Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
SEPERTI biasa, Mbah Karsan berangkat ke pasar. Sehari-hari penjual balon ini mangkal di Pasar Gubuk, Grobogan, Jawa Tengah. Hari itu ia membawa 60 buah balon. Separuhnya sudah terjual. Entah apa yang sedang dipikirkan kakek tujuh cucu itu, ketika ia berjalan di depan kantor Kecamatan Gubuk. Tahu-tahu kakinya tersandung. Tubuhnya terjerembab. Benang balon yang digenggamnya lepas. Ia selamat, tapi modal lenyap. Apa akal? Ia tak mungkin terbang mengejar balonnya yang melayang tinggi ditiup angin. Tak terasa air matanya meleleh, lalu berubah jadi tangis. Ayong, pegawai Pemda Grobogan yang sedang main tenis di kantor kecamatan, heran melihat orang tua itu menangis. "Balon dagangan saya mabur," cerita Karsan tersedu-sedu. "Dari mana saya dapat modal lagi?" Beberapa pejalan kaki yang ikut merubung jadi iba. Dan atas inisiatif Ayong, dengan sukarela mereka merogoh kocek. Terkumpul Rp 3.850. Tentu saja Karsan gembira menerima rezeki tak disangka itu. Bahkan ia beruntung. Dagangannya yang terbang itu paling banter hanya terjual Rp 2.500. Sambil tersenyum-senyum ia pulang. Bukan jalan kaki, tapi naik kendaraan umum, yang 15 km dari Gubuk. Biar nggak kesandung lagi, Mbah?
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo