Trump Cuit Unjuk Rasa Ekonomi di Mashad, Ini Kata Kemenlu Iran

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Usai terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump diketahui memiliki sejumlah kebijkan kontroversial, salah satunya Trump memutuskan AS keluar dari pakta perdagangan internasional Trans Pacific Partnership, yang menjadi program unggulan Presiden Barack Obama. REUTERS/Jonathan Ernst

    Usai terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump diketahui memiliki sejumlah kebijkan kontroversial, salah satunya Trump memutuskan AS keluar dari pakta perdagangan internasional Trans Pacific Partnership, yang menjadi program unggulan Presiden Barack Obama. REUTERS/Jonathan Ernst

    TEMPO.CO, Washington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyoroti aksi unjuk rasa yang telah terjadi beberapa hari terakhir di Iran dengan menyampaikan pernyataan lewat cuitan di akun Twitternya @realdonaltrump.

    “Banyak laporan mengenai unjuk rasa protes damai oleh rakyat Iran yang merasa bosan dengan korupsi rezim dan tindakannya menggelapkan uang bangsa untuk membiayai kegiatan terorisme di luar negeri. Pemerintah Iran harus menghormati hak-hak rakyatnya, termasuk hak untuk mengekspresikan diri mereka. Dunia menonton!,” kata Trump pada Sabtu, 30 Desember 2017 waktu setempat.

    Baca: Nama Donald Trump Bakal Jadi Nama Stasiun di Yerusalem

    Tak ayal, cuitan Trump ini dikritik Kementerian Luar Negeri Iran. “Rakyat Iran tidak menganggap penting Trump,” kata Baham Ghasemi, juru bicara Iran. “Bangsa Iran yang kuat tidak membuang waktu mereka dengan oportunis dan pejabat Amerika yang suka melontarkan pernyataan untuk campur tangan.”

    Baca: Uskup Liverpool Kritik Tokoh Agama AS Pendukung Trump

     

    Seperti diberitakan ribuan orang turun ke jalan di sejumlah kota di Iran dimulai pada Kamis lalu di Kota Mashad, yang merupakan kota kedua terbesar di Iran dan juga sebagai lokasi tempat ibadah suci para peziarah Syiah.

    Protes ini sepertinya dipicu oleh unggahan di sosial media dan kenaikan harga bahan pokok seperti telur, dan daging. Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan anti-pemerintah yang meminta Presiden Iran Hassan Rouhani untuk mundur.

    Unjuk rasa ini berlanjut pada Sabtu, 30 Desember 2017 namun dengan jumlah peserta yang berkurang dan jumlah petugas keamanan yang bertambah. Dua orang dikabarkan tewas tertembak oleh petugas keamanan pada Sabtu dalam unjuk rasa terbesar sejak 2009. Informasi ini menyebar di sosial media dan belum terverifikasi.

    Pengunjuk rasa menyuarakan kekecewaan terhadap kinerja ekonomi yang dinilai stagnan, korupsi dan biaya mahal keterlibatan Iran di konflik Suriah dan Lebanon. Uniknya sejumlah pengunjuk rasa meneriakkan nama Shah Iran, yang digulingkan lewat Revolusi Islam Iran pada 1979 juga dengan tudingan korupsi.

    Pada Sabtu kemarin, kelompok pengunjuk rasa pro pemerintah Iran menggelar aksinya. Sekitar 4000 orang turun ke jalan mendukung pemerintah Presiden Rouhani.

    Media NBC News melansir efek dari cuitan Trump soal dukungannya kepada unjuk rasa ekonomi ini. Terlebih banyak pihak di Iran merasa skeptis dengan Trump yang menolak meratifikasi perjanjian nuklir 2015. Dan pemerintah Iran menuding unjuk rasa ini ditunggangi kepentingan asing.

    “Kelompok kontra-revolusi dan media asing terus berupaya menyalah-gunakan isu ekonomi dan masalah kesejahteraan untuk mendesak izin terjadinya pertemuan-pertemuan yang melanggar hukum dan bisa menimbulkan kekacauan,” begitu dilansir media televisi negara pada Sabtu. Cuitan Trump soal unjuk rasa ini menjadi perhatian media internasional.

    NBC NEWS | TELEGRAPH | AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.