Selasa, 23 Oktober 2018
Logo BBC

Binaraga genteng di Jatiwangi: Dari yang berotot besar sampai kerempeng

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Binaraga genteng di Jatiwangi: Dari yang berotot besar sampai kerempeng
    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC
    Para kontestan pekerja genteng memamerkan ototnya.

    Siang itu puluhan buruh pabrik genteng berdiri berjajar telanjang dada. Badan mereka berkilauan karena diolesi minyak kelapa.

    Mereka akan bertanding dalam acara Lomba Binaraga Antar Jebor di Pabrik Genteng Pasaka, Burujul Wetan, Jatiwangi, Jawa Barat, 11 Agustus 2018.

    Dalam lomba yang sudah digelar selama empat tahun ini, para pekerja pabrik genteng memamerkan otot dan kebugaran mereka di hadapan ratusan penonton, yang sebagian besar adalah ibu-ibu dan anak-anak.

    Tak seperti para binaragawan profesional yang punya bentuk badan yang serupa, dalam pertandingan ini ada berbagai macam bentuk badan. Ada yang berotot besar, ada yang kerempeng.

    Satu per satu mereka memamerkan otot dengan lima gaya, termasuk gaya mengangkat genteng sebagai pengganti barbel.

    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC
    Badan berotot karena pekerjaan sebagai buruh konstruksi.

    Direktur Museum Genteng Jatiwangi Ila Syukrillah Syarief yang menggagas perlombaan ini mengumpamakan binaraga sebagai pesta panen bagi daerah yang mengolah tanah untuk mendapat "panenan" berupa genteng.

    "Jika tidak dengan binaraga jebor (pabrik genteng), lalu apalagi pesta penen untuk kami para pekerja jebor ini?" kata Ila kepada BBC News Indonesia.

    Ila menjelaskan, pembuatan genteng di Jatiwangi sudah bermula sejak 1905. Pada masa jayanya, Jatiwangi bisa memproduksi ratusan ribu bahkan jutaan genteng setiap harinya.

    "Selama ini kita cuma mengenal genteng sebagai komoditas. Yang dikenal cuma pemiliknya, mereknya, pengusahanya, sekarang kami ingin memperkenalkan mereka yang bersentuhan langsung dengan tanah," kata Ila.

    Kejuaraan ini juga adalah pernyataan bahwa binaraga bukan cuma milik orang-orang yang berlatih di pusat kebugaran.

    "Di Jatiwangi, sambil cari uang menghidupi diri dan keluarganya juga bisa membangun diri yang sehat," kata Ila.Pertandingan berlangsung seru dengan teriakan dan tawa penonton saat satu-per satu "binaragawan" bergaya memamerkan otot mereka.

    Kejuaraan ini sudah empat kali dilakukan. Pemenang akan menjadi juri dan tuan rumah di pertandingan tahun depan.

    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC
    Masyarakat menyaksikan adu binaraga para pekerja pabrik genteng.

    Untuk mengikuti perlombaan, para pekerja harus mendaftarkan diri dengan biaya pendaftaran Rp100.000. Biaya itu dibayar oleh pabrik tempat mereka bekerja.

    Uang pendaftaran tersebut dipakai untuk memberi hadiah bagi 30 pemenang. Ada tiga pemenang utama yang mendapatkan uang senilai Rp 1,75 juta, Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta.

    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC
    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC
    Tiga pemenang utama yang akan mendapatkan uang senilai Rp 1,75 juta, Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta.

    Tujuh orang akan mendapatkan Rp 250 ribu dan 20 orang akan mendapatkan Rp 200 ribu. Pemenang sengaja dibuat banyak agar makin banyak yang dapat menikmati hadiah.

    Mumuh: Binaragawan genteng, guru mengaji

    Salah satu buruh genteng yang menjadi binaragawan sehari adalah Muhammad "Mumuh" Sarif (31 tahun). Mumuh mengikuti lomba sebagai utusan pabrik genteng tempat dia bekerja, Sinar Raya.

    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC
    Mumuh di tempat kerjanya.

    Mumuh mengaku tidak hobi binaraga, tapi dia ikut demi memeriahkan acara.

    "Saya ingin meramaikan saja karena semakin ke sini genteng semakin sedikit peminatnya, kalah sama misalnya baja ringan, asbes, padahal genteng itu seumur hidup, kalau nggak pecah," kata Mumuh.

    Sebagai pekerja jabor, dia bekerja mengangkat empleng (tanah liat yang sudah dibentuk menjadi kotak). "Pekerjaannya tergantung genteng, kalau genteng masih basah maka tidak banyak kerja," kata dia.

    Upah yang dia dapatkan pun tergantung banyak sedikitnya produksi.

    Pada musim kemarau, seperti saat ini, produksi genteng meningkat sehingga pendapatannya pun naik. "Sebulan kira-kira dapat Rp 1,6 juta," kata dia.

    Uang tersebut dia pakai untuk menghidupi istri dan satu orang anaknya. Cukupkah? Mumuh menjawab "Namanya orang hidup, dicukup-cukupkan saja lah buat keluarga, tapi menurut kami mah masih kurang karena yang makan tiga orang," kata dia.

    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC

    Pria lulusan SMP ini sudah bekerja di pabrik genteng selama 10 tahun, sejak dia berusia 21 tahun.

    Selain bekerja di pabrik genteng dia juga rajin menyabit rumput untuk empat kambing yang dipeliharanya. Dia berharap dapat menjual kambingnya mendekati Idul Adha.

    Dia luar pekerjaannya, Mumuh juga seorang guru mengaji. Selepas magrib, dia mengajari sembilan anak-anak berusia sekitar 10 tahun. "Saya pernah belajar mengaji di pesantren di Majalengka," kata dia. Mumuh juga menjadi marbut di masjid kampungnya.

    Makin sepi peminat

    Kini produksi genteng di Jatiwangi makin menurun. Entuy Kusyana, pemilik pabrik genteng Pasaka yang telah beroperasi sejak 1996 merasakan bahwa kini industri genteng di Jatiwangi makin kurang diminati.

    Dulu, Entuy pernah memproduksi genteng dengan delapan mesin. Kini mesinnya hanya tiga. Setiap mesin bisa memproduksi 2700 genteng per hari, sehingga setiap harinya dia bisa memproduksi 8100 genteng seharga Rp 1.200 per genteng.

    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC
    Buruh yang mengolah tanah menjadi genteng.

    Dia punya sekitar 50 orang pekerja, dengan gaji yang bermacam-macam, mulai daro Rp 35 ribu hingga Rp 70 ribu sehari.

    Hasil produksinya biasanya langsung ludes didistribusikan di sekitar Banten dan Jawa Barat. Namun beberapa tahun terakhir, pembeli mulai berkurang.

    "Kira-kira dua tahun terakhir makin sulit, saya sampai pernah punya persediaan 100 ribu genteng yang menumpuk, padahal biasanya langsung laris," kata pria 58 tahun ini.

    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC
    Pabrik genteng yang menjadi sumber penghidupan Jatiwangi.

    Menurutnya, kelesuan industri genteng disebabkan karena banyaknya persaingan, terutama dengan bahan lain seperti multiroof dan asbes.

    binaragawan, jebor, buruh, pabrik genteng, jatiwangi BBC

    Entuy berharap pemerintah bisa turun tangan untuk membantu mendorong industri genteng di Jatiwangi. "Harapannya pemerintah bisa membentu memberikan penekanan untuk memakai produk genteng lokal, dan juga membantu promosi," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.