Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Logo DW

Usai Diterjang Banjir Mematikan, Warga Zhengzhou di Cina Mulai Lakukan Pembersihan

Reporter

Editor

dw

image-gnews
Usai Diterjang Banjir Mematikan, Warga Zhengzhou di Cina Mulai Lakukan Pembersihan
Iklan

Penduduk Zhengzhou di Cina pada hari Kamis (22/07) mulai membersihkan sisa-sisa banjir yang menewaskan sedikitnya 33 orang di wilayah itu. Mereka mengangkut mobil dan puing-puing bangunan yang rusak akibat terjangan banjir.

Hujan deras yang tiba-tiba membanjiri sistem drainase kota, dengan cepat merendam jalan-jalan, terowongan, dan sistem kereta bawah tanah.

Baca Juga:

Pertanyaan muncul di media sosial tentang kesiapan pihak berwenang dalam menghadapi bencana semacam itu. Warganet pun mengeluhkan kegagalan otoritas setempat untuk menutup sistem kereta bawah tanah kota.

Sebanyak 12 orang meninggal dunia karena terendam banjir di sistem kereta bawah tanah kota. Ini merupakan insiden terburuk yang terjadi di kota Zhengzhou.

"Mengapa ketinggian air di jalan hampir setinggi pinggang, tapi kereta bawah tanah masih mengizinkan penumpang masuk?" tanya salah satu pengguna Weibo, aplikasi serupa Twitter di Cina.

Baca Juga:

Kementerian transportasi mengeluarkan pernyataan yang memerintahkan operator kereta api untuk "mengambil pelajaran dari insiden baru-baru ini." Ini memperingatkan mereka untuk segera menutup stasiun ketika menghadapi cuaca buruk.

Pasokan penting terputus

Dilaporkan kondisi kota Zhengzou sudah lebih kering dari sebelumnya, meski air masih terlihat menggenangi sebagian besar kota berpenduduk 12 juta jiwa tersebut.

Tampak mobil-mobil dibiarkan menumpuk tinggi setelah terseret air dan truk-truk pemompa air berusaha membuang air yang merendam terowongan bawah tanah. Warga pun bersiap menghadapi kemungkinan banjir susulan di mana ahli meteorologi mengeluarkan peringatan "merah" hujan.

Di tengah langkanya makanan dan terputusnya aliran air, listrik, dan gas, warga mengantre untuk mendapatkan air bersih darurat dan mi instan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kantor berita Xinhua melaporkan bahwa delapan orang masih hilang.

Peringatan akan tanah longsor dan banjir juga dikeluarkan untuk daerah sekitarnya.

Kota Anyang, di utara Zhengzhou, mengeluarkan peringatan merah pada hari Kamis (22/07) untuk hujan lebat. Otoritas setempat memerintahkan sekolah untuk tutup dan mengimbau para pekerja untuk tetap tinggal di rumah.

Hujan yang mengguyur provinsi Henan dipicu oleh Topan In-fa, yang juga dikaitkan dengan cuaca buruk di provinsi selatan Guangdong, Fujian, dan Zhejiang.

Pertumbuhan yang cepat dan perubahan iklim

Perubahan iklim diperkirakan akan membuat peristiwa cuaca ekstrem lebih sering terjadi.

Provinsi Henan sendiri dilintasi sungai, bendungan, dan waduk yang dirancang untuk mengelola aliran air dan membantu irigasi. Namun, dengan pertumbuhan kota yang cepat, telah terjadi peningkatan tekanan pada drainase di lebih banyak wilayah perkotaan.

Lebih dari tiga juta penduduk di Henan terkena dampak dari bencana banjir ini. Kerugian akibat banjir diperkirakann mencapai US$189 juta atau setara Rp3,2 triliun.

rap/gtp (AP, AFP)

Iklan

Berita Selanjutnya

1 Januari 1970



Artikel Terkait

    Berita terkait tidak ada



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Berita terkait tidak ada