Logo DW

Kepala Ekonomi IMF: Tanpa Vaksinasi Memadai, Prospek Negara Berkembang "Sangat Gelap"

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Ekonomi IMF: Tanpa Vaksinasi Memadai, Prospek Negara Berkembang

    Pukulan berkelanjutan dari pandemi, gangguan rantai pasokan bahan mentah dan bahan pelengkap, serta kegagalan mendistribusikan vaksin secara merata akan memperlambat pemulihan ekonomi dan memperburuk kesenjangan antara negara kaya dan negara miskin. Prospek bagi negara-negara berkembang suram, kata IMF dalam laporan World Economic Outlook terbaru yang dirilis hari Selasa (12/10). Perekonomian global diperkirakan tumbuh 5,9 persen tahun ini, sedikit lebih rendah dari yang diproyeksikan pada Juli lalu.

    "Secara keseluruhan, negara-negara ekonomi terkemuka, termasuk Amerika Serikat, Jerman dan Jepang, akan mengalami kelambatan pertumbuhan karena dampak dari kemacetan pasokan", kata kepala ekonom IMF, Gita Gopinath.

    "Pemulihan ini benar-benar sangat unik", tambah Gopinath. Meskipun permintaan kembali mengiat, "sisi pasokan belum dapat pulih secepat itu," sebagian terhambat oleh penyebaran varian Delta Covid-19, yang membuat para pekerja enggan untuk kembali ke pekerjaan mereka, atau perusahaannya harus tutup karena lockdown.

    Kekurangan tenaga kerja dan kekurangann pasokan itu "mendorong tekanan harga" di negara-negara ekonomi utama, kata IMF, dan secara keseluruhan "memperlambat ekspektasi pertumbuhan" tahun ini.

    Prospek menjadi sangat gelap

    Harga energi telah mencapai angka tertinggi dalam beberapa hari terakhir, dengan harga minyak di atas US $80 per barel. Kenaikan harga itu terutama membebani rumah tangga. Gita Gopinath mengatakan lebih lanjut, harga energi diperkirakan baru akan mulai turun pada akhir kuartal pertama tahun 2022.

    Di negara-negara berpenghasilan rendah, prospek "telah menjadi sangat gelap karena memburuknya dinamika pandemi," katanya dalam posting blog terbaru.

    Kemunduran yang disebabkan oleh "kesenjangan vaksin yang sangat berat" akan berdampak pada upaya pemulihan standar hidup dan penurunan laju pandemi. Hal ini "dapat mengurangi Produk Domestik Brutto global dengan nilai kumulatif 5,3 triliun dolar AS selama lima tahun ke depan," kata kepala ekonom IMF itu memperingatkan.

    Kesenjangan dalam prospek ekonomi itu adalah situasi berbahaya dan perlu "tetap menjadi perhatian utama," ujar Gita Gopinath.

    Prioritas utama: vaksinasi Covid-19

    Negara-negara Ekonomi maju diperkirakan akan mendapatkan kembali "jalur tren pertubuhan pra-pandemi pada tahun 2022 dan melampauinya sebesar 0,9 persen pada tahun 2024," lanjutnya.

    Namun, di pasar negara berkembang, tidak termasuk Cina, pertumbuhan ekonomi pada 2024 diperkirakan akan tetap berkisar pada 5,5 persen, jauh di bawah situasi pra-pandemi.

    "Karena itu, prioritas kebijakan utama adalah memvaksinasi setidaknya 40 persen populasi di setiap negara sampai akhir 2021, dan 70 persen pada pertengahan 2022," pungkas kepala ekonom IMF Gita Gopinath.

    hp/as (afp, rtr, ap)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.