Jumat, 18 Agustus 2017

Ajak

Senin, 24 April 2017

.

Ada sebuah fabel tua berbahasa Arab yang selesai ditulis di pertengahan 1136: kisah seekor ajak cendekia yang mengabdi kepada Singa, sang penguasa. Tapi akhirnya ajak itu pergi, menjauh dari istana....

Dongeng ini disadur dari hikayat Kalīla wa-Dimna, cerita termasyhur dunia hewan, sejumlah alegori yang bermula dari kitab Panchatantra di India. Tak disebut siapa penulisnya, tapi bisa jadi ini gubahan Al-Ghazali, tokoh pemikiran Islam di abad ke-11 yang terkenal itu. Setidaknya jika saya ikuti Frank Griffel dalam Al-Ghazali's Philosophical Theology (2009).

Dalam Al-Asad wa-l-ghawwās, fabel itu, sang Ajak prajurit dalam legiun kerajaan yang menyebut dirinya "sang penyelam", al-ghawwās: ia telah menyelam ke dalam danau ilmu, bukan hanya berenang di arusnya.

Tapi ia tak berambisi mendapatkan posisi di istana. Baginya keilmuan dan kekuasaan politik tak pernah cocok. Penguasa sering dikelilingi penggawa yang saling telikung. Lagi pula sang ilmuwan bisa menyinggung perasaan sang penguasa bila ia berbicara terlalu terus terang.

Ajak lebih tenteram di dalam lingkungannya sendiri.

Tapi pada suatu hari seekor kerbau mengancam komunitasnya. Untuk mendapatkan pelindung, Ajak pun mendekati Raja, menarik perhatiannya dengan ucapan-ucapan yang bijak, hingga ia diterima Baginda di lingkaran terdalam.

Pembesar-pembesar istana cemburu. Mereka pun berkomplot mengedarkan fitnah hingga Baginda percaya. Ajak dilempar ke penjara.

Tapi kemudian sang Singa tahu penasihatnya itu tak bersalah. Ajak pun dibebaskan; nama baiknya dipulihkan. Tapi ketika Baginda ingin mengangkatnya kembali, ia menolak. Ia tinggalkan istana dan hidup di pegunungan. Ia ingin membersihkan diri dari pengalaman yang merusak batinnya selama ini. Ia ingin berbicara kepada sukmanya sendiri.

Dalam otobiografi Al-Ghazali, kita jumpai bagian yang mirip: dari hidup di tengah kekuasaan yang perkasa dan diperebutkan, Al-Ghazali beralih ke dalam 'uzlah, hidup menyendiri.

Syahdan, pada usia belum 40 tahun, Al-Ghazali diangkat jadi Rektor Madrasah Nizhamiyah di Bagdad. Madrasah ini didirikan Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang sangat berkuasa dalam Kesultanan Seljuk masa itu. Pada 1091 itu, penguasa ini bahkan memberinya gelar, antara lain, "Permata Cemerlang Agama", Zayn-ud-din.

Gaya hidupnya tinggi. Ada yang menulis, pakaian dan kendaraannya sampai seharga 500 dinar. Bahkan ada yang mengatakan ulama yang sukses ini angkuh.

Tapi Al-Ghazali punya kejujuran hati. Setelah hanya empat tahun jadi rektor, ia diam-diam meninggalkan kedudukan dan gaya hidup yang gemilang itu. Dalam otobiografinya, Al-Munqidh min al-dalāl, kita baca kegalauan hatinya. "Niatku tak murni, tak condong ke Allah. Jangan-jangan tujuanku hanya kemegahan dan kemasyhuran?"

Enam bulan lamanya ia terombang-ambing. Ia jatuh sakit; suaranya hilang. Tapi akhirnya ia pergi. Selama 11 tahun ia berkunjung dari tempat ke tempat. Ia tertarik ajaran Abu l-Fath Nasr, seorang sufi Palestina yang menolak nafkah dari mengajar, ulama yang cuma makan sepotong roti sehari.

Dari sini agaknya Al-Ghazali bersikap: ia tak mau dibayar para muridnya. Ia tak mau lagi menerima dana kerajaan. Dan di masa ini juga ia bersumpah di makam Nabi Ibrahim di Hebron untuk "tak mendatangi penguasa mana pun, menerima uang dari penguasa, atau terlibat dalam debat (munāzarāt) di depan umum".

Dari fabel Al-Asad wa-l-ghawwās sampai dengan bukunya yang termasyhur, Ihya ulumuddin, tampak pandangan ini: buruk hasilnya bila orang berilmu, ulama, bersimbiosis dengan yang berkuasa.

Ini perubahan dalam pemikiran Al-Ghazali.

Di sekitar tahun 1093, semasa ia dekat dengan Perdana Menteri Nizam al-Mulk, terbit Kitab al-Mustazhiri. Ditulis di tengah pergolakan kekuasaan masa itu, kitab ini praktis pemikiran politik Al-Ghazali.

Kitab al-Mustazhiri menegaskan peran ulama sebagai mediator antara otoritas dan kekuasaan--antara Khalif dan Sultan yang memegang birokrasi dan tentara: ulama jadi aktor politik yang penting. Ironisnya, Kitab al-Mustazhiri ditulis ketika ulama--Al-Ghazali sendiri--bekerja untuk melayani kepentingan kekuasaan; kitab yang dipesan penguasa itu adalah senjata ideologis untuk mengalahkan paham kaum Ismaili. Dan ternyata Al-Ghazali tak punya pengaruh ketika perebutan kekuasaan berlangsung dengan perang dan pembunuhan.

Mungkin sebab itu ia merasa sia-sia. Mustahil ia tak mengakui bahwa di bawah khalifah dan sultan muslim pun tak terjadi "negeri kebajikan", al-madinah al-fadilah, yang dibayangkan Al-Farabi di abad ke-10.

Islam tak punya Machiavelli yang tak berilusi tentang lurusnya moral dalam kekuasaan. Tapi Islam punya pengalaman Al-Ghazali. Tanpa sinisme Machiavelli, ia adalah saksi: ketika agama bertaut dengan politik, agama tak hanya jadi alat. Agama jadi politik: jalan untuk menguasai orang lain.

Dan dasar ethis agama pun hilang. Tak ada lagi pengakuan akan kedaifan manusia. Agama jadi ambisi menaklukkan.

Goenawan Mohamad


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?