Sumsel, Provinsi Pertama yang Memiliki PLTB

Selasa, 11 April 2017 | 10:30 WIB
Sumsel, Provinsi Pertama yang Memiliki PLTB
Sumatera Selatan memiliki cadangan panas bumi yang besar.

INFO BISNIS - Sumatera Selatan adalah provinsi pertama di Indonesia yang menggunakan pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTB). Hal ini diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Siti Nurbaya ketika berkunjung ke Jepang bersama Gubernur Sumatera Selatan H. Alex Noerdin dalam kegiatan Japan's Assistance Initiative to Address Climate Change dan Japan's Investment on Peatland di Tokyo, Jepang, Senin, 10 April 2017.



Alex Noerdin diundang secara khusus untuk menghadiri penandatanganan nota kesepahaman (MOU) antara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dengan Menteri Lingkungan Jepang. Menteri Lingkungan Jepang mengungkapkan di Indonesia terdapat sekitar 20 proyek terkait dengan lingkungan. Selanjutnya, pihak The Japan International Cooperation Agency (JICA) sedang dalam pembahasan tata kelola air untuk rewetting gambut guna pencegahan kebakaran dan restorasi gambut. Proyek ini terdapat di tiga provinsi, yakni Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Tengah.



Adapun di Sumatera Selatan saat ini sedang dilakukan pemantauan permukaan air tanah dan temperatur tanah atau Sesame Water Logger. Nantinya, jika permukaan air tanah di bawah 40 sentimeter atau kelembapan di bawah 40 persen, dapat diketahui kondisi tersebut sangat rawan kebakaran. Proyek lain yang akan diprioritaskan adalah waste management dan energi terbarukan, seperti panas bumi, mikrohidro, dan biomassa.



Alex mengatakan Sumatera Selatan memiliki cadangan panas bumi yang besar. Selain itu, ada potensi biomassa dari batang kelapa sawit. Setiap tahun ada sekitar 20 ribu hektare kebun sawit yang harus di-replanting. Tidak hanya itu, ada pula teknologi hidrogen dengan mobile power plant untuk masyarakat di remote area.



Alex dijadwalkan menjadi pembicara dalam acara yang diselenggarakan kerja sama KLHK-BRG dan JICA. Dia akan berbicara tentang pemanfaatan gambut di hadapan para ahli dari Universitas Tokyo, Universitas Kyoto, Universitas Hokkaido, serta pemerhati lingkungan dan pelaku bisnis, di Universitas Tokyo.

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan