Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan salah satu pilar penting strategi kesehatan adalah layanan rehabilitasi medis bagi pasien, termasuk yang mengalami disabilitas akibat kondisi tertentu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Nila Moeloek yang juga anggota Dewan Eksekutif Organisasi Kesehatan Dunia atau Excecutive Board World Health Organisation, menjelaskan rehabilitasi merupakan wujud kemandirian yang menjadi faktor penghubung bagi penyandang disabilitas dalam mengakses layanan kesehatan. "Sebab kondisi disabilitas seseorang tidak selalu terjadi sejak lahir," kata Nila Moeloek dalam diskusi virtual peringatan Hari Disabilitas Internasional yang diadakan oleh Indonesian Clinical Training and Education Centre (ICTEC) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Kamis 3 Desember 2020.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik FKUI Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Boya Nugraha mengatakan kondisi disabilitas banyak disebabkan oleh penyakit tidak menular. "Sementara stigma di masyarakat adalah kondisi disabilitas seseorang terjadi karena faktor lahir," katanya.
Faktanya, disabilitas yang terjadi karena faktor lahir atau kongenital sangat sedikit, sekitar 10 -22 persen. Adapun faktor tertinggi yang mengakibatkan seseorang menjadi difabel non-communicable disease, seperti kanker, diabetes, jantung, dampak operasi, dan sebagainya.
Lantaran kondisi disabilitas banyak terjadi akibat penyakit tertentu dan bukan sejak lahir, maka mereka perlu mendapatkan rehabilitasi medis dalam berbagai fase layanan kesehatan. Riset WHO menunjukkan sekitar 2,4 miliar orang di dunia memerlukan rehabilitasi medis.
"Rehabilitasi tidak hanya dibutuhkan dalam fase pemulihan atau setelah sakit," kata Professor Rehabilitasi Medis dari Hanover Jerman yang juga pemegang European Board Certified, Christoph Gutenbrunner. "Rehabilitasi adalah strategi kesehatan bagi orang yang mengalami penyakit kronik agar tidak berlanjut pada kedisabilitasan."