bbc

Siapa Lu-Olo, yang sementara unggul di pilpres Timor Leste?

senin, 20 maret 2017 | 21:09 WIB

Siapa Lu-Olo, yang sementara unggul di pilpres Timor Leste?
Francisco Guterres
Reuters
Francisco Guterres yang lebih dikenal dengan Lu-Olo,berjanji akan meningkatkan kualitas kehidupan rakyat di berbagai bidang jika terpilih sebagai presiden Timor Leste.

Penghitungan suara pemilihan presiden Timor Leste memperlihatkan untuk sementara Francisco Guterres,yang lebih dikenal dengan Lu-Olo,unggul atas calon-calon lain.

Siapa Lu-Olo,calon yang mendapat dukungan penuh dari Partai Fretilin dan CNRT,dua partai terbesar di Timor Leste ini?

Lu-Olo berasal dari keluarga sederhana dan sama seperti warga Timor Leste lain,ia aktif terlibat dalam gerakan bersenjata untuk membebaskan Timor Leste dari kekuasaan Indonesia.

Setelah referendum 1999 yang menjadi dasar kemerdekaan Timor Leste,Lu-Olo terjun di dunia politik.

Pada 2007 ia ikut di pilpres dan kalah saat digelar pemungutan suara putaran kedua.

Ia juga mencalonkan diri di pemilihan presiden 2012,tapi kalah suara dari presiden saat ini,Jose Maria Vasconcelos,yang juga dikenal dengan nama populernya,Taur Matan Ruak.

Ruak sendiri tidak ambil bagian dalam pilpres kali ini diperkirakan akan menjadi perdana menteri setelah pemilu parlemen bulan Juli.

"Saya yakin bisa memenangkan pemilihan dalam satu putaran," kata Lu-Olo kepada para wartawan di Dili,hari Senin (20/03),setelah memberikan suara. Meski demikian ia menambahkan bahwa dirinya akan menerima apa pun hasil pemilihan.

Persaingan politik

Lu-Olo
EPA
Lu-Olo didukung oleh Fretilin dan CNRT,dua partai politik terbesar di Timor Leste.

Jika tak ada calon yang meraih 50% suara akan digelar pemunguatan suara putaran kedua bulan April.

"Saya ingin mengubah nasib warga di semua sektor,seperti kesehatan,pendidikan,dan kehidupan ekonomi yang berkelanjutan," katanya.

Lu-Olo adalah presiden Partai Fretilin dan di pilpres kali ini mendapat dukungan dari Xanana Gusmao,mantan gerilyawan dan pemimpin CNRT yang memiliki pengaruh besar di panggung politik Timor Leste.

Para pengamat mengatakan tantangan bagi pemerintah mendatang adalah mengurangi ketergantungan Timor Leste dari penerimaan minyak dan menambah pemasukan dari sumber-sumber lain seperti pertanian dan manufaktur.

Tantangan lain adalah mewujudkan kehidupan politik yang stabil di negara yang baru merdeka pada 2002 lalu.

"Persaingan politik (yang tajam) bisa memicu ketegangan," kata Damien Kingsbury,analis masalah Timor Leste dari Universitas Deakin,Australia,seperti dikutip kantor berita AFP.

Kingsbury memperkirakan Timor Leste akan dipimpin oleh satu pemerintah persatuan setelah pemilu parlemen. Namun ia menambahkan tidak adanya oposisi yang kuat bisa melemahkan akuntabilitas pemerintah.

Selain Lu-Olo,ada tujuh kandidat lain yang ikut serta dalam pilpres 2017,pilpres pertama sejak pasukan PBB mundur dari Timor Leste pada 2012.