekerja sektor pertanian Australia bagi perekonomian jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.

Sebuah data baru yang dikeluarkan oleh University of New England (UNE) yang berpusat di Armadale (New South Wales) mengatakan selama ini yang masuk dalam kategori data di Biro Sensus Australia bahwa pekerja pertanian hanyalah mereka yang bekerja di 'ladang pertanian".

Menurut penelitian terbaru ini, Biro Sensus tidak memasukkan profesi lain seperti ahli agronomi (ahli di bidang pertanahan), pengacara, dan akuntan ke dalam sektor pertanian.

Menurut pengacara bidang Agribisnis UNE, Lucie Newsome, para pekerja profesional di bidang pertanian ini berjumlah sekitar 14 ribu orang, dan setengahnya sebelumnya tidak digolongkan sebagai pekerja sektor pertanian.

"Kami sekarang melihat pekerjaan lain dalam jaringan sektor pertanian," kata Dr Newsome.

"[Pelaku] industri pertanian ternyata lebih berpendidikan, lebih majemuk dan lebih muda dari yang kami perkirakan sebelumnya."

Diperkirakan 3 persen dari mereka yang berkecimpung dalam industri pertanian berpendidikan setingkat universitas atau lebih tinggi.

Bila lebih banyak lagi pekerjaan profesional dimasukkan ke dalam kategori ini, maka angkanya menjadi 16 persen. Mereka kebanyakan menggunakan keterampilan di bidang manajemen bisnis dalam pekerjaan sehari-hari mereka.

Penelitian juga menyimpulkan bahwa bahwa sekitar 20 persen dari mereka yang memiliki ketrampilan di bidang pertanian tidak bekerja di sektor itu.

"Kalau kita memasukkan mereka yang berada di profesi lain, kita bisa melihat bahwa banyak orang yang dengan latar belakang pendidikan atau keterampilan di bidang pertanian sekarang bekerja di luar industri tersebut," kata Dr Newsome.

Empat puluh persen dari 13.390 orang di sektor ini tidak bekerja khusus di bidang pertanian, namun mereka memberikan kontribusi penting ke sektor tersebut.

Lebih dari 50 persen perempuan memiliki gelar sarjana di bidang pertanian, namun hanya sekitar 30 persen yang terlibat di bidang pertanian secara profesional.

"Kami menemukan bahwa perempuan yang sebelumnya bekerja di industri pertanian sekarang sudah beralih ke pekerjaan yang mereka ciptakan sendiri," katanya.

Rata-rata usia mereka yang sebelumnya 49 tahun juga sudah turun menjadi antara 40-44 tahun.

"Saya kira dalam penelitian ke depannya, saya ingin tahu apakah banyak pekerja yang harus bekerja di bidang lain karena tidak bisa menggantungkan penghasilan dari pertanian," kata Dr Newsome.

Mahasiswa memerlukan stabilitas

Hasil penelitian ini tidaklah mengejutkan bagi Cliny Gallagher dari Sekolah Pertanian Farrer Agricultural Memorial School.

Kepala sekolah di Tamworth tersebut mengatakan penghasilan yang stabil merupakan prioritas utama sehingga banyak siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas sambil bekerja di bidang pertanian dan pertukangan.

"Ada bisnis seperti rumah pemotongan hewan di Dubbo yang mempekerjakan anak-anak muda namun juga membantu mereka untuk belajar di universitas," kata Gallagher.

"Ini soal bagaimana mendapat penghasilan lebih tinggi. Mereka yang ingin bekerja di sektor pertanian, misalnya, akan belajar hal-hal khusus seperti inseminasi buatan supaya lebih berpeluang mendapatkan pekerjaan."

Gallagher mengatakan kurikulum di sekolah juga lebih beragam untuk mencerminkan kebutuhan industri.

"Saya kira banyak anak-anak muda yang menyaksikan bagaimana keluarga mereka harus bekerja keras untuk bertahan di industri ini, sehingga mereka memerlukan keterampilan lain untuk bisa mempertahankan penghasilan."

"Mereka harus melakukan diversifikasi. Mereka memerlukan pendapatan stabil di bidang pertanian, dan itulah gunanya pendidikan."

Peningkatan jumlah pemberi kerja yang mencari siswa untuk bekerja di tempat mereka juga terjadi di sekolah Farrer.

"Ada akuntan, firma hukum, dan ahli pertahanan yang menghubungi kami dan mencari siswa untuk dibiayai ke universitas dan kemudian bekerja dengan mereka dan tetap tinggal di kawasan pertanian," kata Gallagher.

"Selama ini saya belum pernah melihat persaingan sesengit ini dalam mencari siswa di bidang pertanian.

"Ini 50 persen sampai 100 persen lebih banyak dalam 20 tahun terakhir saya bekerja di sini."

Selain karena pandemi yang menyebabkan kurangnya tenaga kerja, Gallagher melihat faktor lain seperti kekeringan telah menyebabkan kurangnya tenaga kerja di bidang pertanian. 

"Kita lihat kekeringan di seluruh Australia sehingga banyak yang kemudian pergi untuk mencari pekerjaan lain. Sekarang mereka ingin pekerja itu kembali lagi."

 "Jadi mungkin sekarang industri pertanian ingin memastikan bahwa mereka bisa mendapatkan pekerja yang bertahan sampai seterusnya."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.






Berita terkait tidak ada