Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Logo DW

Nelayan Pulau Pramuka Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

Reporter

Editor

dw

image-gnews
Nelayan Pulau Pramuka Ubah Sampah Plastik Jadi BBM
Iklan

Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu adalah salah satu destinasi wisata baru di Provinsi DKI Jakarta. Namun sampah berserakan di sini.

Kendati demikian, masalah sampah plastik di pulau tersebut, belakangan ini, secara perlahan mulai teratasi. Ini berkat upaya Mahariyah Sandri, perempuan penggerak lingkungan Rumah Literasi Hijau.

Baca Juga:

Bersama komunitasnya, sejak 2006 lalu ia berjuang memerangi sampah di Pulau Pramuka. Sebelumnya sampah dari sini biasanya diangkut ke TPA Bantar Gebang.

Mahariyah Sandri mengungkap, sebetulnya sampah di Kepulauan Seribu itu adalah sampah dari tempat pertama, dari kemunculan pertama, jadi relatif masih bisa dikelola.

"Kalau kami tumpuk ke sana bercampur dengan yang lain, dengan beragam kompleksitas sampah, bisa jadi beda lagi cara menanganinya," kata Mariyah. Bersama penduduk lainnya ia berpikir seharusnya sampah di Pulau Seribu selesai, tanpa harus ke Bantar Gebang, ujarnya lebih lanjut.

Mesin pirolisis sokong upaya warga

Baca Juga:

Sejak dua tahun terakhir Komunitas Rumah Literasi Hijau mendapat bantuan berupa tiga mesin pirolisis. Mesin ini mampu menyulap sampah plastik menjadi bahan bakar.

Penjelasan sederhananya, pirolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan menggunakan pemanasan tanpa oksigen. Ada beberapa pertanyaan menyangkut sistem ini, di antaranya apakah bisa dioperasionalkan dengan mudah, juga dampak asap yang dihasilkannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Komarullah, anggota Komunitas Rumah Literasi Hijau menjelaskan, kesulitan penggunaan mesin sebetulnya tidak ada. "Rumah Literasi Hijau punya tiga mesin generasi berbeda, yang dari teman-teman Get Plastic, yaitu generasi 10, 11, 12. "Dari 3 generasi ini, asyik banget dioperasikannya. Sangat manual, jadi sejauh ini enggak ada kendala," ujar Komarullah.

Sekitar 4% gas yang dihasilkan dari proses ini juga dapat digunakan sebagai sumber energi. Meski melalui proses pemanasan sampah, penggunaan mesin pirolisis tak menghasilkan asap sama sekali. Sampah dibakar dengan cara tertutup dan tanpa oksigen.

Menangkap ikan sambil membersihkan laut

Mahariyah Sandri mengungkapkan, nelayan yang terlibat di dalam komunitas pengambil sampah disebut Eco Rangers. "Jumlahnya baru 16 nelayan tangkap, jadi setiap ke laut, sambil mereka memancing, mereka mengambil sampah dari laut kemudian disetorkan ke tempat pengumpulan." Jadi, secara mandiri mereka memelihara lautnya sambil mengambil ikannya.

Mereka berharap, proyek ini bisa diperkenalkan ke daerah lain, sehingga makin banyak sampah plastik yang dapat diolah menjadi bahan bakar. Bagaimana respons dan dukungan dari nelayan setempat?

Ahmad Aulia yang berprofesi sebagai nelayan mengatakan, menemukan sampah mudah. Dari sampah yang ia kumpulkan, ia mendapat 2-3 liter solar. Minyaknya juga bagus, bisa irit juga di mesin.

Pulau Pramuka dengan populasi penduduk sekitar 2000 jiwa ini membuktikan, perlindungan ekosistem berbasis pirolisis, dan upaya pemanfaatan sampah plastik menjadi sesuatu yang bernilai, tidak hanya bisa dilakukan di kota-kota besar saja. (ml/as)

Iklan

Berita Selanjutnya

1 Januari 1970


Artikel Terkait

    Berita terkait tidak ada



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Berita terkait tidak ada