Jumat, 17 Agustus 2018
Logo BBC

Ditolak, banding bankir Inggris pembunuh dua perempuan Indonesia di Hong Kong

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih dibunuh setelah terlebih dahulu disiksa. JEROME FAVRE / EPA
    Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih dibunuh setelah terlebih dahulu disiksa.

    Pengadilan Banding Hong Kong memutuskan untuk menolak permohonan banding yang diajukan oleh tim pembela mantan bankir Inggris Rurik Jutting terpidana pembunuhan dua perempuan Indonesia.

    Pembacaan keputusan disampaikan hakim banding Hong Kong, Jumat (9/2), dan dengan demikian Jutting tetap harus menjalani dua vonis hukuman penjara seumur hidup.

    Pembunuhan itu menggegerkan Hong Kong dan Indonesia serta Inggris: ia melakukannya dengan darah dingin, menyiksanya terlebih dahulu, dan memotong-motong tubuh para korban, dan direkam dengan video.

    Rurik Jutting divonis dua hukuman penjara seumur hidup pada 2016 setelah dinyatakan terbukti bersalah atas pembunuhan Seneng Mujiasih dan Sumarti Ningsih, dua perempuan Indonesia mantan pekerja migran di Hong Kong.

    Usai sidang, Rurik Jutting langsung dikirim ke penjara berpengawalan ketat di kawasan Tai Lam.

    Namun pada Desember 2017, Tim Pembela Jutting berusaha mengajukan upaya hukum lain dengan mengajukan banding ke Pengadilan Banding Hong Kong.

    "Kami ingin mengajukan hal ini karena kami yakin bahwa hakim saat itu mengambil keputusan di bawah pengaruh bias yang kuat," kata Tim Pembela di hadapan 3 Hakim Banding, seperti yang dikutip wartawan Indonesia di Hong Kong, Valentina Djaslim.

    Bankir Inggris menyiapkan pembunuhan WNI di Hong Kong dengan riang AFP
    Rurik Jutting digambarkan menyiapkan pembunuhan kedua warga Indonesia itu 'dengan riang.'

    Tim Pembela berargumen bahwa Hakim Michael Stuart-Moore yang memimpin sidang, menjatuhkan vonis tersebut karena pengaruh ramainya pemberitaan kasus pembunuhan yang mengerikan itu di berbagai media.

    Selain itu, Tim Pembela juga berargumen bahwa bias ini membuat para juri dan Hakim Moore salah mengartikan pendapat beberapa pakar psikologi dan toksilogi yang dihadirkan di sidang untuk memberikan kesaksian tentang kondisi fisik dan kejiwaan Jutting saat melakukan pembunuhan.

    Tim Pembela saat itu meminta agar Pengadilan Tinggi Hong Kong mengizinkan diadakannya sidang ulang.

    Setelah beberapa lama, Jumat ini tiga hakim menyampaikan putusan penolakan atas banding itu.

    Dalam sidang tahun 2016, Pengadilan Tinggi Hong Kong yang dipimpin Hakim Michael Stuart-Moore menyatakan Inggris Rurik Jutting bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap dua perempuan Indonesia setelah serangkaian persidangan yang mencekam.

    Kekejaman tak terperi

    Rurik Jutting yang tampil datar tanpa ekspresi, sebelumnya menyangkal pembunuhan berencana, dan hanya mengaku bersalah melakukan pembunuhan tidak berencana.

    Hakim Michael Moore saat menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Rurik Jutting mengatakan bahwa dia menolak permintaan maaf Jutting:

    "Mempertimbangkan kondisi kepribadian, sejarah keluarga, pendidikan, apalagi terdakwa juga tidak menunjukkan penyesalan apapun, maka hukuman yang jelas untuk pembunuhan berencana, Anda mendapat masing-masing hukuman seumur hidup untuk setiap dua pembunuhan berencana itu," kata Hakim Moore saat memvbacaan keputusan itu.

    Hakim Moore menyatakan bahwa Jutting berbahaya untuk dibiarkan berkeliaran bebas terutama bagi perempuan dan anak-anak perempuan.

    Ia mendasarkan hal itu pada bukti-bukti pendadilan serta pendapat ahli yang menyimpulkan bahwa Jutting memiliki kepribadian narsis, penyuka seks sadis, dan juga penyalah-guna alkohol serta narkoba.

    Hakim Moore juga setuju dengan pendapat para pakar kejiwaan bahwa rekaman-rekaman video yang dibuat Jutting sebelum, saat, dan sesudah membunuh, serta interogasinya di polisi Hong Kong, tidaklah menunjukkan tanda penyesalan namun lebih berupa cara membanggakan penyiksaan dan pembunuhan dia lakukan.

    "Ini kasus langka, yang sangat mungkin diulangi, sehingga kemungkinan memberikan pengurangan hukuman di masa depan, sangatlah tidak mungkin," kata Hakim Moore.

    Sementara Jutting semula tertunduk saat mendengar vonisnya itu, kemudian bangkit sambil menghembuskan nafas dan mengangkat bahu seakan tanda menyerah kepada petugas penjara Lo Wu yang langung menggiringnya. Tak lama terdengar denting suara rantai yang biasa dikenakan petugas ke tangan dan kaki narapidana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Jurus Rusia Membalas Sanksi AS Terkait Sergei Skripal

    Berikut 5 hal yang mungkin Rusia sebagai retaliasi atas sanksi dari AS terkait kasus serangan racun novichok kepada Sergei Skripal dan putrinya.