Perbaikan Jembatan Cisomang Picu Kepadatan di 4 Gerbang Tol

Selasa, 27 Desember 2016 | 08:44 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Perbaikan Jembatan Cisomang di ruas jalan tol Purbaleunyi, Purwakarta, Jawa Barat, mengakibatkan kepadatan arus lalu lintas di sekitar lokasi dan jalur alternatif. Juru bicara PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), Dwimawan Heru, menyatakan arus lalu lintas naik 10-15 persen di sejumlah gerbang tol pengalihan. “Seperti di gerbang tol Sadang, Jatiluhur, Cikamuning, dan Padalarang," kata dia, saat dihubungi, Senin 26 Desember 2016.

Menurut Heru, lalu lintas kendaraan di sekitar lokasi masih terpantau lancar. Hanya kendaraan golongan I, seperti sedan, jip, mobil pikap atau truk kecil, dan bus yang boleh melintas. Sejak pembatasan kendaraan berlaku pada Jumat, 23 Desember 2016, Jasa Marga mulai memperbaiki jembatan itu. “Kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini,” ucapnya.

Menteri Perhubungan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 41 Tahun 2016 tentang pengaturan kendaraan yang melintasi jembatan cisomang di ruas jalan tol Purwakarta-Bandung- Cileunyi (Purbaleunyi) pada Jumat, 23 Desember 2016.

Juru bicara Kementerian Perhubungan, Bambang Ervan, mengatakan pembatasan kendaraan akan terus dilakukan hingga Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan perbaikan selesai. Arus lalu lintas rute alternatif, seperti jalan nasional dan arteri, turut meningkat akibat pembatasan ini.

Perbaikan jembatan akan berlangsung selama tiga bulan. Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan ikut mengawasi pelaksanaan aktivitas tersebut. Metode yang digunakan adalah bore tail, yakni mengisi fondasi dengan semen dan beton bertulang serta menerapkan grouting. Teknik grouting adalah menyuntikkan campuran semen ke rongga pilar agar rekahan kembali padat.

Ketua Komisi Keamanan Jembatan, Arie Murwanto, mengatakan kerusakan Jembatan Cisomang terjadi karena stabilisasi dasar fondasi tergerus air sungai. Sungai Cisomang, yang berlokasi di daerah curam tersebut, memiliki debit air tinggi dan arus yang deras.

Jembatan Cisomang, yang memiliki enam pilar, sejatinya baru berusia 12 tahun. Komisi menemukan pergerakan dasar fondasi sudah terjadi pada 2012. Namun, saat itu, pergerakan masih bisa ditoleransi sehingga belum dilakukan pembatasan lalu lintas.

Pada pertengahan tahun ini, pergerakan jembatan mencapai 14 sentimeter, sehingga perawatan mulai dilakukan dengan teknik grouting. Karena jembatan itu memiliki tinggi 40 meter, pergerakan kecil saja membuat pilar bagian atas bergeser 57 sentimeter.

Sejak 16 November lalu, Komisi mendapat laporan bahwa pergerakan pilar atas semakin melebar. Komisi kemudian melakukan evaluasi. Karena kondisi jembatan terus rusak, Komisi sepakat membatasi arus lalu lintas. “Jembatan baru membahayakan jika pergerakan mencapai 80 sentimeter,” tutur Arie.

ALI HIDAYAT | DIKO OKTARA | GHOIDA RAHMAH

Berita lainnya:

Makanan Ini Bikin Bodoh
Terduga Teroris Purwakarta Buat Surat Wasiat 4 Alinea

Rizieq Shihab Dipolisikan dengan Tudingan Menistakan Agama

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan