Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan kunjungan kerja ke Washington pekan depan menyusul tekanan untuk mengakhiri perang Gaza dan tuntutan membebaskan sandera warga negara Israel. Lawatan Netanyahu ini dilakukan saat Negeri Abang Sam fokus pada pilpresl AS 2024.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Kunjungan kerja itu akan menjadi lawatan paling penting bagi Netanyahu sejak enam kali menjabat sebagai perdana menteri Israel. Di Washington, Netanyahu akan bertemu dengan Presiden Joe Biden yang sudah tidak lagi mencari jalan untuk terpilih lagi menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Jika Biden sembuh dari Covid-19, pertemuan keduanya akan dilakukan pada Selasa, 23 Juli 2024. Netanyahu pun dijadwalkan menyampaikan pidato di Kongres AS pada Rabu, 24 Juli 2024.
Kunjungan Netanyahu ke Washington dilakukan setelah berbulan-bulan hubungan yang dingin dengan Washington karena Tel Aviv berkeras tetap melancarkan serangan dengan sengit ke Gaza setelah serangan 7 Oktober 2024. Dalam lawatan ini, Netanyahu menawarkan sebuah platform untuk memperbaiki hubungan dengan Washinton.
Pidato Netanyahu di Kongres AS diperkirakan akan fokus pada koordinasi Israel dan Amerika Serikat dalam merespon situasi di timur tengah, di mana ada kemarahan terhadap perang Gaza yang telah menjadi konflik kawasan. Pidato Netanyahu kemungkinan tidak akan terlalu konfronsional ketimbang pidato Netanyahu di Kongres AS pada 2015 ketika dia mengkritik upaya Barack Obama yang ingin membuat kesepakatan dengan Iran.
Amerika Serikat saat ini menekan Tel Aviv agar mau mencapai kesepakatan politik dengan Palestina, Washington bahkan sampai mengancam akan menarik bantuan senjata. Hal ini menggaris bawahi hubungan Netanyahu dan Washington yang melemah. Bukan hanya itu, Netanyahu juga menghadapi gelombang protes dari dalam negeri yang menginginkan gencatan senjata.
“Sebagian dari tujuan ini adalah dari seluruh gelombang protes yang terjadi Natanyahu masih menjadi pemimpin, masih mendapatkan dukungan, masih punya hubungan yang kuat dengan Amerika Serikat,” kata Yonatan Freeman, ahli bidang hubungan internasional dari Universitas Hebrew di Yerusalem.
Sumber: Reuters
Pilihan editor: Orang Dekat Bocorkan Detik-detik Sebelum Joe Biden Mundur dari Capres AS
Ikuti berita terkini dari Tempo.co di Google News, klik di sini