abc

Sejarah Aborigin dan Indonesia Dalam Lukisan

17 Jul 2017 | 13:31 WIB

Sejarah Aborigin dan Indonesia Dalam Lukisan

Merayakan Pekan Komite Nasional Hari Aborijin dan Kepulauan (NAIDOC) yang berakhir 9 Juli, pelukis Aborijin, Jandamarra Cadd, dan pelukis Indonesia, Jerry Thung, berkolaborasi dalam satu lukisan bercorak hewan yang memiliki arti penting bagi masing-masing komunitas.

Keduanya mencoba menggambarkan ikatan sejarah antara masyarakat Aborijin dan Indonesia yang telah terjalin sejak sebelum era kolonialisme di Australia. 

Ular naga dan burung garuda adalah dua hewan yang dilukis Jerry dalam kolaborasi kanvasnya bersama Jandamarra.

Bagi pelukis kelahiran Bogor, Jawa Barat, ini, naga dan garuda mewakili simbol penting di tengah masyarakat Indonesia.

Kepada Nurina Savitri dari Australia Plus, Jerry menuturkan, meski kedua hewan tergolong makhluk-makhluk mitos, posisi mereka cukup penting.

“Naga dan garuda itu kan makhluk mitos di Indonesia ya yang sudah apa…mengakar di tradisi, jadi lambang-lambang tertentu,” jelasnya sembari melukis di gedung Kedutaan Australia di Jakarta, Selasa (11/7/2017).

Di tradisi Bali, garuda dideskripsikan sebagai makhluk yang memiliki kepala, sayap, dan cakar elang sekaligus memiliki bagian yang menyerupai manusia, yakni tubuh dan lengan. Sementara dalam kisah klasik Mahabarata, garuda disebut sebagai burung yang kuat dan mempunyai solidaritas tinggi serta merupakan kendaraan Vishnu (Dewa Wisnu) ketika mengelilingi Bumi.

Tradisi memang menjadi benang merah lukisan Jerry dan mitranya, Jandamarra. Jika pelukis Indonesia itu menggambarkan hewan mitos ular dan burung, maka Jandamarra melukiskan hewan yang hidup di air, yakni penyu dan ikan.

Tak hanya itu, pelukis Aborijin keturunan Yorta Yorta dan Dja Dja Warung ini juga menyertakan satu hewan irisan yang juga menempati posisi penting dalam budaya Aborijin, yakni ular. Dalam tradisi warga asli Australia ini, ular pelangi atau ‘rainbow serpent’ dianggap sebagai bagian penting dari tiap generasi.

“Lukisan ini buat saya…ada hewannya seperti penyu dan ikan, tapi juga ada mitologi seperti ular pelangi dan ular pelangi ini dalam budaya Aborijin adalah sang pencipta kehidupan,” jelasnya.

Skip YouTube Video

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

YOUTUBE: Video Seniman Aborigin

Sambil mewarnai lukisannya, Jandamarra lalu  mengatakan, “Dan hewan penting yang digambar Jerry adalah naga, jadi hewan-hewan ini menjadi ide kolaborasi karena mempunyai benang merah itu, menggambar penyu di kanvas…menunjukkan sesuatu di antara dua perairan yang telah terjadi selama ratusan tahun.”

Ia lalu menceritakan, hubungan antara masyarakat Aborijin dan Indonesia melalui pelaut dan pedagang Macassan yang telah berlangsung selama ribuan generasi.

“Jadi ini adalah bentuk perwakilan dari kebersamaan, kerjasama dan menjalin hubungan bersama, yang tercakup dalam simbol hewan di kanvas ini.” 

Tiap karakter memiliki arti, begitu pula tiap elemen yang dilukiskan kedua seniman di kanvas bersama mereka.

“Air di sini menunjukkan perairan antara Australia dan Indonesia. Dan Jerry juga membuat awan yang memunculkan arus dan gelombang serta lain-lainnya, itu adalah bagian dari hubungan yang mengalir,” ujar Jandamarra.

“Sebenarnya lebih banyak ke masalah tradisi saja, terus bentuknya apa. Karena Aborijin sering pakai binatang ya untuk representasi ajaran-ajaran…nilai-nilai tradisi mereka,jadi saya juga pakai binatang tapi yang mitos sifatnya di Indonesia, begitu,” kata Jerry.

Jandamarra mengobrol dengan Jerry (kanan)
Jandamarra mengobrol dengan Jerry (kanan) saat melukis. Keduanya menampilkan karakter hewan yang penting dalam cerita budaya Australia dan Indonesia.

ABC; Nurina Savitri

Hingga detik ini, masyarakat Aborijin masih memiliki ikatan khusus dengan hewan-hewan yang dilukiskan Jandamarra.

“Hubungan mereka (warga Aborijin) dengan hewan-hewan itu, roh-roh hewan dan apa yang mereka wakili adalah bagian besar dari budaya Aborijin. Jika berbicara soal simbol atau lambang, lambang suku saya adalah kura-kura berleher panjang,” jelas Jandamarra.

Ia lalu mengimbuhkan, “Tapi yang saya gambar adalah penyu (yang hidup di laut). Lambang di komunitas saya adalah kura-kura air tawar, yang artinya itu mewakili kampung halaman saya, masyarakat Yorta-Yorta dan Dja Dja Warung.”

Terselenggaranya kolaborasi ini bukan terwujud tanpa tantangan. Jerry mengaku, keterbatasan waktu sempat merisaukannya, namun ia berusaha sebaik mungkin untuk memadukan ide dan menyelesaikan karya kolaborasi tersebut.

“Karena baru bertemu ya, menyatukan ide-ide dulu, bahasanya sama nggak, kalau sudah kerja seperti ini ya sudah. Cuma kan waktunya mepet ya, cuma berapa jam ini? Sementara sebenarnya unsur dekoratif dari Aborijin itu, unsur dekoratif Indonesia itu kan membutuhkan waktu lama.”

Ide dasar kolaborasi Jerry dan Jandamarra berawal dari pihak Kedutaan (Australia). Untuk merayakan Pekan NAIDOC dan bagian dari kampanye gaya hidup #AussieBanget, mereka menggabungkan seniman Aborijin dan Indonesia dalam satu kolaborasi yang menunjukkan ikatan sejarah di antara kedua negara.

“Hubungan kedua negara dibangun atas koneksi pribadi yang mendalam dan kukuh antar warganya. Bahkan sejak dari tahun 1700-an, para nelayan di Sulawesi Selatan melakukan perjalanan ke bagian utara Australia untuk berdagang, membentuk hubungan-hubungan dan masyarakat baru,” ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson.  

Melengkapi perayaan ini, sebanyak 50 karya seni –mulai dari karya kontemporer hingga reproduksi seni kulit kayu dari koleksi pameran Old Masters Museum Nasional Australia -dan fotografi penduduk asli juga ditampilkan di Hall Utama Kedutaan Australia di Jakarta selama 12-13 Juli 2017.

Tonton videonya di sini.

Lihat Artikelnya di Australia Plus