Komunisme

Senin, 30 Januari 2017

Komunisme adalah Velutha. Dalam novel Arundhati Roy The God of Small Things, ia tukang kayu di sebuah pabrik selai di kota Ayemenem, di Negara Bagian Kerala. Ia seorang paria, manusia tanpa kasta yang dianggap begitu rendah hingga diharamkan agama jika disentuh. Dalam novel ini, ia pertama kali tampak selintas di tengah demonstrasi orang-orang komunis, melambaikan bendera merah. Lalu menghilang.

Hidupnya adalah nasib dan keyakinan yang tragis: ia bercinta dengan Ammu, perempuan kasta tinggi yang dikenalnya sejak kecil dan kemudian jadi janda dengan dua anak. Hubungan itu skandal. Pada suatu kesempatan Velutha difitnah memerkosa dan membunuh seorang perempuan yang sebenarnya mati tenggelam. Ia dipenjarakan; ia tak pernah kembali.

Bersama Ammu, kekasihnya, laki-laki ini memang telah menabrak sebuah hukum, "Hukum Cinta", yang tak tertulis:

...hukum yang menetapkan siapa yang seharusnya dicintai dan bagaimana dicintai. Dan sedalam apa. Hukum yang membuat nenek jadi nenek, paman jadi paman, ibu jadi ibu, sepupu jadi sepupu, selai jadi selai, dan jeli jadi jeli.

Tapi hukum tak bisa selama-lamanya mengungkung manusia. Kerala, negara bagian India Selatan, di akhir 1960-an kian berubah. Lapisan sosial paling bawah, kaum paria yang menyebut diri Dalit ("yang tertindas dan terhina"), tak lagi diam. Selama berabad-abad sampai setelah India merdeka mereka disisihkan. Apalagi di Kerala mereka umumnya beragama Kristen Suriah; mereka minoritas ganda, kaum yang tak masuk hitungan.

Partai Komunis datang membantu mereka.

Partai ini mencoba mengubah nasib di wilayah itu. Sejak pertengahan 1960-an, kaum komunis dipilih rakyat secara demokratis untuk memimpin. Mereka bekerja bagus: memperbaiki kesehatan masyarakat, meningkatkan pendidikan rakyat—hingga tingkat melek huruf tertinggi di seluruh India—membangun kesetaraan antara perempuan dan laki-laki....

Mereka mengesankan. Tapi terbatas.

Novel Arundhati Roy malah menggambarkan mereka sebagai pejuang yang jinak: tak pernah menggugat tradisi yang mengukuhkan perbedaan kasta. Pillai, pengurus Partai yang juga bekerja untuk pabrik acar dan selai itu, seorang tokoh komunis dengan kompromi. Ia namai anaknya "Lenin", tapi bersikap manis kepada Chako, sang majikan. Ia tetap melanjutkan kontrak mencetak pesanan pabrik. Ia menjauhi Velutha, karena Dalit ini tak disukai pekerja lain.

Velutha memang bukan paria biasa. Ia lulusan sekolah pertukangan yang bersikap sebagai manusia yang semestinya diperhitungkan. Ia yakin komunisme memberinya harapan. Tapi kita tahu akhirnya yang tragis.

Betapapun, ia membekas dalam hidup Ammu sebagai "dewa hal-hal kecil" yang dulu ditemuinya dalam mimpi.

Hal-hal kecil: mainan yang dibuat Velutha untuk Ammu ketika mereka masih kanak-kanak. Hal-hal kecil: harapan yang tak berlebihan di antara mereka berdua. Bukan Hal-Hal Besar, bukan cita-cita perubahan sosial yang gemuruh—yang selamanya tersembunyi di dalam, tak tampak, tak terjangkau.

The God of Small Things, dengan bahasa yang memukau dan cara bercerita yang cekatan, memang menyuarakan kesangsian kepada agenda besar. Sejarah membuktikan "Hal Besar" itu malah berujung patah harapan. Terutama di India, yang tak henti-hentinya dirundung ketimpangan sosial, dikungkung agama, dan dilukai sejarah. Di dalam tubuh masyarakatnya berjibun "macam-macam putus asa yang berebut jadi paling atas".

Bagi novel ini, ada "Dewa Besar yang meraung bagaikan angin panas dan menuntut kepatuhan". Sang Dewa menawarkan, misalnya, Revolusi Semesta dengan program yang serba mencakup. Terasa perkasa, tapi jauh. Sebaliknya "Dewa Kecil" membawa cita-cita sederhana yang praktis. Terbatas dan tak meledak-ledak, cozy and contained, private and limited. Dewa ini bahkan menertawai keberaniannya sendiri.

Dengan kata lain, gagasan Marx, Lenin, dan Mao—yang "meraung bagai angin panas dan menuntut kepatuhan"—tak meyakinkan lagi. Partai-partai komunis memang menuntut pengikutnya setia kepada jalan yang sudah pasti. Tapi apa daya, sejarah penuh tikungan mendadak. Partai Komunis India sendiri akhirnya pecah.

Partai Komunis Kerala, salah satu pecahannya—yang tentu pernah jadi "Dewa Besar"—mengecam keras The God of Small Things. Tapi akhirnya kita tahu: seperti Bung Pillai di pabrik selai, partai ini kini hidup dengan kompromi, bukan semangat revolusi. Di bawah pemerintahan Pinarayi Vijayan, anggota Politbiro PKI, Kerala mengundang kapitalis besar untuk membangun industri dan prasarana yang megah. Times of India menulis: "Kiri pergi ke Kanan."

Dalam novel, Velutha pernah mengibarkan bendera merah. Tapi ia telah tak ada. Dalam kehidupan, partainya berhasil memperbaiki Kerala justru dengan bendera putih.

Seperti di mana-mana, komunisme telah berubah jadi sepatah kata yang tak dimengerti.

Goenawan Mohamad

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru

  • senin, 24 april 2017 | 00:00 WIB

    Ajak

  • senin, 17 april 2017 | 00:00 WIB

    Cedera

  • senin, 10 april 2017 | 00:00 WIB

    Atheisme

  • senin, 03 april 2017 | 00:00 WIB

    Guus

  • senin, 27 maret 2017 | 00:00 WIB

    Burung Tiru

  • senin, 20 maret 2017 | 00:00 WIB

    Bumi-Datar

  • senin, 13 maret 2017 | 00:00 WIB

    Waswas

  • senin, 06 maret 2017 | 00:00 WIB

    Bohong

  • senin, 27 februari 2017 | 00:00 WIB

    Wedhatama

  • senin, 20 februari 2017 | 00:00 WIB

    J