Jumat, 22 September 2017

Bendera

Senin, 22 Mei 2017

.

Apa yang membuat pemuda-pemuda Indonesia di Surabaya itu menerobos masuk ke dalam Hotel Yamato yang sedang mengibarkan bendera Belanda, dan naik ke anjung di atas, menurunkan merah-putih-biru yang berkibar di tiang di sana, menyobek warna birunya, lalu mengibarkan warna yang tersisa, merah-putih--dalam suasana tegang beberapa hari sebelum pertempuran 10 November 1945?

Apa arti bendera itu bagi mereka?

Hari itu, di luar hotel, dunia sedang berubah. Warga Surabaya, yang selama bertahun-tahun hanya bisa melihat dari jauh hotel yang eksklusif dengan desain Art Nouveauyang langka itu, kini merasa berdaulat penuh. Sejak dua pekan sebelumnya, awal September, mereka mengibarkan bendera mereka sendiri, merah-putih, hampir di tiap lorong dan lapangan kota. Mereka telah mendengar di Jakarta Proklamasi Kemerdekaan diumumkan: Indonesia sudah tak lagi di bawah kekuasaan Belanda atau Jepang. Tergetar merasa memiliki sebuah negeri sendiri, mereka jadi gumpalan kegembiraan; harapan; keberanian.

Tapi menjelang November itu, kecemasan.

Pada 18 September, di Surabaya tiba sejumlah pejabat militer dan sipil dari Komando Pasukan Sekutu untuk mengurus sisa-sisa pasukan Jepang yang baru saja kalah dalam perang besar di Asia dan Pasifik. Karena pemerintah Hindia Belanda sudah tak ada, delegasi itu tentu harus berhubungan dengan penguasa de facto Surabaya: orang-orang yang memanggil diri "republiken", bagian dari Indonesia yang baru saja merdeka.

Tapi bagi orang-orang Belanda yang baru lepas dari tahanan selama Indonesia diduduki Jepang, sebuah kesempatan terbuka. Mereka tak bisa menerima Indonesia bukan lagi Hindia Belanda. Mereka ingin mempertahankan hak-hak (termasuk hak milik) mereka yang dulu dikukuhkan pemerintah kolonial. Hari itu, mereka bergabung dengan para pejabat Inggris dari Komando Pasukan Sekutu di Hotel Yamato--dan mereka kibarkan Merah-Putih-Biru di atas bangunan berumur 30 tahun yang sebelum diduduki Jepang bernama "Oranje" itu.

Kaum "republiken" marah. Rakyat Surabaya yang bersama mereka berduyun datang ke depan hotel di Jalan Tunjungan itu. Kemudian diceritakan bagaimana sebagian pemuda menyerbu masuk. Sejumlah orang Belanda mencoba melawan, dan perkelahian singkat terjadi. Ada pistol yang meletus dan orang yang luka tertusuk. Pada saat yang sama, dua atau tiga orang pemuda naik ke anjung tempat tiang bendera.

Selanjutnya sejarah sudah mencatatnya: buat pertama kalinya setelah berabad-abad, Merah-Putih-Biru dirobek dengan tepuk sorak--dan sejak itu tak pernah berkibar kembali.

Yang ada hanya Merah-Putih.

Bendera, terutama saat itu, bukan lagi kain dengan desain sederhana. Ia penanda yang tak lagi mengambang. Ia telah dibentuk makna yang penting bagi sebuah gelora dan identitas kolektif. Ia berarti kehormatan, harga diri, perlawanan, dan harapan yang lurus.

Pertempuran besar yang meletus melawan pasukan Sekutu bagian dari gelora itu. Dengan korban dan kebengisan yang meluas. Republik yang baru berumur tiga bulan itu secara acak-acakan menangkis, ketika Sekutu datang dengan 24 ribu tentara, 5 kapal perusak, 24 tank Sherman, 24 pesawat yang di hari pertama saja menjatuhkan 500 bom, untuk "menghukum" para pemuda Indonesia yang telah membunuh Jenderal Mallaby dan melakukan puluhan kekerasan lain. Empat puluh ribu nyawa hilang selama tiga minggu, sampai Surabaya jadi "jinak"--meskipun Merah-Putih tetap bertahan.

Selama bertahun-tahun kemudian, hingga hari ini, orang Indonesia menyanyi, "Berkibarlah benderaku...."

Lagu perjuangan yang terkenal itu menyeru Merah-Putih sebagai "lambang suci gagah perwira". Kain itu tentu saja tak identik dengan yang suci dan gagah berani. Tapi nasionalisme selalu punya sejumlah hiperbol.

Dalam hal ini nasionalisme bisa sejajar dengan agama. Dalam keduanya ada hasrat merawat loyalitas dan pertalian kolektif. Baik nasionalisme maupun agama tak jarang menyusun sejarah yang mendekati dongeng dan riwayat tokoh yang lebih berupa hagiografi yang penuh pujian. Pertempuran Surabaya, misalnya, ditulis seraya melupakan bahwa di sela-sela heroisme untuk tanah air itu banyak kebengisan terhadap mereka yang dianggap tak setia. Sementara itu, baik dalam nasionalisme maupun agama selalu ada orang yang hendak memonopoli percakapan dan menjadikan diri paling murni.

Maka tak jarang nasionalisme dan agama bertaut. Tapi tak jarang bersaing dan bersengketa. Kini, ketika agama hadir dengan daya desak yang kuat, nasionalisme agak terabaikan. Bendera yang dihormati dianggap bendera yang disembah, lambang nasional dianggap berhala orang kafir.

Pada saat yang sama, kita terkadang lupa bahwa menghormati bendera adalah menghormati kenangan tentang pengorbanan tapi juga riwayat yang bisa merisaukan, dan bahwa mencintai tanah air adalah sebuah ekspresi rasa syukur tapi mungkin juga kecemasan. Di Surabaya tahun 1945 dan di mana saja di masa lain.

Goenawan Mohamad