Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Logo DW

Bagaimana Belanda Lindungi Diri terhadap Banjir

Reporter

Editor

dw

image-gnews
Bagaimana Belanda Lindungi Diri terhadap Banjir
Iklan

Permukaan air di sungai buatan Bergsche Maas sangat tinggi. Tapi situasinya terkontrol, setidaknya sampai sekarang. Akibat hujan deras, yang baru saja melanda Belgia dan Jerman secara mematikan, sungai melampaui tepiannya. "Terakhir itu terjadi 33 tahun lalu.“ kata Will Hooijmaijers, yang menjadi petani di kawasan itu

Ketika itu Nol dan Will Hooijmaijers khawatir bisa kehilangan rumah dan peternakan susu mereka, yang terletak tak jauh dari lokasi itu. Tapi peternakan mereka sekarang sudah tidak ada lagi.

Baca Juga:

Keluarga Hooijmaijers dan 15 tetangga mereka diminta untuk pindah oleh pemerintah tahun 2001. Tujuannya, agar sungai bisa memenuhi kawasan itu, jika diperlukan, agar pemukiman di dekat sana bisa dilindungi.

Ketika itu, rencana perlindungan terhadap banjir, yang disebut "Pembuatan Ruang bagi Sungai" ibaratnya bom yang menghantam keluarga Hooijmaijers dan banyak tetangga mereka.

Tawaran ganti rugi dari pemerintah juga tidak banyak. Pemerintah bersedia membayar harga properti selayaknya di pasar, dan membangun gua-gua yang disebut "Terpen", untuk bisa membangun di kawasan yang letaknya lebih tinggi. Sedangkan lahan perternakan yang letaknya rendah akan dibiarkan tertutup air.

Langkah drastis untuk atasi kerugian nyawa dan harta

Baca Juga:

Ini keputusan yang berat, walaupun Belanda kenal dengan kekuatan air yang bisa mematikan. Tahun 1953 banjir dari Laut Utara menyebabkan tewasnya 1.800 orang. Di tahun 1990-an 200.000 orang harus mengungsi akibat banjir dari sungai Rhein dan Maas.

Keluarga Hooijmaijers harus memutuskan, apakah mereka menolak atau menerima tawaran pemerintah, yang akan memindahkan mereka ke daerah yang lebih tinggi. "Awalnya kami merasa itu ancaman. Tapi kami memutuskan, untuk melihat ini sebagai kesempatan, dan untuk memodernisir peternakan kami yang sudah berusia 40 tahun," tutur Nol Hooijmaijers.

Mereka membuat rencana sendiri, dan setelah melewati perundingan alot, sebagian penduduk memutuskan untuk menerima tawaran. Yang lain menolak, dan beralih ke profesi lain. Nol Hooijmaijers, "Kami harus banyak berbicara, untuk meyakinkan semua orang, bahwa ini bisa jadi situasi yang menguntungkan kedua belah pihak."

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Proyek yang diberi nama Overdiepse Polder di kawasan itu adalah yang pertama dari 30 proyek perluasan area sekitar sungai di seluruh Belanda. Kerjasama baik antara penduduk dan pemerintah jadi panutan di banyak negara lainnya.

Memberikan ruang bagi sungai

Peter Glas adalah petugas Delta Programm di Belanda. Ia menjelaskan, "Idenya adalah: membangun dengan alam, untuk memberikan ruang bagi sungai. Untuk itu orang harus sadar akan situasi tanah dan kondisi geologisnya, agar bisa mengadakan pembangunan."

Peter Glas mengikutsertakan semua aparat pemerintah dari berbagai jajaran ke dalam upaya manajemen air, agar bisa membuat rencana bagi dasawarsa mendatang.

Ia mengatakan, orang harus bisa menatap ke satu hingga tiga generasi mendatang dengan konsekuen. Pihaknya mengamati perubahan iklim, memperhitungkan perubahan cuaca ekstrem, dan apa dampaknya bagi keamanan di kawasan sepanjang sungai. "Bagaimana cara mencegah bencana di masa depan? Itu harus jadi bagian perhitungan kita."

Bagaimana jika hujan sangat lebat turun setiap tahun?

Kembali ke area peternakan. Geert Hooijmaijers, putra keluarga itu, juga memikirkan dampak hujan sangat lebat yang turun baru-baru ini, dan membuat air sungai meluap. "Ini membuat saya stres! Jika air datang, maka air perlu lahan. Itu inti proyek tersebut!"

Ia kurang yakin bahwa tawaran yang diterima orang tuanya 20 tahun lalu adalah yang terbaik. Geert mengungkap, waktu itu orang mengira, banjir tengah tahun, yang bisa memusnahkan panen jagung sepenuhnya, hanya akan terjadi sekali dalam 50 tahun. "Bagaimana kalau terjadinya tiap tahun? Kita harus bertanya kepada pemerintah, bagaimana langkah berikutnya?"

Geert kini berharap, kesepakatan untuk memberikan ruang bagi sungai tetap menguntungkan petani. Ia ingin, putranya Mats yang baru berusia empat tahun, nantinya akan bisa mengambil alih peternakan, tanpa harus memberikan ruang kepada sungai lagi. (ml/yp)

Iklan

Berita Selanjutnya

1 Januari 1970



Artikel Terkait

    Berita terkait tidak ada



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Berita terkait tidak ada