Grup Nazar Setor ke Tamsil dan DPR

Senin, 19 September 2011 | 08:58 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Uang dari Grup Permai milik Muhammad Nazaruddin diduga mengalir kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Yasti Soepredjo Mokoagow dan Tamsil Linrung. Dana sekitar Rp 2,1 miliar itu dikeluarkan Grup Permai pada April lalu.

Berdasarkan salinan daftar dokumen yang disita Komisi Pemberantasan Korupsi dari kantor Grup Permai di Mampang pada 22 April 2011, dana untuk Yasti, politikus Partai Amanat Nasional yang menjadi Ketua Komisi Perhubungan DPR, tertulis sebesar Rp 1,1 miliar. "Keperluan untuk komitmen Ibu Yasti (Ketua Komisi V) Proyek Kemenhub 2011 (5% dari 112 M potong tax Rating School Sorong)," begitu tertulis dalam dokumen tersebut.

Dokumen itu dibundel dengan catatan bukti pengeluaran kas Rp 1,1 miliar untuk pembelian barang buat proyek Kementerian Perhubungan 2011 tertanggal 9 April 2011.

Adapun data yang menyebut Tamsil adalah catatan pengeluaran uang dari Grup Permai terkait dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2011 dan proyek dari APBN Perubahan 2011. "Sudah keluar 15 April 2011," demikian tertulis dalam dokumen itu. Sebelumnya, nama Tamsil juga muncul dalam pengusutan suap Rp 1,5 miliar dalam proyek proyek pembangkit listrik tenaga surya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Hingga tadi malam, petinggi KPK tak bisa dimintai penjelasan perihal kemunculan nama Yasti dan Tamsil. Pengacara Yulianis, Ignatius Supriadi, juga tak bisa dihubungi.

Yasti tak menjawab panggilan telepon. Tempo hanya mendengar nada tunggu dari telepon seluler politikus asal Manado, Sulawesi Utara, ini. Ketua Fraksi PAN Tjatur Sapto Edy tadi malam menyatakan, "Saya tak mau menanggapi kalau (informasi) itu dari dokumen KPK."

Tamsil, Wakil Ketua Badan Anggaran DPR dari Partai Keadilan Sejahtera, juga belum memberikan penjelasan. Sejak Sabtu pekan lalu hingga kemarin, teleponnya tak aktif. Pria asal Makassar, Sulawesi Selatan, ini juga tak bisa ditemui di rumahnya, baik di Perumahan Pondok Maharta, Kecamatan Pondok Aren, Ciledug, Tangerang, Banten, maupun di rumah dinas anggota DPR di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq juga belum bersedia menjelaskan perihal Tamsil. "Nanti saya hubungi lagi," katanya ketika dihubungi.

Ketua Badan Anggaran Melchias Markus Mekeng mengatakan belum pernah mendengar kasus itu. "Saya juga belum pernah dengar Tamsil menerima duit," ucap politikus Partai Golkar ini.

KARTIKA C | EKO AW | MAHARDIKA SH | RINA W | ARIE F | JOBPIE S

Berita terkait:

Ada Ratusan Transaksi Mencurigakan di DPR


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru